BANYUMASEKSPRES.ID, BANJARNEGARA – Di Desa Twelagiri, Kecamatan Pagedongan, Kabupaten Banjarnegara, warga setempat menunjukkan semangat gotong royong yang tinggi dengan melakukan perbaikan jalan penghubung antarwilayah melalui skema swadaya.
Inisiatif ini muncul dari kesadaran akan pentingnya akses jalan yang nyaman dan aman untuk menunjang mobilitas sehari-hari.
Jalur jalan yang diperbaiki selama ini menjadi rute alternatif yang sangat vital bagi masyarakat untuk menuju pusat aktivitas di wilayah sekitar.
Salah satu warga yang aktif terlibat dalam inisiatif ini, Manaf Musriyanto, menjelaskan bahwa pengumpulan dana dilakukan secara sukarela dengan melibatkan seluruh lapisan masyarakat.
Besaran partisipasi ditentukan berdasarkan kemampuan masing-masing warga, di mana pemilik mobil menyumbang sebesar Rp 500 ribu, pemilik sepeda motor Rp 100 ribu, dan bagi mereka yang tidak memiliki kendaraan diminta berkontribusi Rp 50 ribu.
“Ini murni swadaya masyarakat,” tegas Manaf.
Hingga saat ini, dari puluhan warga yang berpartisipasi, dana yang terkumpul mencapai Rp 50 juta dari total target sebesar Rp 100 juta.
Warga pengelola masih membuka kesempatan bagi masyarakat lain untuk turut serta dalam program perbaikan ini hingga target yang ditetapkan tercapai.
Kontribusi ini mencerminkan solidaritas dan kepedulian warga terhadap infrastruktur yang sangat penting bagi kelancaran aktivitas sehari-hari.
Dana yang terkumpul akan digunakan untuk pengaspalan jalan sepanjang kurang lebih 100 meter dengan lebar sekitar 4 meter.
Saat ini, proses awal perbaikan telah dimulai dengan pengerukan menggunakan alat berat.
Pengerukan dilakukan guna memperbaiki kontur jalan agar lebih landai dan aman untuk dilalui oleh kendaraan.
“Sekarang kami lakukan pengerukan dulu supaya nanti jalannya tidak terlalu menanjak,” jelas Manaf.
Kondisi jalan sebelum perbaikan memang sudah lama dirasakan kurang nyaman untuk dilalui.
Jalur tersebut menjadi akses penting bagi warga untuk mempercepat perjalanan menuju pusat kota.
Manaf menjelaskan bahwa jika menggunakan jalur ini, waktu tempuh ke kota hanya sekitar 15 menit, sementara jika harus memutar bisa memakan waktu sekitar 30 menit lebih.
“Jadi ini memang jalur yang cukup penting bagi warga,” tuturnya.
Langkah swadaya ini bukan hanya sekadar perbaikan fisik jalan semata, tetapi juga merupakan bentuk kebersamaan dan kepedulian warga dalam menjaga serta memperbaiki fasilitas lingkungan secara mandiri.
Di tengah tantangan infrastruktur yang sering dihadapi oleh daerah pedesaan seperti Desa Twelagiri, semangat gotong royong menjadi kunci utama dalam mengatasi masalah tersebut.
Manaf berharap proses perbaikan dapat segera selesai agar aktivitas masyarakat kembali lancar tanpa kendala.
Dengan adanya akses jalan yang lebih baik, diharapkan akan mendorong perekonomian lokal serta meningkatkan kualitas hidup masyarakat setempat. (far/stch/dda)
















