BANYUMASEKSPRES.ID, JAKARTA – Meski Gejolak Timur Tengah Memanas, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menegaskan bahwa ketersediaan stok energi serta penyaluran subsidi energi untuk masyarakat tetap terjaga.
Dalam situasi geopolitik yang semakin meningkat ketegangannya, Tenaga Ahli Menteri ESDM Bidang Komersialisasi dan Transportasi Minyak dan Gas Bumi, Hangga, mengungkapkan bahwa pemerintah terus memperkuat koordinasi lintas kementerian.
Langkah ini diambil untuk mengantisipasi berbagai risiko yang dapat mempengaruhi sektor energi nasional.
“Koordinasi lintas kementerian terus berjalan intensif guna menjaga stabilitas stok dan mengamankan penyaluran subsidi energi bagi masyarakat tetap aman hingga akhir tahun,” ujarnya pada Jumat, 5 Juni 2026.
Pernyataan ini menunjukkan komitmen pemerintah dalam menjaga ketahanan energi di tengah tantangan global.
Hangga menambahkan bahwa kondisi sektor energi saat ini sangat dipengaruhi oleh perkembangan geopolitik di tingkat global, terutama di kawasan Timur Tengah dan jalur pelayaran strategis Selat Hormuz.
Selat Hormuz merupakan salah satu rute utama distribusi energi dunia yang vital bagi pasokan energi negara-negara pengimpor.
Dengan demikian, dampak dari gejolak di kawasan tersebut dapat berpotensi memengaruhi kebutuhan energi nasional.
Pentingnya pemantauan terhadap situasi global ini tidak bisa dianggap remeh, terutama karena Indonesia masih bergantung pada impor bahan bakar minyak (BBM), minyak mentah, dan liquefied petroleum gas (LPG).
Dalam rangka mengurangi dampak fluktuasi harga energi dunia yang sering kali tidak terduga, Kementerian ESDM berfokus pada pelaksanaan berbagai program yang sejalan dengan Asta Cita.
Program-program ini khususnya berorientasi pada ketahanan energi dan penguatan perekonomian nasional.
Sebagai negara dengan sumber daya alam yang kaya, Indonesia memiliki posisi yang cukup kuat dalam sektor energi.
Hangga menjelaskan bahwa Indonesia mencatat surplus pada komoditas gas pipa, liquefied natural gas (LNG), dan compressed natural gas (CNG).
Selain itu, Indonesia juga merupakan salah satu produsen utama nikel, tembaga, emas, serta menguasai 43 persen ekspor batu bara dunia.
Namun demikian, tantangan besar muncul dari tingginya konsumsi domestik yang didorong oleh bonus demografi.
Untuk menekan ketergantungan terhadap minyak bumi yang selama ini menjadi isu krusial, pemerintah gencar mendorong pengembangan energi baru dan terbarukan.
Berbagai program sedang dipacu untuk mencapai tujuan tersebut. Salah satunya adalah pembangunan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) berkapasitas 100 gigawatt (GW).
Program lain yang juga tengah dijalankan adalah percepatan program listrik desa (lisdes) di wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T).
Implementasi campuran biodiesel 50% atau B50 juga menjadi salah satu langkah strategis untuk mengurangi ketergantungan terhadap BBM fosil.
Upaya ini tidak hanya bertujuan untuk memenuhi kebutuhan energi dalam negeri tetapi juga sebagai langkah konkret menuju keberlanjutan lingkungan.
Peningkatan kapasitas Kilang RDMP Balikpapan diharapkan dapat mendukung upaya penghentian impor solar di masa mendatang.
Hal ini menunjukkan keseriusan pemerintah dalam mewujudkan kemandirian energi nasional.
Hangga menegaskan betapa pentingnya kolaborasi lintas sektor serta lintas generasi dalam mendukung visi pemerintah menuju kemandirian energi.
Dalam era modern ini, sinergi antara pemerintah, industri swasta, dan masyarakat sangat diperlukan untuk mencapai target-target strategis seperti ketahanan pangan, swasembada energi, serta peningkatan kualitas sumber daya manusia.
Semua elemen masyarakat harus bersatu dalam menghadapi tantangan global yang terus berkembang.
Dengan latar belakang kondisi global yang kerap berubah-ubah dan penuh ketidakpastian seperti saat ini, penting bagi masyarakat untuk memahami langkah-langkah apa saja yang telah dilakukan oleh pemerintah agar mereka tidak merasa cemas dengan ketersediaan energi. (*/stch/dda)














