BANYUMASEKSPRES.ID, Fenomena penggunaan kecerdasan buatan dalam dunia pendidikan tinggi semakin masif pada 2026 sehingga kampus wacanakan ujian lisan lagi sebagai respons atas dampak AI terhadap sistem penilaian akademik yang dinilai semakin sulit membedakan kemampuan asli mahasiswa.
Maraknya pemanfaatan artificial intelligence atau AI dalam mengerjakan tugas, kuis, hingga ujian akhir mendorong banyak perguruan tinggi mengevaluasi ulang metode evaluasi yang selama ini digunakan dalam proses pembelajaran.
Survei Inside Higher Ed-College Pulse menunjukkan sekitar 85 persen mahasiswa di Amerika Serikat telah menggunakan AI untuk membantu tugas kuliah mereka, mulai dari diskusi kelas hingga menyelesaikan pekerjaan tertulis secara langsung.
Lonjakan penggunaan teknologi ini tidak lepas dari perubahan pola belajar sejak pandemi COVID-19 yang mempercepat adopsi pembelajaran jarak jauh dan sistem ujian take home berbasis digital.
Kemunculan OpenAI dengan produk populernya ChatGPT pada 2022 menjadi titik balik besar yang mengguncang sistem penilaian konvensional di berbagai kampus dunia.
Mahasiswa kini dapat dengan mudah menyerahkan esai, laporan, bahkan tugas pemrograman kepada platform AI, sehingga memunculkan fenomena yang dikenal sebagai cognitive offloading atau pelimpahan sebagian proses berpikir kepada teknologi.
Praktik ini menimbulkan kekhawatiran karena kampus kesulitan memastikan apakah tugas yang dikumpulkan benar-benar mencerminkan pemahaman dan kemampuan analitis mahasiswa secara autentik.
Kampus Mulai Desain Ulang Sistem Evaluasi
Sebagian perguruan tinggi mulai memikirkan ulang desain penilaian agar lebih tahan terhadap penggunaan AI, termasuk dengan menghidupkan kembali metode ujian lisan yang sebelumnya jarang digunakan dalam kelas besar.
Dalam survei yang sama, sekitar 30 persen institusi pendidikan tinggi menyatakan perlu merancang ulang sistem evaluasi agar lebih fokus pada proses penalaran, bukan sekadar hasil akhir berupa teks yang terlihat rapi dan sistematis.
Pendekatan yang mulai diterapkan meliputi kombinasi ujian tulis tangan berbasis buku, presentasi lisan, serta evaluasi langsung tanpa perangkat digital untuk mengurangi ketergantungan pada teknologi.
Penelitian tahun 2025 oleh penerbit akademis Taylor & Francis juga menyarankan agar pendidik diberikan kewenangan institusional untuk merancang sistem evaluasi mereka sendiri dalam menghadapi tantangan penilaian berbasis AI.
Langkah tersebut menunjukkan bahwa sistem penilaian mahasiswa kini tengah ditinjau ulang secara mendasar seiring perubahan praktik pendidikan di era kecerdasan buatan.
Ujian Lisan Dinilai Lebih Relevan
Ujian lisan dinilai sebagai salah satu metode paling efektif untuk mengukur pemahaman mahasiswa secara langsung karena menuntut mereka menjelaskan konsep, mempertahankan argumen, serta mensintesis materi tanpa bantuan perangkat digital.
Metode ini dapat diterapkan secara tatap muka maupun daring dengan pengawasan ketat, sehingga ruang bagi mahasiswa untuk bergantung pada AI menjadi jauh lebih terbatas.
Bagi dosen, ujian lisan memungkinkan penilaian yang lebih mendalam terhadap cara berpikir dan alur logika mahasiswa dibanding sekadar membaca jawaban tertulis yang belum tentu sepenuhnya orisinal.
Selain itu, pendekatan ini dinilai mampu mengurangi ketergantungan pada perangkat pendeteksi AI yang sering kali tidak akurat dan justru menambah beban administratif pengajar.
Hubungan antara dosen dan mahasiswa juga dapat menjadi lebih konstruktif karena proses evaluasi berlangsung dialogis, bukan konfrontatif seperti ketika dugaan pelanggaran akademik muncul setelah tugas dikumpulkan.
Tantangan dan Alternatif Lain
Meski demikian, ujian lisan bukan tanpa tantangan karena pelaksanaannya membutuhkan waktu lebih lama, sulit diterapkan pada kelas dengan jumlah mahasiswa besar, dan menambah beban kerja dosen di tengah keterbatasan sumber daya.
Karena itu, banyak akademisi menilai ujian lisan sebaiknya menjadi bagian dari kombinasi strategi penilaian, bukan menggantikan sepenuhnya metode konvensional yang sudah berjalan lama.
Sebagian dosen kembali menerapkan ujian tulis tangan di dalam kelas dengan buku khusus dan pengawasan langsung untuk memastikan mahasiswa benar-benar mengerjakan soal secara mandiri.
Ada pula pengajar yang merancang ulang tugas berbasis proses, seperti pengumpulan draf bertahap, anotasi, serta sesi pemecahan masalah langsung yang menuntut mahasiswa menunjukkan cara berpikir mereka secara transparan.
Dalam beberapa kasus, penilaian melalui presentasi, praktikum, dan kerja kolaboratif dengan pengawasan terbukti lebih efektif dalam menekan penggunaan alat AI secara berlebihan.
Menariknya, sebagian mahasiswa justru lebih menerima model ujian lisan karena merasa memiliki kesempatan lebih besar untuk menjelaskan pemahaman mereka secara langsung dibanding hanya dinilai dari lembar jawaban tertulis.
Meskipun langkah ini tidak sepenuhnya membuat sistem pendidikan kebal terhadap perkembangan AI, perubahan pendekatan tersebut mendorong perguruan tinggi untuk lebih jelas dalam merumuskan tujuan pembelajaran di era digital yang terus berkembang.(amp)
















