BANYUMASEKSPRES.ID, BANJARNEGARA – Inovasi Johan Irawan dalam mengolah singkong menjadi gula cair telah membawa perubahan signifikan bagi komoditas lokal di Desa Punggelan, Kecamatan Punggelan, Kabupaten Banjarnegara.
Selama ini, singkong sering kali dianggap sebagai bahan pangan sederhana yang hanya dijual dalam bentuk mentah tanpa nilai tambah yang berarti.
Namun, dengan kreativitas dan ketekunan, Johan telah mengubah pandangan tersebut dan menempatkan singkong pada jalur yang lebih menjanjikan.
Johan Irawan menggagas ide untuk mengolah singkong menjadi gula cair, dan kini produknya sudah menembus pasar nasional.
Berbeda dengan produk gula pada umumnya, gula singkong cair yang dihasilkan oleh Johan tidak hanya digunakan untuk konsumsi rumah tangga, tetapi juga telah beralih fungsi menjadi bahan baku industri, khususnya dalam pembuatan sirup.
Permintaan untuk produk ini datang dari berbagai daerah di Indonesia, mulai dari Kalimantan Timur hingga Riau, Lampung, Jawa Timur, Daerah Istimewa Yogyakarta serta sejumlah wilayah di Jawa Tengah.
Dalam perbincangannya pada Senin (27/4/2026), Johan mengungkapkan bahwa permintaan tertinggi untuk gula singkong cairnya berasal dari Kalimantan Timur, khususnya wilayah Tenggarong.
“Pesanan paling banyak dari sana. Digunakan untuk bahan produk sirup,” ujarnya.
Hal ini menunjukkan betapa besar potensi pasar gula singkong cair yang dijajakan oleh Johan.
Untuk memenuhi kebutuhan pasar yang terus meningkat tersebut, Johan mampu memproduksi antara 3 hingga 4 ton gula cair setiap bulan.
Proses produksi dilakukan secara bertahap dan disesuaikan dengan permintaan dari konsumen.
Meskipun terlihat sederhana, proses pembuatan gula cair ini sebenarnya melibatkan tahapan yang cukup kompleks dan memerlukan ketelitian.
Proses pengolahan dimulai dengan tahapan liquifikasi, di mana pati singkong diubah menjadi bentuk cair.
Setelah itu dilanjutkan dengan tahap sakarifikasi yang bertujuan memecah pati menjadi gula, terutama fruktosa.
Hasil akhir dari proses ini adalah gula cair yang memiliki karakteristik berbeda dibandingkan dengan gula biasa.
Salah satu keunggulan utama dari gula singkong cair adalah tingkat kemanisannya yang lebih tinggi tanpa mengubah aroma maupun rasa asli makanan atau minuman yang dicampurkannya.
“Lebih manis, tapi tidak merusak cita rasa. Jadi tetap aman untuk berbagai olahan,” jelasnya.
Keunggulan inilah yang membuat produk gula singkong cair mulai menarik perhatian pelaku industri makanan dan minuman.
Dengan semakin berkembangnya tren penggunaan bahan-bahan alami dalam industri kuliner saat ini, permintaan akan produk seperti yang diciptakan oleh Johan semakin meningkat.
“Sekarang banyak yang cari alternatif pemanis yang lebih alami. Ini jadi salah satu pilihan,” ungkap Johan saat menjelaskan alasan di balik meningkatnya ketertarikan terhadap produk inovatifnya.
Gula singkong cair ini tidak hanya menawarkan rasa manis tetapi juga kandungan kalori yang lebih rendah dibandingkan dengan pemanis buatan lainnya.
Usaha Johan Irawan dalam mengolah singkong menjadi gula cair mencerminkan perubahan paradigma terhadap nilai komoditas lokal yang selama ini dianggap remeh.
Jika sebelumnya petani hanya menjual singkong sebagai bahan mentah dengan harga terbatas, kini produk tersebut dapat diolah menjadi barang bernilai tinggi melalui inovasi dan kreativitas.
Melalui usaha ini, Johan berharap dapat memberikan kontribusi positif bagi pertumbuhan ekonomi masyarakat sekitar serta meningkatkan taraf hidup petani singkong di sekitarnya.
Dengan memperluas jangkauan pasar hingga ke skala nasional, ia menunjukkan bahwa komoditas lokal dapat memiliki nilai tambah jika diolah dengan cara yang tepat dan inovatif. (jud/stch/dda)
















