BANYUMASEKSPRES.ID, BANJARNEGARA – Talud saluran air Siwuluh di Desa Ampelsari, Kecamatan Banjarnegara, mengalami kerusakan parah setelah jebol pada 23 Oktober 2025.
Dampak kerusakan ini cukup signifikan, memutus akses jalan antarwilayah sekaligus mengganggu aliran irigasi yang vital bagi pertanian setempat.
Proses perbaikan talud tersebut kini sedang dikebut, dengan target penyelesaian dalam waktu satu setengah bulan sejak dimulai.
Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Banjarnegara, Aji Piluroso, menekankan pentingnya perbaikan ini untuk mengembalikan fungsi irigasi yang sangat dibutuhkan oleh petani lokal.
“Ini masih berproses. Target perbaikan talud saluran air Siwuluh kurang lebih satu setengah bulan. Mudah-mudahan bisa selesai tepat waktu,” ujar Aji pada Selasa (4/11).
Hingga saat ini, pekerjaan telah mencapai sekitar 10 persen dari total rencana.
Fokus utama dari proyek ini adalah pemasangan box culvert atau gorong-gorong dan pembangunan bronjong pengaman tebing guna mencegah longsor susulan.
“Dilakukan pembuatan bronjong untuk pengaman tebing yang rawan longsor,” jelas Aji lebih lanjut.
Perbaikan ini tidak hanya bersifat sementara tetapi juga berkelanjutan untuk memastikan bahwa infrastruktur tersebut dapat bertahan lama dan mendukung kebutuhan irigasi pertanian di kawasan Ampelsari.
Kegagalan fungsi irigasi memiliki implikasi luas bagi sektor pertanian di daerah tersebut.
Tanpa aliran air yang memadai, sebagian besar lahan sawah warga terancam mengalami gagal tanam.
“Saluran air ini vital bagi pertanian. Karena itu kami percepat pengerjaannya supaya bisa segera dimanfaatkan kembali,” papar Aji dengan harapan besar bahwa masyarakat dapat segera menikmati manfaat dari proyek ini begitu selesai nantinya.
Sementara proses perbaikan berlangsung, Aji meminta agar masyarakat setempat bersabar dan memahami situasi yang ada.
Pihaknya bersama tim BPBD dan instansi terkait terus memantau serta mempercepat setiap tahapan pekerjaan untuk memastikan target waktu penyelesaian dapat terpenuhi.
“Kami mohon warga bersabar. Mudah-mudahan pengerjaan bisa cepat selesai dan manfaatnya segera dirasakan masyarakat,” imbuhnya penuh optimisme.
Kerusakan talud saluran air Siwuluh tidak hanya berdampak pada infrastruktur fisik tetapi juga menantang mobilitas penduduk setempat karena akses jalan yang terputus hingga saat ini belum dapat dilalui kendaraan bermotor.
Meskipun tantangan teknis cukup besar, pemerintah daerah tetap optimis bahwa proyek ini akan selesai tepat waktu dan memberikan dampak positif bagi aktivitas pertanian di Ampelsari.
Pemulihan fungsi talud menjadi prioritas utama pemerintah daerah karena perannya yang krusial dalam mendukung sektor pertanian lokal yang menjadi mata pencaharian utama warga Ampelsari.
Diharapkan dalam enam minggu ke depan, talud sudah dapat difungsikan kembali untuk mengalirkan air ke sawah warga sehingga aktivitas pertanian dapat kembali normal dan produktivitas pun meningkat.
Dengan dukungan penuh dari pemerintah daerah serta kesabaran masyarakat, harapannya adalah agar proyek ini berjalan lancar dan memberikan hasil maksimal bagi seluruh pemangku kepentingan.
Seiring dengan kemajuan proyek ini, diharapkan adanya peningkatan koordinasi antara berbagai pihak terkait guna memastikan bahwa setiap tahap pekerjaan dapat diselesaikan sesuai jadwal dan standar kualitas yang telah ditetapkan.
Hal ini penting untuk menghindari keterlambatan dan masalah teknis lainnya yang dapat menghambat proses pemulihan. Optimisme tetap menjadi kunci dalam menghadapi situasi sulit seperti ini.
Dengan kerja keras dan komitmen dari semua pihak yang terlibat, baik dari pemerintah maupun masyarakat, maka upaya pemulihan fungsi talud saluran air Siwuluh diharapkan berjalan sukses dan memberikan dampak positif.
Pemerintah daerah juga perlu mempertimbangkan langkah-langkah preventif ke depannya untuk mengantisipasi potensi bencana serupa agar tidak terulang kembali di masa depan.
Investasi dalam infrastruktur tahan bencana serta pelatihan mitigasi risiko bagi masyarakat lokal merupakan beberapa langkah strategis yang dapat diambil untuk memperkuat ketahanan komunitas terhadap ancaman bencana alam. (jud/dda)
















