BANYUMASEKSPRES.ID, BANJARNEGARA – Jalur utama menuju Dusun Tembolan, yang terletak di Desa Plorengan, Kecamatan Kalibening, mengalami kerusakan parah setelah jembatan penghubung ambrol pada Sabtu (2/5/2026) pukul 17.10.
Kejadian ini memaksa warga untuk mengambil jalur alternatif yang tidak hanya lebih jauh, tetapi juga memiliki risiko tinggi.
Kepala Desa Plorengan, Risno, menjelaskan bahwa kondisi jembatan sebenarnya sudah lama menjadi perhatian masyarakat.
Struktur penyangga jembatan yang terbuat dari beton mengalami pengikisan serius akibat curah hujan yang tinggi dalam beberapa hari terakhir.
“Pengikisan sudah cukup parah. Saat kejadian memang cuaca cerah, tapi jembatan sudah tidak kuat menahan beban dan akhirnya runtuh,” kata Risno saat diwawancarai pada Senin (4/5/2026).
Ketiadaan jembatan tersebut sangat berdampak bagi akses vital warga antar dusun. Meskipun terdapat jalur lain, kondisinya sangat tidak layak untuk dilalui.
“Alternatifnya ada, tapi berupa jalan makadam yang terjal dan ekstrem. Kendaraan roda empat sulit lewat,” tambah Risno menjelaskan tantangan yang harus dihadapi oleh warganya.
Jalan alternatif tersebut tidak hanya menyulitkan transportasi barang, tetapi juga berbahaya bagi para pengendara.
Dalam upaya mencari solusi sementara, warga bersama relawan telah mengusulkan pembangunan jembatan darurat menggunakan bahan-bahan sederhana seperti bambu, kayu, dan papan.
“Kami berharap ada bantuan segera untuk jembatan darurat, sambil menunggu perbaikan permanen,” kata Risno mengekspresikan harapannya akan dukungan dari pihak terkait.
Dampak dari ambruknya jembatan ini sangat nyata terasa dalam kehidupan sehari-hari warga Dusun Tembolan.
Suyatno (45), salah satu warga setempat, mengungkapkan betapa sulitnya situasi saat ini. Kini ia harus menempuh jalur lebih jauh dan berbahaya terutama ketika membawa hasil panen ke pasar.
“Biasanya lewat jembatan itu ke pasar atau ladang. Sekarang harus muter, jalannya rusak dan berisiko,” ungkap Suyatno dengan nada penuh kekhawatiran.
Tidak hanya akses ekonomi yang terdampak. Akses pendidikan bagi anak-anak di desa ini juga turut terpengaruh.
Para siswa kini harus melalui jalur yang kurang aman untuk berangkat ke sekolah.
“Kami khawatir kalau dibiarkan lama, aktivitas warga makin terganggu. Anak-anak juga kesulitan,” tambah Suyatno mengungkapkan rasa cemasnya terhadap masa depan pendidikan anak-anak mereka.
Tim gabungan yang terdiri dari pihak kecamatan, pemerintah desa, kepolisian, TNI, serta relawan lokal telah turun tangan ke lokasi untuk melakukan asesmen situasi sekaligus menutup jalur jembatan guna mencegah adanya korban lebih lanjut akibat ambrolnya jembatan tersebut.
Peristiwa ambrolnya jembatan ini bukanlah insiden pertama dalam sejarah infrastruktur di daerah tersebut.
Dalam beberapa tahun terakhir, banyak jembatan di wilayah Banyumas dan sekitarnya mengalami kerusakan serupa karena kurangnya pemeliharaan serta dampak perubahan iklim yang menyebabkan intensitas hujan meningkat secara drastis.
Hal ini menunjukkan bahwa perencanaan infrastruktur yang lebih baik harus menjadi prioritas bagi pemerintah daerah agar kejadian serupa tidak terulang di masa depan.
Risno menegaskan pentingnya perhatian dari instansi terkait untuk segera merespons keadaan darurat ini agar kehidupan masyarakat dapat kembali normal secepat mungkin.
Ia berharap pemerintah dapat memberikan solusi konkret dalam bentuk pembangunan kembali jembatan yang lebih kuat dan tahan lama demi kesejahteraan warga. (jud/stch/dda)
















