BANYUMASEKSPRES.ID, PURBALINGGA – Seorang lansia berinisial SK, yang berusia 77 tahun dan merupakan warga Desa Pekiringan di Kecamatan Karangmoncol, ditemukan meninggal dunia di pinggir jalan setapak di wilayah Desa Makam, Kecamatan Rembang pada hari Sabtu, 27 Juni 2026.
Penemuan jenazah ini mengundang perhatian dan duka bagi masyarakat setempat, terutama mengingat kondisi korban yang telah lanjut usia.
Hasil pemeriksaan dari pihak kepolisian dan tim medis menunjukkan bahwa tidak ada tanda-tanda kekerasan atau penganiayaan pada tubuh korban, yang menandakan bahwa kematiannya tidak disebabkan oleh tindak kriminal.
Korban pertama kali ditemukan oleh dua warga setempat, yaitu Limiyanto (46) dan Yudi Purnomo (65), yang kebetulan melintas di lokasi tersebut.
Menyadari adanya jenazah di pinggir jalan, keduanya segera melaporkan penemuan tersebut kepada kepala dusun setempat.
Laporan ini kemudian diteruskan ke Polsek Rembang untuk ditindaklanjuti. Kapolsek Rembang, Iptu Warsono, mengungkapkan bahwa laporan penemuan jenazah diterima sekitar pukul 05.15 WIB.
“Penemuan mayat dilaporkan sekitar pukul 05.15 WIB oleh Perangkat Desa Makam ke Polsek Rembang,” katanya dengan nada serius.
Setelah menerima laporan tersebut, petugas dari Polsek Rembang bersama Tim Inafis Polres Purbalingga dan tenaga medis dari Puskesmas Rembang secepatnya mendatangi lokasi kejadian untuk melakukan olah tempat kejadian perkara serta pemeriksaan jenazah.
Dalam proses identifikasi, diketahui bahwa korban adalah SK (77), warga asli Desa Pekiringan yang sering terlihat berjalan-jalan di sekitar desanya.
Hasil pemeriksaan dokter juga memastikan bahwa tidak ditemukan tanda penganiayaan maupun kekerasan pada tubuh korban.
“Kematiannya diperkirakan terjadi dini hari tadi, sekitar 3–4 jam sebelum ditemukan,” tambah Iptu Warsono menjelaskan tentang waktu kematian korban yang cukup misterius ini.
Setelah proses pemeriksaan selesai dilakukan, jenazah SK kemudian diserahkan kepada pihak keluarga untuk dimakamkan dengan cara yang layak dan bermartabat.
Keluarga korban memutuskan untuk tidak melakukan autopsi terhadap jasad SK, sebuah keputusan yang mungkin mencerminkan keinginan mereka untuk menghormati sang lansia dengan cara yang lebih sederhana dan cepat.
Dari keterangan kakak sepupu korban, Gondo Susanto (51), terungkap bahwa SK belakangan sering mengalami kondisi linglung akibat faktor usia yang semakin lanjut.
Hal ini menjadi salah satu indikasi mengapa korban bisa tersesat hingga akhirnya ditemukan di wilayah Kecamatan Rembang.
Gondo menjelaskan bahwa SK terkadang berjalan tanpa arah yang jelas, sesuatu yang mungkin telah terjadi sebelumnya namun tidak pernah berujung pada situasi berbahaya seperti ini.
Kehilangan sosok lansia seperti SK tentunya meninggalkan duka mendalam bagi keluarga dan masyarakat setempat.
Kontribusi dan kebijaksanaan seorang lansia sering kali menjadi bagian penting dalam kehidupan sehari-hari komunitas mereka.
Keberadaan mereka memberi warna tersendiri dalam hubungan antarwarga serta tradisi lokal yang berkembang.
Pihak kepolisian kini masih melakukan penyelidikan terkait peristiwa ini meskipun hasil awal menunjukkan bahwa tidak ada tindakan kriminal yang terlibat dalam kematian SK.
Masyarakat pun diimbau untuk tetap waspada terhadap keselamatan lansia di lingkungan sekitar mereka agar kejadian serupa tidak terulang kembali di masa depan.
Dalam beberapa kasus sebelumnya, banyak lansia mengalami kesulitan saat berada jauh dari rumah atau lingkungan familiar mereka.
Oleh karena itu, penting bagi keluarga dan tetangga untuk memperhatikan keberadaan para lansia, terutama ketika mereka mengalami masalah kesehatan atau kondisi mental yang dapat memengaruhi kemampuan mereka untuk beraktivitas secara mandiri.
Kejadian ini juga menjadi pengingat bagi masyarakat akan pentingnya menjaga komunikasi dan saling peduli terhadap sesama warga, khususnya kepada orang-orang lanjut usia yang rentan.
Dengan adanya perhatian dari komunitas, diharapkan risiko kehilangan atau terpencarnya para lansia dapat diminimalisir. (tya/stch/dda)














