BANYUMASEKSPRES.ID, BANJARNEGARA – Penanganan bencana mengalami berbagai perkembangan yang signifikan, memperluas fokus tidak hanya pada kecepatan evakuasi korban, tetapi juga pada pengumpulan data yang akurat pascabencana.
Data ini menjadi dasar penting bagi pemerintah dalam menentukan jenis bantuan yang diperlukan, serta kebutuhan anggaran dan langkah-langkah pemulihan yang tepat.
Dalam rangka mendukung hal tersebut, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Banjarnegara telah melaksanakan pelatihan bagi puluhan personel Tim Reaksi Cepat (TRC) tingkat kecamatan, dengan tujuan agar mereka mampu melakukan pengkajian kebutuhan pascabencana secara mandiri dan terukur.
Pelatihan Pengkajian Kebutuhan Pascabencana (Jitupasna) dilangsungkan selama tiga hari, dari Selasa hingga Kamis (23-25/6/2026), bertempat di Aula Sasana Abdi Praja Setda Banjarnegara.
Sebanyak 40 personel TRC yang berasal dari 20 kecamatan di Banjarnegara berpartisipasi dalam pelatihan ini.
Kepala Pelaksana BPBD Banjarnegara, Aji Piluroso, menjelaskan bahwa pengkajian pascabencana merupakan tahapan krusial yang akan menentukan arah rehabilitasi dan rekonstruksi setelah bencana terjadi.
“Jitupasna merupakan salah satu tahapan strategis. Melalui pengkajian yang tepat, kita dapat mengetahui secara riil apa saja yang dibutuhkan oleh warga terdampak untuk bangkit,” ungkap Aji Piluroso pada Kamis (25/6/2026).
Menurut Aji, Banjarnegara memiliki topografi berbukit dengan tingkat kerawanan terhadap beberapa bencana seperti longsor, banjir, pergerakan tanah, hingga kekeringan.
Oleh karena itu, sangatlah penting bagi petugas tidak hanya sigap saat tanggap darurat, tetapi juga mampu menyusun data kerusakan secara cepat dan akurat.
Data hasil dari Jitupasna nantinya akan menjadi dasar penyusunan dokumen Rencana Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pascabencana (R3P).
Dokumen ini merupakan syarat penting dalam pengajuan bantuan rehabilitasi dan rekonstruksi kepada pemerintah pusat.
Selama pelatihan berlangsung, peserta mendapatkan materi dari pakar kebencanaan Dr Zela Septikasari dari CV Lentera Energy.
Materi yang diberikan mencakup berbagai tahapan penanganan bencana, perubahan metode penilaian dari Damage and Loss Assessment (DaLA) menjadi Jitupasna, serta teknik untuk menghitung tingkat kerusakan dan kebutuhan di lapangan.
Pelatihan ini tidak hanya dilakukan di dalam ruang kelas, tetapi juga melibatkan praktik lapangan.
Peserta dibagi ke dalam empat kelompok berdasarkan karakteristik bencana yang sering terjadi di Banjarnegara: banjir, banjir bandang, erupsi gunung api, dan kekeringan.
Setiap kelompok diminta untuk menyusun simulasi penilaian kebutuhan pascabencana dan mempresentasikan hasilnya sebelum dibekali instrumen Asesmen Awal Rehabilitasi dan Rekonstruksi (A2R2).
Pada hari terakhir pelatihan, seluruh peserta diterjunkan ke Kecamatan Pandanarum untuk melakukan praktik lapangan.
Simulasi ini dirancang agar personel TRC dapat mengidentifikasi kerusakan secara langsung, menghitung kerugian yang dialami masyarakat akibat bencana tersebut, serta menyusun rekomendasi kebutuhan masyarakat di lokasi bencana.
Hal ini bertujuan untuk memberikan pengalaman nyata kepada para peserta dalam menangani situasi darurat pascabencana secara efektif.
Keberadaan Tim Reaksi Cepat yang terlatih dengan baik sangat penting untuk meningkatkan ketahanan masyarakat terhadap bencana di Banjarnegara.
Dengan pelatihan ini, diharapkan para personel TRC dapat lebih siap dalam menghadapi situasi darurat dan memberikan respons yang cepat dan tepat guna membantu masyarakat terdampak. (jud/stch/dda)
















