Banyumas Ekspres
Dark ModeLight Mode

Kisah Heru Santosa: Tukang Bubur Asal Banjarnegara yang Naik Haji Usai Menabung 13 Tahun

13 Tahun Menabung dari Gerobak Bubur Demi ke Baitullah13 Tahun Menabung dari Gerobak Bubur Demi ke Baitullah
TUKANG BUBUR NAIK HAJI: Perjalanan 13 Tahun Pak Heru Mengejar Baitullah, Banjarnegara

BANYUMASEKSPRES.ID, BANJARNEGARA – Langit Banjarnegara masih pekat saat Heru Santosa beranjak dari tempat tidur, bersiap untuk menjalani rutinitas harian.

Udara pagi yang dingin seolah menjadi saksi betapa tekun dan sabarnya Heru dalam mengejar mimpi.

Dengan langkah pelan, ia mendorong gerobak biru yang catnya mulai pudar, melintasi jalanan sepi yang belum banyak terjamah oleh warganya yang masih terlelap.

Di atas gerobaknya, sebuah panci besar berisi bubur kacang hijau hangat mengeluarkan aroma santan dan jahe yang khas, menjadi magnet bagi siapa pun yang lewat.

Rutinitas ini bukan sekadar pekerjaan bagi Heru, tetapi merupakan bagian dari perjalanan panjangnya menuju impian besar—pergi ke Tanah Suci.

Heru dikenal sebagai pedagang bubur sederhana di sudut Kota Banjarnegara. Ia menjajakan bubur dengan harga sekitar Rp8.000 per porsi untuk memenuhi kebutuhan keluarganya.

Namun di balik kesederhanaan itu, ada sebuah cita-cita yang bersemayam dalam hati Heru selama lebih dari satu dekade: keinginan untuk menunaikan ibadah haji.

Mimpinya ini mulai ia tanamkan pada tahun 2012, ketika kehidupan sehari-harinya berjalan seperti biasa.

Pendapatannya pas-pasan, cukup untuk kebutuhan sehari-hari dengan variasi ketidakpastian—kadang dagangannya laku keras, kadang juga sepi pembeli.

“Yang memanggil ke Tanah Suci itu Allah. Saya hanya berusaha dan menabung sedikit demi sedikit,” ungkap Heru dengan penuh harapan.

Niat tersebut ia pelihara dengan sabar dan tekun meski tidak seorang pun menyadari perjuangannya.

Dari setiap porsi bubur yang terjual, ia menyisihkan uang seikhlasnya. Tak besar jumlahnya, terkadang hanya Rp5.000 atau Rp10.000 saja; jika dagangan sedang ramai, mungkin bisa lebih banyak. Namun, ketika pembeli sepi, tidak ada uang yang bisa ditabung.

Recehan demi recehan itu awalnya ia masukkan ke dalam kaleng biskuit bekas di rumahnya—sebuah simbol perjalanan panjangnya menjemput mimpi suci ini.

Ia menyadari bahwa tidak ada jalan pintas menuju Baitullah bagi orang seperti dirinya; sebagai pedagang bubur keliling, penghasilannya jauh dari mencukupi untuk biaya haji yang terbilang mahal.

Meskipun banyak orang meragukan mimpinya dan menganggap cita-citanya terlalu tinggi untuk seorang pedagang biasa, Heru memilih untuk tidak menggubris kata-kata skeptis tersebut.

Ia lebih memilih untuk terus berjualan tanpa lelah setiap hari, bangun sebelum subuh dan mendorong gerobaknya menyusuri jalanan Banjarnegara sambil terus menyisihkan sebagian kecil rezekinya untuk tabungan haji.

“Tabungan haji bukan soal seberapa besar uang yang berhasil dikumpulkan, melainkan tentang menjaga niat agar tidak padam,” tegasnya menunjukkan komitmennya terhadap impian tersebut.

Tahun demi tahun berlalu dalam kesabaran dan ketekunan tanpa terasa; kaleng tabungannya bahkan beberapa kali harus diganti karena berkarat akibat lama ditinggalkan.

Di samping itu, gerobaknya juga pernah mengalami kerusakan sehingga perlu diperbaiki.

Kebutuhan keluarga yang datang tanpa rencana sering kali menggoyahkan niatnya untuk menabung; ada masa-masa ketika uang tabungan hampir terpakai untuk kebutuhan mendesak dan mendesak lainnya.

Namun Heru tetap bertahan dengan keyakinan bahwa semua usaha dan doa akan membuahkan hasil.

“Saya tidak pernah menghitung kapan bisa berangkat ke Tanah Suci,” jelasnya mantap.

“Yang penting adalah terus berusaha dan berdoa.”

Waktu berlalu begitu cepat hingga tiga belas tahun telah berlalu sejak ia pertama kali menyimpan recehan demi mimpi besarnya.

Akhirnya, kabar yang selama ini hanya hidup dalam doanya benar-benar datang mengetuk pintunya suatu hari ketika telepon genggamnya berbunyi nyaring.

Petugas dari kantor urusan haji mengabarkan bahwa namanya telah masuk dalam daftar calon jemaah haji asal Banjarnegara yang akan diberangkatkan pada musim haji 2026 mendatang.

Heru terdiam mendengar kabar luar biasa tersebut—ia seolah sulit mempercayai kenyataan bahwa setelah bertahun-tahun menabung dari hasil menjual bubur kacang hijau ini, penantian panjang akhirnya menemukan jawabannya.

“Saya sampai tidak percaya. Rasanya seperti mimpi yang akhirnya menjadi kenyataan,” ujarnya sambil menahan haru dengan mata berkaca-kaca.

Malam itu, bersama istrinya, Heru kembali membuka lembaran perjalanan panjang yang telah mereka lalui bersama; mereka mengenang masa-masa sulit ketika hanya mampu menyisihkan beberapa ribu rupiah demi impian suci itu dan juga masa-masa ketika harus bertahan di tengah kebutuhan hidup yang datang silih berganti tanpa kenal jeda.

Dari sebuah kaleng biskuit bekas itulah mimpi itu kini benar-benar membawanya menuju Tanah Suci. Tahun ini, Heru dijadwalkan berangkat bersama Kloter 72 asal Banjarnegara; sementara waktu gerobak birunya—teman setia mencari nafkah—dititipkan kepada keluarganya demi fokus pada perjalanan spiritual ini.

Meski terlihat biasa bagi orang lain dengan cat yang mulai kusam serta roda yang terkadang mengeluarkan suara decitan saat melintas di jalanan berbatu, bagi Heru gerobak inilah saksi bisu perjuangan panjangnya selama 13 tahun terakhir ini.

Dari gerobak itulah ia belajar bahwa mimpi besar tidak selalu lahir dari kehidupan serba berkecukupan; kadangkala mimpi tumbuh dari trotoar pinggir jalan di bawah cahaya fajar.

Dari semangkuk bubur kacang hijau hangat yang dijual setiap pagi hingga recehan kecil yang disisihkan perlahan-lahan sembari memanjatkan doa-doa tulus setiap selesai salat—kisah Heru Santosa merupakan teladan tentang kesabaran dan ketekunan dalam mengejar mimpi meskipun tantangan menghadang.

Ia membuktikan bahwa perjalanan menuju Baitullah tidak selalu dimulai dari kemewahan atau keberuntungan melimpah; ada langkah-langkah kecil nan berarti yang dijaga dengan sabar selama bertahun-tahun hingga akhirnya seseorang berdiri di depan Ka’bah dengan penuh rasa syukur dan harapan baru. (jud/stch/dda)

Berita Sebelumnya
Jarang Tampil Bareng

Jarang Muncul Bersama, Kondisi Rumah Tangga Audi Marissa dan Anthony Xie Diterpa Isu Retak

Berita Selanjutnya
Bansos PKH BPNT

Bansos PKH BPNT Juni 2026 Sudah Cair? Begini Cara Cek Status Pakai NIK KTP