Banyumas Ekspres
Dark ModeLight Mode

KH Achmad Chalwani Nawani: Memaknai Kemerdekaan Sejati Sesungguhnya dengan Beragama

Memaknai kemerdekaan, sesungguhnya dengan beragamaMemaknai kemerdekaan, sesungguhnya dengan beragama
Pengasuh Pondok Pesantren An Nawawi Berjan Purworejo KH Achmad Chalwani Nawani

BANYUMASEKSPRES.ID, KEBUMEN – Bulan Agustus dikenal sebagai Bulan Kemerdekaan bagi bangsa Indonesia, yang diperingati setiap tanggal 17 Agustus. Dalam bulan ini, berbagai kegiatan dilaksanakan di seluruh penjuru negeri untuk memeriahkan Hari Ulang Tahun Republik Indonesia (HUT RI).

Namun, ada pandangan lain mengenai makna kemerdekaan yang lebih dalam, yaitu kemerdekaan yang sejati melalui agama.

Pandangan ini disampaikan oleh Pengasuh Pondok Pesantren An Nawawi Berjan Purworejo, KH Achmad Chalwani Nawani, dalam pertemuan Himawan ke-25 yang dilaksanakan di Desa Sidogede Prembun pada Minggu (4/8).

KH Achmad Chalwani Nawani, yang juga menjabat sebagai Rais Ali (Ketua) JATMAN periode 2024-2029, mengungkapkan sebuah pemikiran dari Sayyidina Ali bin Abi Thalib RA bahwa kemerdekaan sejati hanya dapat diraih melalui agama.

Menurutnya, perayaan kemerdekaan sebaiknya diisi dengan kegiatan-kegiatan yang tidak bertentangan dengan nilai-nilai agama. Ia menekankan pentingnya harmoni antara semangat nasionalisme dan spiritualitas dalam merayakan hari bersejarah ini.

Lebih lanjut, KH Achmad Chalwani menjelaskan bahwa agama tidak dapat dipisahkan dari keberadaan jamaah atau komunitas umat yang terorganisir.

“Tidak disebut agama tanpa jamaah,” tegasnya.

Keberadaan jamaah itu sendiri memerlukan sosok pemimpin yang dapat memandu arah dan tujuan bersama. Dalam hal ini, ketaatan menjadi faktor penting yang mengikat antara pemimpin dan jamaahnya. Namun demikian, ketaatan tersebut harus didasari oleh ilmu pengetahuan yang mumpuni.

Pentingnya ilmu dalam kehidupan beragama mendapat penekanan khusus dari KH Achmad Chalwani. Ia menyebutkan bahwa ilmu memiliki kedudukan yang sangat vital dalam membentuk karakter dan keimanan seseorang.

Untuk itu, ia mengajak umat agar senantiasa mengaji setiap hari guna memperdalam wawasan keagamaan dan melunakkan hati.

“Jika tidak dapat mengaji setiap hari, setidaknya lakukanlah seminggu sekali,” ujarnya.

KH Achmad Chalwani juga mengingatkan bahwa jika seseorang tidak berinteraksi dengan ulama atau guru selama lebih dari empat puluh hari, hati bisa menjadi keras dan sulit menerima hidayah dari Allah SWT.

Kondisi ini juga membuat seseorang lebih rentan terhadap godaan dosa besar. Oleh karena itu, tradisi pengajian rutin selapanan atau pertemuan setiap 25 hari sekali sangat dianjurkan untuk menjaga kehalusan hati dan keteguhan iman.

Pengajian rutin selapanan biasanya dilaksanakan setiap 35 hari sekali pada hari-hari tertentu seperti Sabtu Pon, Sabtu Kliwon, atau Sabtu Wage.

“Ini adalah upaya agar umat tetap terhubung dengan ulama dan memperoleh ilmu serta menjaga kelembutan hati mereka,” jelas KH Achmad Chalwani.

Dengan demikian, makna kemerdekaan bagi umat Muslim bukan hanya sekadar bebas dari penjajahan fisik tetapi juga mencapai kebebasan spiritual melalui penguatan iman dan ilmu.

Hal ini sejalan dengan filosofi bahwa merdeka sejati adalah ketika seseorang mampu menjalani hidup sesuai ajaran agamanya dengan penuh kesadaran dan tanggung jawab.

Dalam konteks tersebut, KH Achmad Chalwani berharap para jamaah dapat mengambil hikmah dari perjuangan para pahlawan bangsa serta menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari dengan tetap berpegang teguh pada ajaran agama Islam sebagai pedoman utama.

Dengan begitu, perayaan HUT RI akan semakin bermakna dan memberikan dampak positif bagi pembentukan karakter bangsa yang religius dan berintegritas. (mam/stch)

Berita Sebelumnya
Investor diajak tanam modal di indonesia

Investor Diajak Tanam Modal di Indonesia, Pemerintah Dorong Investasi Pembangunan Industri Baterai Ramah Lingkungan

Berita Selanjutnya
Ditunjuk jadi duta kehormatan pariwisata seoul

Jennie BLACKPINK Ditunjuk Jadi Duta Kehormatan Pariwisata Seoul