BANYUMASEKSPRES.ID, BANJARNEGARA – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Banjarnegara mencatat jumlah kasus Human Immunodeficiency Virus (HIV) pada semester pertama 2026 mengalami penurunan dibandingkan tahun sebelumnya.
Meski demikian, pemerintah daerah mengingatkan bahwa penyebaran HIV masih menjadi perhatian serius karena mayoritas kasus ditemukan pada laki-laki usia produktif dengan faktor risiko hubungan sesama jenis laki-laki atau Laki-laki Seks dengan Laki-laki (LSL).
Berdasarkan data Dinkes Banjarnegara, hingga pertengahan 2026 telah ditemukan 31 kasus HIV.
Angka tersebut lebih rendah dibandingkan sepanjang tahun 2025 yang mencapai 72 kasus.
Penurunan ini dinilai sebagai hasil dari strategi penjangkauan yang semakin efektif terhadap kelompok yang memiliki risiko tinggi tertular HIV.
Katimker Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular (P2PM) Dinkes Banjarnegara, Tri Prapto Kurniawan, mengatakan penurunan jumlah kasus tidak terlepas dari upaya pemerintah dalam memperkuat deteksi dini dan edukasi kepada masyarakat, khususnya kelompok rentan.
“Kalau dibandingkan tahun lalu memang dapat dikatakan menurun. Salah satunya karena penjangkauan yang dilakukan bersama komunitas kini semakin tepat sasaran,” ujarnya.
Untuk meningkatkan efektivitas pencegahan HIV/AIDS, Dinkes Banjarnegara menerapkan strategi mobile visiting atau kunjungan langsung ke lokasi-lokasi yang dianggap memiliki kelompok berisiko tinggi.
Program tersebut dilaksanakan bekerja sama dengan Satpol PP serta berbagai komunitas yang bergerak di bidang pencegahan HIV.
Lokasi yang menjadi sasaran mobile visiting antara lain rumah kos, tempat karaoke, hingga kawasan hiburan malam.
Melalui pendekatan langsung tersebut, petugas dapat memberikan edukasi mengenai HIV, melakukan skrining kesehatan, serta mengajak masyarakat yang berisiko untuk menjalani pemeriksaan secara sukarela.
Menurut Tri, mayoritas penderita HIV yang ditemukan di Banjarnegara merupakan laki-laki usia produktif dari kelompok LSL.
Setelah dinyatakan positif melalui pemeriksaan awal, pasien akan menjalani serangkaian pemeriksaan lanjutan sebelum mendapatkan terapi antiretroviral (ARV).
Namun demikian, banyak pasien memilih menjalani pengobatan di luar Kabupaten Banjarnegara.
Keputusan tersebut umumnya diambil karena mereka ingin menjaga privasi dan menghindari stigma dari lingkungan sekitar.
“Rata-rata memang mereka memilih berobat di tempat lain, karena merasa lebih nyaman dan takut diketahui oleh orang di lingkungan tempat tinggalnya,” jelas Tri.
Dinkes Banjarnegara menegaskan bahwa terapi antiretroviral menjadi langkah penting untuk mengendalikan infeksi HIV.
Pengobatan ini harus dijalani secara rutin sepanjang hidup agar jumlah virus di dalam tubuh dapat ditekan sehingga kualitas hidup penderita tetap terjaga dan risiko penularan kepada orang lain dapat diminimalkan.
Selain menyediakan layanan medis, Dinkes juga memberikan pendampingan psikologis kepada para penyintas HIV.
Dukungan mental dinilai sangat penting karena pasien harus menjalani terapi jangka panjang sekaligus menghadapi tekanan sosial akibat stigma yang masih berkembang di masyarakat.
Sebagai langkah pencegahan, Dinas Kesehatan Banjarnegara juga terus memperkuat program skrining kesehatan bagi calon pengantin.
Pemeriksaan kesehatan kini tidak hanya dilakukan kepada salah satu pihak, tetapi diarahkan kepada kedua calon mempelai.
Melalui skrining tersebut, diharapkan infeksi HIV dapat diketahui lebih awal sehingga penanganan dapat segera dilakukan.
Langkah ini juga bertujuan mencegah penularan kepada pasangan maupun bayi yang akan dilahirkan di kemudian hari.
Dinkes Banjarnegara mengimbau masyarakat untuk tidak takut menjalani tes HIV apabila memiliki faktor risiko atau merasa pernah melakukan aktivitas yang berpotensi menyebabkan penularan.
Pemeriksaan sejak dini memungkinkan penderita memperoleh pengobatan lebih cepat sehingga dapat menjalani kehidupan yang sehat dan produktif.
Pemerintah juga mengajak masyarakat untuk menghilangkan stigma terhadap penyintas HIV/AIDS.
Dukungan keluarga, lingkungan, serta akses layanan kesehatan yang mudah menjadi faktor penting dalam keberhasilan pengobatan sekaligus upaya menekan penyebaran HIV di Kabupaten Banjarnegara. (far/stch/dda)
















