Banyumas Ekspres
Dark ModeLight Mode

Kisah Tania Elfaretta Ratna Duhita: Pemanah Muda Asal Banyumas yang Mengharumkan Nama Bekasi

Orang Ngapak yang Kini Membela BekasiOrang Ngapak yang Kini Membela Bekasi
WONG NGAPAK: Pemanah asal Baturraden, Banyumas, Tania Elfaretta Ratna Duhita, berpose usai mengikuti kejuaraan

BANYUMASEKSPRES.ID, Mengenal Tania Elfaretta Ratna Duhita, seorang pemanah berbakat berusia 18 tahun yang berasal dari Banyumas, adalah perjalanan yang penuh inspirasi dan dedikasi.

Dengan logat ngapak yang kental, Tania tumbuh besar di lingkungan masyarakat Banyumas.

Ia lahir dan menjalani pendidikan, mulai dari sekolah dasar hingga kuliah, di daerah yang dikenal dengan kekayaan budayanya ini.

Namun, saat ia melangkah ke arena pertandingan panahan, namanya sering kali tercatat sebagai atlet Kota Bekasi.

Ini adalah kisah unik mengenai seorang atlet asal Banyumas yang berhasil mengharumkan nama daerah lain sejak usia dini.

Tania memulai perjalanan kariernya di dunia panahan dengan cara yang cukup menarik. Sejak duduk di kelas III SD, ia sudah mengikuti berbagai turnamen panahan.

Kejuaraan pertamanya adalah Kebumen Open dalam kategori standar, dan sejak saat itu, kemampuan serta bakatnya langsung terlihat.

Tania berhasil merebut juara pada kejuaraan tersebut, yang kemudian membawanya meraih kesuksesan lebih lanjut di Popda SD Banyumas. Di ajang ini, ia kembali sukses menempati podium tertinggi.

Kemampuannya di bidang panahan terus berkembang dan membawanya ke level berikutnya ketika ia mengikuti Piala Presiden yang dilaksanakan di Bogor bersama Bawor Club, sebuah klub panahan yang berasal dari Banyumas.

Dalam ajang bergengsi tersebut, Tania tidak hanya sekadar berpartisipasi tetapi juga menunjukkan penampilan cemerlang dengan meraih juara pertama.

Setelah keberhasilannya di Bogor, tawaran untuk bergabung dengan Kota Bekasi datang menghampiri.

“Selesai di Bogor ditawari ikut Kota Bekasi. Karena saat itu masih free dan belum terikat, saya gabung,” ungkap Tania kepada awak media.

Meski tidak pernah menetap di Bekasi, keputusan untuk memperkuat tim Kota Bekasi ternyata membawa banyak pengalaman berharga baginya.

Tania menjalani kehidupan sehari-hari seperti warga Banyumas lainnya. Ia tetap bersekolah dan berlatih di Banyumas serta menjalani aktivitas sosial sebagai bagian dari masyarakat setempat.

Namun setiap kali ia bertanding di ajang resmi, nama Kota Bekasi lah yang dibawanya.

Keputusan ini tampaknya tidak mengurangi rasa cinta dan identitasnya sebagai warga Banyumas.

Sebaliknya, setiap prestasi yang diraih justru menjadi bukti bahwa seorang atlet dari daerah dengan logat ngapak juga mampu bersaing dan berprestasi di tingkat yang lebih tinggi.

Perjalanan karier olahraganya semakin bersinar ketika Tania berhasil mempersembahkan medali emas untuk Kota Bekasi pada ajang Pra Porprov Jawa Barat dalam nomor compound saat masih duduk di kelas VI SD.

Setelah itu, kariernya semakin menanjak ketika memasuki jenjang SMP. Pada saat itu, ia berhasil meraih gelar juara nasional saat membela Jawa Barat pada Kejuaraan Nasional yang berlangsung di Yogyakarta.

Seiring bertambahnya pengalaman dan jam terbangnya di dunia panahan, Tania terus mencetak prestasi demi prestasi. Berbagai gelar dari turnamen terbuka pun berhasil diraihnya tanpa henti.

Saat memasuki masa SMA, kepercayaan dari Kota Bekasi terhadap kemampuan Tania tetap tinggi.

Ia bahkan dua kali tampil dalam Pekan Olahraga Daerah (Porda) Jawa Barat yang digelar secara berturut-turut di Cirebon dan Bandung.

“Alhamdulillah dapat empat medali emas,” ungkapnya bangga.

Walaupun telah lama membela Kota Bekasi dalam berbagai kompetisi panahan, impiannya untuk suatu hari bisa memperkuat tanah kelahirannya tetap ada dalam benaknya.

Tania mengaku pernah mencoba mengurus proses mutasi agar bisa kembali membela Banyumas namun hingga saat ini proses tersebut belum terealisasi karena berbagai persyaratan administrasi dan ketentuan lainnya yang harus dipenuhi.

“Sampai sekarang masih gabung dengan Kota Bekasi,” ujarnya sambil tersenyum penuh harapan bahwa suatu saat nanti ia bisa mewujudkan impiannya tersebut.

Bagi Tania, meskipun ia membela Kota Bekasi dalam setiap kompetisi resmi memanah, hal itu tidak membuatnya kehilangan identitas sebagai wong Banyumas.

Justru sebaliknya, setiap pencapaian yang diraihnya menjadi kebanggaan tersendiri bagi dirinya dan sekaligus bagi daerah asalnya.

Kini di tengah kesibukannya sebagai mahasiswa, Tania tetap menjaga performa terbaiknya dalam olahraga panahan.

Ia berkomitmen untuk terus berlatih demi mempertahankan kualitas dan kemampuannya agar bisa bersaing di tingkat nasional maupun internasional.

Dalam waktu dekat, ia akan kembali turun bertanding pada ajang UGM Open yang dijadwalkan berlangsung pada bulan Juni mendatang.

“Bismillah terdekat persiapan UGM Open Juni nanti,” pungkasnya optimis mengenai persiapannya.

Dari Baturraden menuju berbagai arena panahan di tingkat nasional, perjalanan Tania Elfaretta Ratna Duhita menunjukkan betapa pentingnya dedikasi dan kerja keras dalam meraih impian.

Meskipun muncul tantangan terkait identitas daerah dalam konteks olahraga kompetitif seperti ini, ia berhasil menunjukkan bahwa bakat tidak mengenal batas geografi atau etnisitas tertentu.

Sebagai seorang pemanah muda berbakat asal Banyumas yang telah mengukir prestasi demi prestasi dengan gigih dan penuh semangat juang tinggi, Tania menjadi inspirasi bagi generasi muda lainnya untuk mengejar mimpi mereka meskipun terkadang harus beradaptasi dengan situasi atau lingkungan baru. (yda/stch/dda)

Berita Sebelumnya
Operasi Patuh Candi 2026 Andalkan ETLE

Operasi Patuh Candi 2026 Dimulai, Polres Banjarnegara Bidik Pelat Nomor Modifikasi dan Knalpot Brong

Berita Selanjutnya
1.810 Perlintasan Kereta Api Tidak Dijaga

1.810 Perlintasan Kereta Tak Dijaga, KAI Butuh 1,2 Triliun untuk Tingkatkan Keselamatan