BANYUMASEKSPRES.ID, PURWOKERTO – Kawasan Perdesaan Windujaya, Kalisalak, Baseh, dan Melung, yang dikenal dengan nama Wikabalung, telah berhasil menunjukkan bukti nyata dari kekuatan kolaborasi antardesa dalam upaya membangun kawasan wisata yang berbasis pada potensi lokal.
Model pengembangan ini mendapat perhatian dan apresiasi dari Wakil Ketua DPRD Jawa Tengah, Setya Ari Nugroho.
Menurutnya, inisiatif ini tidak hanya mampu memperkuat perekonomian masyarakat, tetapi juga melestarikan warisan budaya yang ada di daerah tersebut.
Apresiasi ini disampaikan oleh Setya Ari setelah penyelenggaraan acara Gebyar Wikabalung 2026 yang berlangsung dari 14 hingga 28 Juni 2026.
Kegiatan bertema “Sinergi Wisata, Budaya, dan Ekonomi” ini melibatkan empat desa di Kecamatan Kedungbanteng, yaitu Windujaya, Melung, Kalisalak, dan Baseh.
Dalam pandangan Setya Ari, Wikabalung adalah contoh nyata bagaimana desa dapat merancang masa depan wilayahnya dengan mengandalkan inovasi serta semangat kebersamaan dalam pengelolaan potensi lokal secara terpadu.
Kegiatan ini tidak hanya berfungsi sebagai ajang promosi wisata, tetapi juga memainkan peran penting dalam memperkuat ekonomi masyarakat serta menjaga kelestarian budaya setempat.
“Wikabalung adalah gagasan yang cerdas, orisinal, dan lahir dari semangat kebersamaan untuk memajukan daerah serta wilayahnya. Tidak banyak daerah yang mampu menyatukan berbagai potensi lintas desa menjadi sebuah gerakan pembangunan kawasan seperti yang dilakukan di Wikabalung,” ungkap Setya Ari dengan penuh keyakinan.
Keberhasilan kolaborasi ini lahir dari kesadaran masyarakat serta pemerintah desa dalam mengenali kekayaan wilayah mereka masing-masing.
Potensi alam yang indah, budaya yang masih terjaga dengan baik, kuliner khas yang menggugah selera, sektor pertanian yang produktif, pelaku Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) yang kreatif, serta kehidupan sosial yang harmonis menjadi modal besar untuk membangun kesejahteraan bersama.
“Kesadaran terhadap potensi daerah yang dimiliki oleh keempat desa ini adalah sesuatu yang luar biasa. Alam yang indah, budaya yang masih terjaga dengan baik, kuliner khas yang menggugah selera, sektor pertanian yang produktif, UMKM yang inovatif hingga kehidupan sosial masyarakat merupakan modal besar untuk membangun kesejahteraan bersama,” tambahnya.
Salah satu inovasi menarik dalam Gebyar Wikabalung 2026 adalah peluncuran Wikabalung Adventure.
Ini merupakan paket wisata jeep yang menghubungkan destinasi unggulan di keempat desa tersebut.
Wisatawan tidak hanya dapat menikmati panorama alam yang menakjubkan tetapi juga berkesempatan untuk mengenal lebih dekat budaya lokal dan berinteraksi langsung dengan aktivitas ekonomi masyarakat setempat.
Menurut Setya Ari, inovasi ini membuktikan bahwa keterbatasan geografis bukanlah penghalang untuk berkembang.
Namun demikian, ia juga mengingatkan bahwa pengembangan kawasan masih memerlukan dukungan infrastruktur dan konektivitas yang lebih baik agar tujuan tersebut dapat tercapai secara optimal.
“Tantangan terbesar bagi kawasan seperti ini memang terletak pada aspek infrastruktur dan konektivitas. Jalan akses menuju destinasi wisata serta sarana pendukung lainnya masih memerlukan perhatian khusus serta intervensi dari pemerintah agar pengembangan kawasan dapat berjalan lebih efektif,” jelasnya.
Meskipun demikian, ia menilai bahwa kondisi geografis di sekitar kawasan tersebut justru dapat memicu kreativitas masyarakat setempat.
Contoh nyata adalah wisata jeep yang dirancang untuk menjelajahi alam sambil menghubungkan empat desa tersebut.
“Kondisi wilayah yang relatif sulit justru memunculkan ide-ide luar biasa. Wisata jeep yang menyusuri alam dan menghubungkan empat desa menjadi contoh bagaimana masyarakat mampu mengubah tantangan menjadi peluang ekonomi baru. Ini merupakan bentuk inovasi yang patut diapresiasi dan dikembangkan lebih lanjut,” tambahnya.
Setya Ari juga menekankan pentingnya pembangunan kawasan perdesaan didukung oleh sumber daya manusia (SDM) yang berkualitas serta semangat kolaborasi tanpa ego kewilayahan atau kepentingan pribadi.
Ia menilai model kolaboratif seperti Wikabalung layak dijadikan teladan bagi desa-desa lain di Jawa Tengah.
“Wikabalung membuktikan bahwa pembangunan desa tidak harus dilakukan secara terpisah-pisah. Kolaborasi merupakan kunci keberhasilan. Ketika potensi alam, budaya, ekonomi, serta sumber daya manusia disatukan dalam satu gerakan bersama maka desa akan memiliki daya saing kuat dan mampu menciptakan kesejahteraan bagi masyarakatnya,” tegasnya.
Gebyar Wikabalung 2026 digelar secara bergilir di keempat desa tersebut dan menampilkan berbagai aspek wisata serta produk unggulan masing-masing daerah.
Rangkaian kegiatan dalam acara ini meliputi bazar UMKM lokal, peluncuran paket wisata Wikabalung Adventure, tradisi bersih desa sebagai bentuk penghormatan terhadap lingkungan hidup serta pertunjukan seni dan budaya setempat.
Selain itu terdapat juga promosi kopi lokal hingga berbagai atraksi budaya lain yang melibatkan partisipasi aktif masyarakat.
“Wikabalung adalah bukti bahwa desa memiliki kekuatan besar untuk maju ketika mampu membaca potensinya sendiri dan membangun kerja sama yang kokoh. Tugas pemerintah adalah hadir memperkuat inisiatif-inisiatif tersebut melalui dukungan kebijakan strategis serta pengembangan infrastruktur dan sumber daya manusia,” pungkas Setya Ari sebagai penutup pernyataannya.
Dengan upaya-upaya seperti ini diharapkan bahwa kawasan perdesaan tidak hanya menjadi tempat tinggal tetapi juga bisa menjadi pusat kegiatan ekonomi kreatif dengan memahami potensi lokal sehingga mampu memberikan dampak positif bagi seluruh lapisan masyarakat. (ads/stch/dda)














