BANYUMASEKSPRES.ID, BANYUMAS – Di tengah hiruk-pikuk kehidupan modern, warga RW 2 Desa Klinting, Kecamatan Somagede, menemukan cara unik dan kreatif untuk merayakan Hari Ibu yang jatuh setiap tanggal 22 Desember.
Alih-alih membiarkan koran bekas menumpuk di sudut ruangan atau berakhir di tempat sampah, para ibu di desa ini mengolahnya menjadi karya seni yang menarik perhatian.
Momen perayaan Hari Ibu 2025 kali ini dimanfaatkan benar-benar sebagai panggung untuk menampilkan kreativitas warga dan memperkuat kebersamaan.
Salemiati, Ketua Tim Penggerak PKK RT 6 RW 2, mengungkapkan bahwa melalui kesepakatan bersama, mereka memutuskan untuk merayakan tahun ini dengan cara berbeda.
“Kami sepakat menggelar peragaan busana berbahan dasar koran bekas,” ujarnya kepada awak media.
Acara ini diikuti oleh sepuluh perwakilan RT yang dengan penuh semangat turut menyemarakkan kegiatan tersebut.
Setiap kelompok berusaha menciptakan busana dari koran sesuai imajinasi dan selera masing-masing.
Proses pembuatan busana dari koran ini tidaklah mudah. Diperlukan kerja sama serta kekompakan antaranggota untuk menyatukan lembar demi lembar kertas hingga menjadi busana yang layak dikenakan.
Koran-koran tersebut dipasang langsung ke tubuh model, sehingga ketelitian dan kehati-hatian sangat diperlukan agar kertas tidak mudah sobek saat dikenakan.
Yang menarik, meskipun keterbatasan alat dan bahan, warga hanya menggunakan gunting, selotip, dan dobel tip untuk menyatukan potongan-potongan koran itu.
Sebagai pemanis, mereka menambahkan kertas warna-warni yang berfungsi sebagai aksesoris sehingga tampilan busana lebih variatif dan semarak.
“Yang penting adalah partisipasi mewakili RT masing-masing,” lanjut Salemiati dengan senyuman bangga.
Setelah proses perancangan selesai, tibalah saatnya para model tampil memamerkan hasil karya mereka di hadapan warga desa.
Satu per satu model melangkah percaya diri mengenakan busana dari koran bekas dengan berbagai nuansa dan model, mulai dari gaun sederhana hingga kostum dengan potongan unik.
Meski harus berjam-jam mengenakan kostum yang terasa gerah dan tidak nyaman akibat bahan kertas yang digunakan, para peserta tetap antusias.
Rasa panas terbayar oleh kebanggaan dan kebahagiaan karena dapat turut ambil bagian dalam perayaan Hari Ibu.
Bagi warga RW 2 Desa Klinting, kegiatan ini bukan sekadar perayaan seremonial belaka.
Lebih dari itu, peragaan busana dari koran bekas ini menjadi simbol semangat kebersamaan serta kreativitas yang tinggi.
Ini juga merupakan bentuk penghargaan terhadap peran ibu yang dirayakan dengan cara sederhana namun penuh makna.
Semangat kebersamaan yang terjalin selama proses persiapan hingga pelaksanaan acara ini menunjukkan betapa pentingnya gotong royong dalam membangun komunitas yang kuat dan harmonis.
Selain itu, kegiatan ini juga memberikan kesempatan kepada warga untuk mengekspresikan diri melalui seni dan kreativitas.
Pada akhirnya, acara ini bukan hanya soal siapa yang berhasil membuat busana paling indah atau unik tetapi bagaimana seluruh anggota masyarakat dapat bersatu padu menghargai nilai-nilai kebersamaan serta peran penting seorang ibu dalam keluarga dan masyarakat luas.
Dengan demikian, perayaan Hari Ibu di Desa Klinting kali ini telah berhasil membawa pesan bahwa dalam kesederhanaan pun bisa tercipta keindahan serta makna mendalam jika dilakukan dengan hati tulus penuh cinta kasih kepada sesama manusia terutama bagi para ibu tercinta. (fij/dda)
















