BANYUMASEKSPRES.ID, BANJARNEGARA – Dalam upaya meningkatkan pengelolaan sampah dari sumbernya, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Banjarnegara mengambil langkah inovatif dengan meluncurkan gerakan pembuatan satu juta Lubang Resapan Biopori (LRB).
Inisiatif ini dicanangkan bersamaan dengan peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia yang jatuh pada tahun 2026.
Kegiatan pencanangan ini ditandai dengan pembuatan lubang biopori secara simbolis yang dilakukan di kawasan Alun-alun Banjarnegara pada hari Jumat, tanggal 5 Juni 2026.
Kepala Dinas Perumahan, Kawasan Permukiman, dan Lingkungan Hidup (DPKPLH) Banjarnegara, Herrina Indri Hastuti, menjelaskan bahwa mayoritas sampah yang masuk ke Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) saat ini adalah sampah organik.
Menurutnya, sekitar 70 persen dari total volume sampah yang dibuang ke TPA terdiri dari sampah organik yang sebenarnya dapat dikelola langsung di tingkat rumah tangga.
“Sekira 70 persen sampah yang masuk ke TPA adalah sampah organik. Karena itu, penyelesaiannya harus dimulai dari sumbernya. Salah satu caranya melalui biopori,” ungkap Herrina.
Lubang biopori memiliki fungsi ganda yang sangat penting. Tidak hanya berperan sebagai tempat pengolahan sampah organik, tetapi juga berkontribusi dalam meningkatkan daya resap tanah terhadap air hujan.
Ini berarti bahwa keberadaan biopori dapat membantu mengurangi genangan air sekaligus memperbaiki kualitas lingkungan secara keseluruhan.
Program ini dirancang tidak hanya untuk masyarakat umum, tetapi juga melibatkan instansi pemerintah, sekolah-sekolah, dan berbagai institusi pendidikan lainnya.
Setiap instansi yang terlibat nantinya akan didorong untuk membuat lubang biopori sesuai dengan luas lahan yang tersedia serta volume sampah organik yang mereka hasilkan.
“Harapannya pengelolaan sampah tidak lagi sepenuhnya bergantung pada TPA. Masyarakat bisa mengolah sampah organiknya sendiri menjadi kompos yang bermanfaat,” jelasnya lebih lanjut.
Sebagai langkah awal dalam program ini, sebanyak 20 lubang biopori telah disiapkan di kawasan Alun-alun Banjarnegara.
Penempatan lubang-lubang ini disesuaikan dengan kondisi lapangan agar tetap aman dan tidak mengganggu aktivitas masyarakat di sekitarnya.
Pemkab menargetkan agar gerakan pembuatan lubang biopori ini dapat berkembang hingga tingkat rumah tangga.
Inisiatif pembuatan satu juta lubang resapan biopori ini bukan hanya sekedar soal mengurangi volume sampah yang dibuang ke TPA.
Keberadaan lubang biopori juga diharapkan mampu berkontribusi pada konservasi air tanah serta mendukung adaptasi masyarakat terhadap perubahan iklim yang semakin nyata saat ini.
Dengan kata lain, gerakan ini merupakan bagian dari upaya besar dalam mendorong kesadaran masyarakat mengenai pentingnya pengelolaan lingkungan hidup yang lebih baik dan lebih berkelanjutan. (jud/stch/dda)
















