BANYUMASEKSPRES.ID, BANYUMAS – Dalam upaya memperkuat daya saing ekspor gula semut, Pemerintah Kabupaten Banyumas telah mengajukan usulan untuk pembangunan laboratorium pengujian gula semut dengan nilai sekitar Rp8 miliar.
Usulan ini mendapatkan respons positif dari pemerintah pusat, yang siap mencari skema pendanaan agar fasilitas yang sangat dibutuhkan ini dapat segera terwujud.
Bupati Banyumas, Sadewo Tri Lastiono, menegaskan bahwa keberadaan laboratorium tersebut menjadi kebutuhan mendesak, mengingat Banyumas adalah salah satu sentra utama produksi gula semut di dunia.
Selama ini, kabupaten ini belum memiliki laboratorium yang mampu melakukan pengujian kandungan gula rafinasi, yang merupakan syarat penting untuk mendapatkan sertifikasi organik.
“Sekitar 90 persen kebutuhan gula semut dunia dipasok dari Indonesia, dan sekitar 80 persennya berasal dari Banyumas. Pusat produksinya ada di Cilongok,” ungkapnya saat acara Launching Pilot Project Ekosistem Pemberdayaan Masyarakat Terintegrasi Berbasis Kawasan Ekspor di Desa Cilongok pada hari Kamis (25/6).
Sadewo menambahkan bahwa ketidakadaan laboratorium lokal membuat proses pengujian sampel gula semut harus dilakukan di luar negeri.
Hal ini berakibat pada tingginya biaya sertifikasi, yang mencapai sekitar Rp2,5 juta untuk setiap sampel.
“Kalau Banyumas memiliki laboratorium sendiri, kita bisa melakukan pengujian sekitar 10 hingga 20 sampel setiap hari,” jelasnya.
Jawa Tengah sendiri memiliki sekitar 30 perusahaan eksportir gula kelapa yang memasarkan produk mereka ke 56 negara di seluruh dunia.
Menurut Sadewo, keberadaan laboratorium tidak hanya akan meningkatkan daya saing ekspor produk gula semut dari Banyumas, tetapi juga berpotensi menjadi sumber Pendapatan Asli Daerah (PAD).
Dengan adanya fasilitas ini, para pelaku usaha akan lebih mudah dalam mengakses sertifikasi yang diperlukan untuk memperluas pasar mereka.
Menanggapi usulan vital ini, Menteri Koordinator Bidang Pemberdayaan Masyarakat Muhaimin Iskandar atau akrab disapa Cak Imin menilai bahwa pembangunan laboratorium senilai Rp8 miliar merupakan investasi yang sangat layak.
Ia menekankan bahwa manfaat dari pembangunan laboratorium ini akan dirasakan langsung oleh para eksportir serta pelaku Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) di sektor gula semut.
“Pemerintah akan berupaya mencarikan skema pendanaan yang memungkinkan agar kebutuhan tersebut bisa segera direalisasikan,” ucapnya.
Cak Imin juga menegaskan pentingnya hilirisasi komoditas kelapa sebagai upaya untuk meningkatkan nilai tambah sekaligus menekan angka kemiskinan di daerah tersebut.
Ia percaya bahwa kolaborasi antara pemerintah, pelaku usaha, dan masyarakat merupakan kunci sukses agar potensi besar gula semut dari Banyumas dapat memberikan manfaat lebih luas bagi kesejahteraan masyarakat setempat.
Pembangunan laboratorium pengujian gula semut di Banyumas tidak hanya sekadar langkah strategis untuk memenuhi kebutuhan lokal, tetapi juga merupakan respons terhadap permintaan global yang terus meningkat terhadap produk organik berkualitas tinggi.
Dengan 90 persen pasokan gula semut dunia berasal dari Indonesia dan sebagian besar dari Banyumas, keberadaan laboratorium ini akan mendukung para petani dan pelaku industri dalam memenuhi standar kualitas internasional. (*/stch/dda)














