BANYUMASEKSPRES.ID, BANJARNEGARA – Jalan yang membelah hamparan sawah di Desa Kutayasa, Kecamatan Bawang, kini menjadi daya tarik baru bagi masyarakat setempat.
Setiap akhir pekan, ruas jalan yang menghubungkan Desa Winong hingga Kutawuluh ini dipadati oleh pengunjung yang datang untuk menikmati udara pagi yang segar sambil berjalan santai.
Selain itu, mereka juga berburu kuliner lokal dan hasil pertanian segar yang ditawarkan oleh penduduk desa.
Fenomena yang berkembang secara alami ini telah dimanfaatkan oleh warga setempat sebagai kawasan car free day (CFD) sederhana.
Keberadaan jalan beraspal mulus yang dikelilingi panorama persawahan di kanan dan kiri memberikan suasana berbeda dibandingkan dengan ruang publik di perkotaan.
Dalam beberapa pekan terakhir, ramainya pengunjung tidak hanya memberikan keindahan visual, tetapi juga mendatangkan berkah bagi pelaku usaha kecil.
Deretan lapak Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) dan Kelompok Wanita Tani (KWT) menawarkan beragam makanan, minuman, serta hasil panen segar seperti jagung manis dan sayuran.
Anggota DPRD Banjarnegara, Djarkasi, memandang antusiasme masyarakat terhadap fenomena ini sebagai peluang besar untuk menggerakkan ekonomi desa.
Dia mengungkapkan rasa syukur atas sambutan positif warga, “Alhamdulillah antusias masyarakat luar biasa karena pemandangannya sangat indah. Warga bisa menikmati udara pagi, jalan santai sekaligus mencicipi kuliner. Setelah jalan selesai diaspal, kawasan ini semakin ramai,” ujarnya dalam sebuah wawancara pada Minggu (28/6/2026).
Djarkasi menambahkan bahwa geliat ekonomi mulai terasa dengan jelas karena masyarakat tidak hanya datang untuk berolahraga tetapi juga berbelanja produk lokal.
“Ini tentu berdampak pada peningkatan ekonomi UMKM. Hasil bumi juga bisa langsung dipasarkan di sini, mulai dari jagung manis hingga berbagai sayuran segar,” lanjutnya.
Kepala Desa Kutayasa, Lismadi, menjelaskan bahwa kawasan tersebut sebenarnya tidak pernah dirancang secara khusus sebagai lokasi CFD.
Keramaian yang terjadi justru muncul secara spontan karena sejak lama jalan tersebut telah menjadi jalur favorit bagi warga untuk berjalan kaki.
“Sekitar tiga minggu terakhir semakin ramai dan masyarakat kemudian memanfaatkannya untuk berjualan. Bisa dibilang ini anugerah yang dimanfaatkan bersama,” ungkap Lismadi.
Sementara itu, Camat Bawang Ahmad Kudasi mengungkapkan kebanggaannya melihat bagaimana kawasan persawahan itu berubah menjadi ruang publik yang ramai dikunjungi masyarakat.
“Ini mampu mengangkat UMKM. Tadi saya melihat banyak pedagang, mulai dari penjual soto, gorengan, jus hingga hasil pertanian. Pagi-pagi sudah ramai pembeli dan tentu berdampak pada kesejahteraan masyarakat,” katanya penuh semangat.
Ahmad juga menekankan pentingnya penataan infrastruktur agar kawasan tersebut semakin nyaman bagi pengunjung.
Dia menyebutkan beberapa pekerjaan rumah yang perlu segera dibenahi demi kenyamanan bersama.
Penataan area parkir dan penyediaan tempat sampah menjadi prioritas utama mengingat masih ditemukan sampah yang dibuang sembarangan ke saluran irigasi.
Keberadaan CFD ini bukan hanya sekadar ajang olahraga atau rekreasi bagi warga setempat tetapi juga dapat dilihat sebagai bentuk kolaborasi antara masyarakat dan alam sekitar.
Dengan adanya kegiatan ini, para petani lokal memiliki kesempatan lebih besar untuk memasarkan hasil panen mereka secara langsung kepada konsumen tanpa perantara. (jud/stch/dda)














