BANYUMASEKSPRES.ID, PURBALINGGA – Di Purbalingga, program SPELING (Spesialis Keliling) yang diselenggarakan oleh Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk, dan Keluarga Berencana (DinkesPPKB) telah menemukan angka yang mengejutkan terkait gangguan kesehatan pada anak-anak.
Dalam kegiatan yang berlangsung di Balai Desa Sangkanayu pada Selasa, 24 Juni 2025, tim medis berhasil memeriksa total 60 anak dari dua desa yaitu Desa Campakoah dan Desa Sangkanayu.
Hasilnya, sebanyak 46 anak dinyatakan dalam kondisi abnormal, yang mana sepuluh di antaranya harus dirujuk ke fasilitas kesehatan untuk mendapatkan penanganan lebih lanjut.
Kegiatan SPELING ini melibatkan tenaga medis profesional, termasuk dokter spesialis kandungan (Obgyn), spesialis anak, dan spesialis penyakit dalam.
Pelayanan yang diberikan sangat beragam dan mencakup konsultasi serta pemeriksaan kesehatan spesialistik untuk masyarakat di kedua desa tersebut.
Adapun jenis pemeriksaan yang dilakukan meliputi skrining Tuberkulosis (TB) menggunakan TCM, rontgen, tes Mantoux, serta deteksi dini kanker serviks melalui IVA test dan pemeriksaan payudara.
Selain itu, pemeriksaan gula darah dan hipertensi juga menjadi bagian dari program ini.
Hasil dari pemeriksaan menunjukkan bahwa sebagian besar warga memperoleh hasil normal dalam skrining IVA test, pemeriksaan payudara, serta kesehatan jiwa.
Namun demikian, temuan mengenai kesehatan anak-anak dan kasus hipertensi di kalangan orang dewasa menjadi perhatian utama bagi tim medis.
Di Desa Campakoah sendiri, dari 25 anak yang diperiksa, 21 anak dinyatakan abnormal dan empat di antaranya harus dirujuk untuk mendapatkan penanganan lebih lanjut.
Sementara itu, di Desa Sangkanayu, dari 35 anak yang diuji, sebanyak 25 anak juga dinyatakan abnormal dengan enam anak perlu dirujuk untuk mendapatkan perawatan lebih intensif.
Retno Indriasari selaku Penanggung Jawab Program SPELING DinkesPPKB Purbalingga menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari komitmen pemerintah daerah dalam mendekatkan layanan kesehatan rujukan kepada masyarakat desa.
“Antusiasme masyarakat dari Desa Campakoah dan Sangkanayu sangat luar biasa,” ujar Retno pada Jumat, 26 Juni 2026.
“Melalui kolaborasi dengan RSU Harapan Ibu, kami ingin memastikan bahwa masyarakat desa tidak perlu jauh-jauh ke rumah sakit di kota untuk bisa berkonsultasi dan mendapatkan pemeriksaan dari dokter spesialis.”
Pentingnya deteksi dini dalam menjaga kesehatan anak menjadi sorotan utama Retno.
Ia menegaskan bahwa tingginya angka gangguan kesehatan pada anak menjadi alarm bagi pemerintah daerah untuk memperkuat upaya deteksi dini serta penanganan medis.
“Tingginya temuan pada anak-anak di kedua desa ini tentu menjadi alarm sekaligus perhatian serius bagi kami,” tambahnya.
“Kami langsung memfasilitasi proses rujukan agar anak-anak tersebut segera mendapatkan penanganan dan terapi medis lanjutan yang lebih intensif.”
Selain masalah kesehatan pada anak-anak, program SPELING juga menemukan tingginya kasus hipertensi di kalangan warga dewasa.
Dalam catatan pemeriksaan tersebut terdapat 12 warga Desa Campakoah dan 15 warga Desa Sangkanayu yang memiliki tekanan darah berada di atas ambang normal.
Penemuan ini tentu menjadi perhatian serius bagi tim medis dan pemerintah setempat dalam upaya meningkatkan kesadaran akan pentingnya menjaga tekanan darah dalam rentang normal.
Pelaksanaan program SPELING didukung penuh oleh Camat Mrebet beserta unsur Forkopimcam lainnya.
Begitu pula dengan kehadiran PLKB serta tim medis dari Puskesmas Serayu Larangan dan RSU Harapan Ibu turut memberikan kontribusi positif terhadap keberhasilan kegiatan ini.
“Sinergitas dari semua pihak yang hadir hari ini adalah kunci suksesnya SPELING,” ungkap Retno.
Ia mengharapkan agar derajat kesehatan masyarakat baik di Sangkanayu maupun Campakoah terus membaik berkat deteksi dini yang telah dilakukan melalui program ini.
Program SPELING bukan hanya sekadar kegiatan pemeriksaan kesehatan biasa tetapi juga merupakan upaya nyata dalam meningkatkan kualitas hidup masyarakat desa yang mungkin selama ini kurang terjangkau layanan kesehatan spesialistik.
Dengan adanya inisiatif seperti ini, harapan untuk mengurangi angka gangguan kesehatan pada anak-anak serta meningkatkan kesadaran akan pentingnya menjaga kesehatan secara keseluruhan semakin terbuka lebar. (alw/stch/dda)
















