Banyumas Ekspres
Dark ModeLight Mode

Drone dan Rudal Hantam Selat Hormuz, Tiga WNI Belum Diketahui Nasibnya

Tiga WNI Belum Diketahui NasibnyaTiga WNI Belum Diketahui Nasibnya
PARKIR: Kapal tanker yang berlabuh di Oman pada 9 Maret 2026

BANYUMASEKSPRES.ID, UNI EMIRAT ARAB – Dunia maritim kini menjadi arena ketegangan yang tinggi, terutama bagi pelaut yang terjebak di kapal tanker minyak dan kapal kargo di perairan negara-negara Teluk.

Situasi ini semakin memburuk setelah Iran mengeluarkan ancaman untuk menembaki kapal-kapal yang berusaha melintasi Selat Hormuz, sebagai reaksi terhadap serangan yang dilakukan oleh AS-Israel.

Tiga orang Warga Negara Indonesia (WNI) saat ini nasibnya belum diketahui, menambah deretan kekhawatiran yang menghantui para pelaut di kawasan tersebut.

Amir, seorang pelaut asal Pakistan, menggambarkan situasi mencekam yang dialaminya saat berada di atas kapal tanker di Uni Emirat Arab.

“Saya melihat drone dan rudal jelajah Iran terbang rendah,” ungkapnya dengan nada cemas.

Ia juga menambahkan, “Saya juga mendengar suara jet tempur, tapi kami tidak bisa mengidentifikasi milik negara mana.”

Kecemasan Amir semakin meningkat dengan kemungkinan bahwa drone atau rudal yang ditembakkan dapat jatuh tepat mengenai kapal tempat ia bekerja.

Di sisi lain, Hein, seorang pelaut dari Myanmar, melaporkan pengalaman serupa.

“Kami menyaksikan baku tembak hampir setiap hari,” katanya.

Ia mengenang insiden pagi itu ketika dua jet tempur saling menyerang sementara mereka masih menjalankan tugas di atas kapal.

“Tidak ada tempat berlindung khusus di kapal untuk situasi seperti ini, jadi kami hanya bisa berlari masuk ke dalam,” lanjutnya menjelaskan betapa rentannya posisi mereka.

Dalam konteks yang lebih luas, meskipun sulit untuk mendapatkan angka pasti mengenai jumlah pelaut yang terjebak di kapal-kapal yang beroperasi di Timur Tengah, Kapten Anam Chowdhury, ketua Asosiasi Perwira Angkatan Laut Niaga Bangladesh, memperkirakan bahwa jumlah tersebut mencapai sekitar 20.000 orang.

Dari total tersebut, sebagian berada di laut lepas dan beberapa lainnya terjebak di pelabuhan.

Namun demikian, Kapten Chowdhury menjelaskan bahwa sulit untuk menilai mana dari kedua situasi tersebut yang lebih berbahaya.

“Di dalam pelabuhan, orang mungkin berpikir situasinya aman,” jelasnya.

Namun kenyataannya menunjukkan sebaliknya; sudah ada beberapa kapal yang menjadi sasaran serangan saat sedang berlabuh.

Ketidakpastian ini menciptakan suasana tegang bagi para pelaut dan kru kapal lainnya yang harus menghadapi risiko setiap hari.

Lebih jauh lagi, Kapten Chowdhury menyoroti dampak psikologis dari situasi ini terhadap para pelaut.

Banyak dari mereka mengalami trauma akibat serangan tersebut, termasuk insiden ketika ruang mesin terbakar dan memaksa kru untuk segera mengevakuasi kapal-kapal mereka.

Ketegangan mental akibat ancaman serangan terus-menerus ini tidak hanya mempengaruhi produktivitas kerja mereka tetapi juga kesehatan mental mereka secara keseluruhan.

Kehidupan sehari-hari para pelaut kini dikelilingi oleh ketidakpastian dan kecemasan.

Mereka tidak hanya harus menjalani tugas rutin namun juga berhadapan dengan ancaman nyata dari konflik internasional yang berlangsung tanpa henti.

Keberadaan drone dan rudal serta suara jet tempur menjadi hal biasa dalam kehidupan mereka sehari-hari.

Pelaut-pelaut ini sering kali merupakan pahlawan tanpa tanda jasa, bekerja keras untuk memastikan suplai energi dunia tetap berjalan meski dalam kondisi berbahaya sekalipun.

Namun tidak ada cukup perhatian yang diberikan kepada mereka dalam kondisi seperti ini.

Kesulitan mereka sering kali terabaikan oleh masyarakat luas yang tidak merasakan langsung dampak dari ketegangan politik global. (*/stch/dda)

Berita Sebelumnya
720 Perantau Ikuti Mudik Gratis

720 Perantau Ikuti Mudik Gratis ke Banjarnegara, Berangkat dengan 14 Bus dari Jakarta dan Bandung

Berita Selanjutnya
Empat Perpusdes Lolos Program TPBIS

4 Perpustakaan Desa di Purbalingga Dapat Bantuan Komputer dan 500 Buku