BANYUMASEKSPRES.ID, BANYUMAS – Proyek pembangunan balai pertemuan di Kampung Nopia, Desa Pekunden, Kecamatan Banyumas menghadapi berbagai tantangan di tahap awal.
Salah satu masalah utama yang muncul adalah kebutuhan tanah urug yang lebih besar dari perkiraan awal.
Situasi ini menyebabkan proses persiapan lokasi belum sepenuhnya selesai sesuai dengan rencana yang telah ditetapkan.
Ketua Wisata Kampung Nopia, Agus Silo, menjelaskan bahwa estimasi awal yang dilakukan mengenai jumlah material untuk proyek tersebut ternyata meleset cukup jauh dari realita di lapangan.
“Awalnya kami memperkirakan membutuhkan 20 dump truk tanah urug, namun setelah evaluasi lebih lanjut, ternyata masih kurang,” ungkap Agus pada Minggu (19/4).
Ia menambahkan bahwa kebutuhan aktual untuk urug lokasi mencapai 28 dump truk, sehingga saat ini masih ada kekurangan sebanyak enam dump truk lagi.
Keterlambatan ini tentunya mempengaruhi timeline pembangunan yang telah direncanakan sebelumnya.
Selama 74 tahun lamanya, Kampung Nopia, yang terletak di wilayah RT 3 RW 4 Desa Pekunden, belum memiliki balai pertemuan.
Hal ini menjadi pendorong bagi warga untuk melakukan pembangunan fasilitas tersebut secara mandiri dengan sistem gotong royong.
Kesepakatan di antara warga menetapkan bahwa pembangunan akan dimulai pada akhir April melalui kerja bakti bersama.
Pada tahap awal, fokus utama adalah pembuatan pondasi gedung sebagai dasar bangunan.
Keterlibatan aktif warga dalam proses pembangunan mencerminkan komitmen kolektif mereka untuk mewujudkan fasilitas yang telah lama diimpikan oleh komunitas setempat.
Semangat gotong royong ini diharapkan mampu mempercepat realisasi proyek meskipun harus menghadapi keterbatasan material dan waktu.
“Target dalam waktu satu bulan gedung pertemuan sudah jadi walaupun belum sempurna tapi minimal bisa ditempati,” tambah Agus optimis.
Target tersebut menjadi acuan penting agar fasilitas baru ini segera dapat dimanfaatkan oleh seluruh warga Kampung Nopia.
Pengelola Wisata Kampung Nopia menargetkan bahwa pada bulan Juni mendatang, mereka sudah bisa menempati balai pertemuan baru yang sangat dibutuhkan tersebut.
Pentingnya pencapaian ini semakin mendesak mengingat masa sewa tempat yang saat ini digunakan oleh warga akan berakhir pada bulan Juli.
Balai pertemuan yang sedang dibangun tidak hanya akan berfungsi sebagai pusat aktivitas komunitas setempat tetapi juga akan difungsikan sebagai basecamp wisata.
Fasilitas ini juga direncanakan sebagai lokasi edukasi untuk pengunjung mengenai pembuatan kuliner tradisional nopia, sebuah makanan khas daerah tersebut.
Ini adalah langkah strategis untuk mengembangkan potensi wisata di Kampung Nopia sekaligus memperkenalkan budaya lokal kepada masyarakat luas.
Warga setempat sangat antusias dengan adanya proyek pembangunan ini karena mereka merasa bahwa keberadaan balai pertemuan akan memberikan banyak manfaat.
Selain sebagai tempat berkumpul dan beraktivitas, balai tersebut juga diyakini dapat meningkatkan daya tarik wisatawan ke daerah itu dan mendorong pelestarian budaya lokal.
Agus Silo menegaskan pentingnya partisipasi aktif dari setiap anggota komunitas dalam proyek ini.
Ia menyatakan bahwa keberhasilan pembangunan tidak hanya bergantung pada material dan dana tetapi juga pada semangat kebersamaan dan kolaborasi antarwarga.
“Kami percaya bahwa jika semua orang bersatu dan bekerja sama, maka semua tantangan pasti bisa teratasi,” ujarnya.
Dengan pendekatan gotong royong ini, warga Kampung Nopia berharap dapat menyelesaikan proyek balai pertemuan dalam waktu singkat. (fij/stch/dda)
















