BANYUMASEKSPRES.ID, PURBALINGGA – Aksi suporter yang kembali menyalakan flare pasca-laga uji coba antara Persibangga dan Persak Kebumen di Stadion Goentoer Darjono pada Minggu (26/4/2026) menjadi sorotan yang serius.
Insiden tersebut berpotensi merusak peluang klub untuk menjadi tuan rumah dalam kompetisi Liga 4 Nasional tahun 2026.
Hal ini menjadi perhatian utama bagi manajemen, terutama karena saat ini Persibangga tengah diajukan sebagai calon tuan rumah untuk babak 64 besar sekaligus pembukaan kompetisi nasional.
Manajer Persibangga, Uut Triyas Yanuar, menegaskan bahwa penggunaan flare dalam pertandingan resmi dilarang keras dan dapat berakibat pada sanksi dari PSSI.
“Kami telah menyampaikan komitmen kepada PSSI bahwa dalam kompetisi resmi Liga 4 Nasional mendatang tidak akan ada lagi penggunaan flare maupun bentuk pelanggaran lain yang dilarang,” ungkapnya pada Senin (27/4/2026).
Kejadian ini harus dijadikan evaluasi mendalam oleh semua pihak terkait, karena dapat berdampak langsung pada penilaian kelayakan stadion serta penyelenggaraan pertandingan berskala nasional.
Manajemen Persibangga segera menggelar rapat evaluasi bersama panitia pelaksana, pengurus tim, dan perwakilan suporter setelah pertandingan selesai.
Uut menegaskan betapa pentingnya disiplin suporter dalam penilaian kelayakan tuan rumah oleh PSSI pusat maupun PSSI Jawa Tengah.
Lebih lanjut, ia mengingatkan bahwa jika insiden serupa terjadi lagi saat kompetisi resmi berlangsung, bukan hanya klub yang berisiko terkena sanksi. Peluang menjadi tuan rumah juga bisa terancam.
“Kalau semua bisa berjalan bersama, saya yakin Persibangga tidak hanya siap di lapangan, tapi juga siap jadi tuan rumah yang profesional dan membanggakan,” tegasnya dengan penuh keyakinan.
Dalam laga uji coba tersebut, perwakilan dari PSSI pusat dan PSSI Jawa Tengah hadir untuk menilai kesiapan stadion serta penyelenggaraan pertandingan di Purbalingga.
Secara umum, stadion dinilai memenuhi standar yang ditetapkan oleh PSSI. Namun demikian, masih terdapat sejumlah catatan teknis yang harus diperhatikan dan dibenahi, seperti pengelolaan penonton, jalur pemain, serta akses VIP.
Insiden flare ini membawa dampak signifikan bagi reputasi klub dan hubungan mereka dengan komunitas suporter.
Banyak suporter merasa bahwa aksi nyala flare adalah bagian dari ekspresi dukungan mereka terhadap tim kesayangan.
Namun, perlu dipahami bahwa tindakan ini dapat mengancam keselamatan semua orang yang hadir di stadion dan juga merusak citra klub di mata otoritas sepak bola.
Penting bagi seluruh suporter untuk memahami batasan-batasan yang ada dalam dunia sepak bola modern.
Meskipun ada keinginan untuk menunjukkan dukungan secara spektakuler, tindakan-tindakan tertentu seperti menyalakan flare tidak hanya melanggar aturan tetapi juga dapat berkonsekuensi fatal bagi klub itu sendiri.
Dalam konteks ini, edukasi kepada suporter mengenai pentingnya kedisiplinan dan kepatuhan terhadap aturan sangat diperlukan.
Klub-klub sepak bola harus bekerja sama dengan suporter dalam menciptakan atmosfer positif di stadion.
Dengan langkah-langkah proaktif seperti sosialisasi mengenai peraturan yang berlaku dan pentingnya menjaga keselamatan bersama, diharapkan insiden serupa tidak akan terulang.
Uut juga menekankan pentingnya sikap kolaboratif antara manajemen klub dengan suporter agar tujuan bersama untuk menjadikan Persibangga sebagai tuan rumah yang sukses dapat tercapai dengan baik.
Purbalingga sebagai kabupaten yang memiliki potensi besar dalam perkembangan sepak bola sangat butuh dukungan penuh dari masyarakat lokal.
Diharapkan semua elemen dapat bersatu padu demi kemajuan klub dan prestasi tim di pentas nasional.
Dalam hal ini, manajemen Persibangga optimis jika semua pihak terlibat secara aktif dan bertanggung jawab maka peluang untuk menjadi tuan rumah Liga 4 Nasional bisa terwujud.
Situasi seperti ini memang selalu memiliki dua sisi; di satu sisi ada semangat juang para suporter untuk memberikan dukungan terbaik bagi tim kesayangan mereka.
Di sisi lain terdapat tanggung jawab besar untuk menjaga citra positif klub di mata masyarakat luas serta otoritas sepak bola.
Keseimbangan antara kedua aspek ini harus terus dijaga demi kepentingan jangka panjang klub. (tya/stch/dda)
















