BANYUMASEKSPRES.ID, BANJARNEGARA – Proses Seleksi Penerimaan Murid Baru (SPMB) untuk tingkat Sekolah Menengah Pertama (SMP) di Kabupaten Banjarnegara yang dimulai pada 22 Juni ini, masih menghadapi berbagai masalah klasik yang belakangan kembali mencuat.
Meskipun pendaftaran telah berjalan hampir satu minggu, sejumlah sekolah menengah pertama di Banjarnegara justru mengalami kekurangan jumlah pendaftar.
Hal ini menjadi tantangan serius bagi pihak terkait dalam memastikan bahwa setiap lulusan Sekolah Dasar mendapatkan kesempatan untuk melanjutkan pendidikan mereka ke jenjang berikutnya.
Doko Harwanto, Kepala Bidang SMP Dinas Pendidikan dan Olahraga (Dindikpora) Banjarnegara, menjelaskan bahwa fenomena tersebut terjadi di beberapa wilayah, terutama di sekolah-sekolah yang terletak di daerah pinggiran atau lokasi yang dinilai kurang strategis.
“Sejauh ini memang ada beberapa sekolah yang jumlah pendaftarnya masih sedikit. Penyebabnya bermacam-macam. Pertama karena jumlah lulusan SD tahun ini menurun sehingga berpengaruh pada calon pendaftar SMP,” ungkap Doko.
Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa tren orang tua yang memilih agar anak-anak mereka melanjutkan pendidikan ke pondok pesantren di luar daerah juga berkontribusi pada penurunan jumlah pendaftar di beberapa sekolah.
Selain itu, persepsi masyarakat yang masih menganggap adanya sekolah favorit juga berimbas pada ketidakmerataan pendaftar.
Banyak orang tua lebih tertarik mendaftarkan anak-anak mereka ke sekolah-sekolah tertentu yang dianggap populer, sementara sekolah lain mengalami kekurangan peminat.
“Ini tentu menjadi persoalan bersama. Banyak orang tua masih mengejar sekolah yang dianggap favorit, sehingga peminat menumpuk di satu sekolah, sedangkan sekolah lain masih kekurangan pendaftar,” tambah Doko dengan nada prihatin.
Hal ini menunjukkan bahwa pemahaman masyarakat tentang pendidikan dan pilihan sekolah masih perlu ditingkatkan agar distribusi pendaftar dapat berjalan lebih merata.
Berdasarkan data sementara per Jumat (26/6/2026) pukul 15.00, Kecamatan Wanayasa tercatat sebagai kecamatan dengan jumlah pendaftar terendah, yaitu hanya 166 pendaftar yang tersebar di empat sekolah berbeda.
Dari keempat institusi tersebut, SMPN 3 Wanayasa menjadi yang paling rendah dalam hal jumlah pendaftar dengan hanya 38 siswa terdaftar.
Kondisi serupa juga terjadi di beberapa wilayah lain seperti Kecamatan Pandanarum yang mengalami penurunan signifikan dalam jumlah pendaftar.
Di Kecamatan Pagentan, meskipun SMP Negeri 1 dan SMP Negeri 3 mengalami penurunan peminat, menariknya SMP Negeri 4 justru mendapatkan antusiasme lebih dari calon siswa dengan jumlah pendaftar melebihi kuota yang tersedia.
“Ini artinya memang persebaran pendaftar belum merata,” tegas Doko.
Menanggapi situasi ini, Dindikpora Banjarnegara berupaya untuk memastikan semua lulusan SD dapat melanjutkan pendidikan mereka tanpa terhambat oleh masalah kuota dan ketidakmerataan pendaftaran.
Setelah pengumuman hasil SPMB pada tanggal 1 Juli mendatang, pihaknya tidak akan langsung menutup pendaftaran untuk sekolah-sekolah yang kuotanya belum terpenuhi.
“Sekolah yang kuotanya sudah penuh memang akan ditutup. Tetapi sekolah yang masih kekurangan murid tetap kami beri kesempatan menerima siswa yang belum tertampung di sekolah pilihannya,” ungkapnya.
Pihaknya berkomitmen untuk melakukan pemetaan terkait distribusi siswa dengan cara mengidentifikasi mana saja sekolah yang memiliki kelebihan pendaftar dan mana saja yang masih memerlukan siswa baru.
Langkah-langkah ini bertujuan untuk memastikan bahwa distribusi peserta didik bisa lebih merata dan tidak ada lulusan SD yang tertinggal dalam mengejar pendidikan lanjutan mereka.
Jika sampai menjelang pengumuman hasil SPMB masih ada siswa yang belum mendapatkan tempat di sekolah manapun, maka pihak Dindikpora akan mengarahkan mereka ke sekolah-sekolah lain yang masih membuka pendaftaran.
“Dengan demikian kami berharap seluruh lulusan SD tetap dapat tertampung di SMP yang masih memiliki daya tampung,” pungkas Doko menekankan pentingnya kolaborasi antara orang tua dan lembaga pendidikan dalam menciptakan kesetaraan peluang pendidikan bagi semua anak.
Kondisi saat ini mencerminkan tantangan besar dalam sistem pendidikan di Kabupaten Banjarnegara.
Meskipun terdapat upaya dari pemerintah daerah melalui Dindikpora, permasalahan ketidakmerataan distribusi pendaftar harus menjadi perhatian semua pihak termasuk masyarakat umum untuk lebih memahami pentingnya memilih sekolah berdasarkan kualitas pendidikan daripada sekadar reputasi atau popularitas semata.
Dengan adanya langkah-langkah konkret dari pihak dinas serta partisipasi aktif dari orang tua dan masyarakat, harapannya adalah setiap anak memiliki kesempatan setara untuk mendapatkan pendidikan berkualitas tanpa terkendala oleh faktor-faktor eksternal seperti lokasi atau persepsi sosial tentang sekolah tertentu. (far/stch/dda)














