Banyumas Ekspres
Dark ModeLight Mode
Gejolak Timur Tengah Ancam Pasokan Energi Dunia, Kementerian ESDM Jamin BBM dan LPG Tetap Aman
Modal Live TikTok, Penjual Jenang Asal Purbalingga Sukses Kantongi Omzet Puluhan Juta

Modal Live TikTok, Penjual Jenang Asal Purbalingga Sukses Kantongi Omzet Puluhan Juta

Menangkap Kerinduan Menjadi CuanMenangkap Kerinduan Menjadi Cuan
LIVE SELLING: Tanti Kurniasih saat melakukan siaran langsung penjualan jenang Kedungjati melalui platform e-commerce dari rumahnya di Desa Kedungjati, Kecamatan Bukateja

BANYUMASEKSPRES.ID, Tanti Kurniasih (27), seorang penjual jenang asal Purbalingga, telah menemukan cara unik untuk menjawab kerinduan banyak perantau terhadap kampung halaman mereka.

Di tengah kesibukan hidup jauh dari rumah, banyak orang merindukan tidak hanya keluarga dan suasana desa, tetapi juga cita rasa makanan tradisional yang menjadi bagian penting dari masa kecil mereka.

Dalam konteks inilah Tanti berhasil menangkap esensi kerinduan tersebut dan mengubahnya menjadi peluang usaha yang bernilai puluhan juta rupiah.

Bermula pada tahun 2025, Tanti memanfaatkan platform digital seperti TikTok dan Shopee untuk melakukan siaran langsung (live selling) guna menawarkan jenang khas Kedungjati.

Produk yang ia jual bukanlah barang-barang mewah atau tren terkini, melainkan makanan tradisional yang telah lama menjadi simbol identitas kampungnya.

Pada awalnya, usaha ini terbilang sebagai percobaan yang dilakukan secara otodidak tanpa ada bimbingan dari siapa pun.

Namun, apa yang dimulai sebagai sebuah eksperimen di ruang tamunya itu segera berkembang menjadi sesuatu yang jauh lebih besar.

Menariknya, di balik layar ponsel, Tanti menemukan hal yang tidak pernah ia duga sebelumnya: ternyata banyak orang merindukan jenang Kedungjati.

Pesan-pesan dari pembeli mulai berdatangan, terutama dari warga Purbalingga yang merantau ke kota-kota besar seperti Jakarta, Bandung, Surabaya, hingga bahkan luar Pulau Jawa.

Mereka tidak hanya membeli makanan; lebih dari itu, mereka membeli kenangan akan masa lalu dan nostalgia akan kampung halaman mereka.

“Banyak perantauan juga yang rindu makan jenang. Sekarang tidak perlu menunggu pulang kampung, tetapi tinggal beli secara online,” ungkap Tanti dengan penuh semangat.

Dari sinilah ia menyadari bahwa produk yang ia tawarkan memiliki nilai lebih daripada sekadar rasa manis.

Jenang telah berfungsi sebagai penghubung antara para perantau dengan tempat asal mereka yang mungkin sudah lama ditinggalkan.

Awalnya, pesanan yang diterima Tanti masih dalam jumlah kecil. Ia harus menulis resi pengiriman secara manual dan mengantar paket sendiri menggunakan sepeda motor ke jasa ekspedisi setempat.

Semua proses tersebut dikerjakan seorang diri oleh Tanti. Namun seiring berjalannya waktu dan meningkatnya popularitas siaran langsungnya, jumlah pembeli terus bertambah secara signifikan.

Siaran langsung yang mulanya hanya disaksikan oleh segelintir orang kini mulai ramai ditonton oleh banyak orang.

Meningkatnya minat masyarakat terhadap jenang Kedungjati membuat pesanan melonjak drastis. Kini, ratusan kilogram jenang dikirim setiap hari ke berbagai daerah di Indonesia.

Dari produk rumahan sederhana ini, jenang Kedungjati berhasil menembus pasar nasional berkat kekuatan media sosial dan platform e-commerce.

Perubahan tersebut tentunya membawa dampak besar bagi kehidupan pribadi Tanti.

Omzet usaha yang awalnya hanya berkisar ratusan ribu rupiah kini berkembang pesat menjadi lebih dari Rp10 juta per hari.

Keberhasilan ini tidak hanya membantu memperbaiki kondisi ekonomi keluarganya namun juga memungkinkan Tanti untuk merenovasi rumah serta mendukung pengembangan usaha yang lebih besar lagi di masa mendatang.

Namun demikian, Tanti mengakui bahwa pencapaian tersebut tidak datang karena adanya strategi bisnis yang rumit maupun investasi besar-besaran.

Ia percaya bahwa kunci keberhasilannya terletak pada kemampuannya untuk mendekatkan kembali para perantau dengan rasa makanan yang mereka kenal sejak kecil dan menyentuh kenangan-kenangan indah dalam hidup mereka.

Di tengah maraknya produk modern yang terus menerus muncul di media sosial setiap harinya, jenang Kedungjati justru menemukan pasarnya sendiri dengan cara yang berbeda.

Produk ini tidak hadir karena mengikuti tren terbaru namun mampu menghadirkan kembali nostalgia dan pengalaman masa lalu yang sulit tergantikan oleh barang-barang modern lainnya.

Dari sebuah desa kecil di Kecamatan Bukateja ini, Tanti Kurniasih membuktikan bahwa peluang usaha bisa lahir dari hal-hal sederhana sekalipun jika dikelola dengan baik dan penuh cinta.

Ia tidak hanya menjual makanan tradisional belaka; lebih jauh dari itu, ia menjual kenangan dan pengalaman hidup bagi siapa saja yang merindukan kampung halaman mereka melalui setiap gigitan jenangnya.

Melihat perjalanan Tanti Kurniasih dalam menjalankan usaha penjualan jenang Kedungjati ini memberikan kita pelajaran berharga tentang bagaimana inovasi dapat muncul dari hal-hal sederhana ketika kita mampu melihat peluang di depan mata.

Untuk banyak perantau lainnya di luar sana, kehadiran produk Tanti bukan hanya sekedar solusi untuk mengatasi kerinduan mereka terhadap masakan rumah tetapi juga sebuah cara untuk tetap terhubung dengan budaya dan tradisi daerah asal mereka.

Secara keseluruhan, kisah inspiratif Tanti Kurniasih merupakan contoh nyata bagaimana teknologi dapat digunakan sebagai alat untuk memfasilitasi koneksi emosional antara individu dengan tempat asalnya melalui makanan tradisional. (alw/stch/dda)

Berita Sebelumnya
ESDM Pastikan Stok dan Subsidi Energi Aman

Gejolak Timur Tengah Ancam Pasokan Energi Dunia, Kementerian ESDM Jamin BBM dan LPG Tetap Aman