BANYUMASEKSPRES.ID, BANYUMAS – Dengan datangnya musim kemarau, pasokan air irigasi di wilayah timur Kabupaten Banyumas mengalami penurunan yang signifikan.
Hal ini tercermin dari berkurangnya debit air di sejumlah bendung yang turun hingga 30 persen.
Akibatnya, ratusan hektare sawah terpaksa harus mengandalkan sistem pengairan bergilir untuk memenuhi kebutuhan air tanaman padi.
Unit Pelaksana Teknis Dinas Pekerjaan Umum (UPTD PU) Wilayah Sumpiuh melaporkan bahwa sedikitnya 262,15 hektare areal persawahan kini bergantung pada pembagian air secara bergilir.
Langkah strategis ini diambil untuk memastikan bahwa kebutuhan air tanaman padi tetap terpenuhi secara merata, meskipun pasokan air mengalami penurunan yang cukup drastis.
Mantri Pengairan UPTD PU Wilayah Sumpiuh, Teguh Dumadi, menjelaskan bahwa hasil pemantauan terbaru menunjukkan adanya penurunan debit air yang cukup signifikan di berbagai bendung.
“Berdasarkan hasil pemantauan di bendung, debit air sudah berkurang 30 persen,” ungkap Teguh dalam pernyataannya pada Rabu (17/6).
Penurunan ini menjadi sinyal awal bagi para petani untuk bersiap menghadapi tantangan yang ditimbulkan oleh perubahan cuaca.
Salah satu lokasi yang telah menerapkan jadwal giliran pengairan adalah Daerah Irigasi Bendung Sengon, yang terletak di Kecamatan Sumpiuh.
Bendung ini memiliki peranan penting dalam mengairi areal persawahan seluas 89 hektare yang meliputi Kelurahan Kebokura dan Desa Pandak.
Menurut Teguh, saat ini tanaman padi di wilayah tersebut masih berada dalam fase pertumbuhan, dengan sebagian besar tanaman berusia antara 30 hingga 60 hari setelah tanam.
Dalam fase ini, kebutuhan pasokan air sangat krusial untuk mendukung pertumbuhan optimal tanaman padi.
Namun tantangan tidak hanya datang dari penurunan debit air. Petugas juga menghadapi masalah kebocoran pada saluran induk Daerah Irigasi Bendung Sengon.
Kebocoran ini menyebabkan distribusi air ke lahan pertanian menjadi tidak maksimal.
“Dampak bocoran ini sangat dirasakan, karena air yang seharusnya bisa mengairi sawah justru kembali lagi ke sungai,” jelas Teguh menambahkan.
Di samping itu, penurunan debit air juga mulai terlihat di Daerah Irigasi Bendung Petarangan yang terletak di Kecamatan Kemranjen.
Para petani yang terdampak berada di empat desa yaitu Petarangan, Kecila, Karangjati, dan Alasmalang.
Untuk mengantisipasi kekurangan pasokan air akibat kondisi tersebut, sistem pembagian air secara bergilir pun diterapkan di wilayah ini.
Total areal persawahan yang bergantung pada pasokan dari Bendung Petarangan mencapai 173,15 hektare.
Meskipun demikian, Teguh memberikan kabar baik bahwa kondisi tanaman padi hingga saat ini masih tergolong aman meski terdapat penurunan debit air.
“Sampai hari ini kondisi tanaman padi yang terdampak penurunan debit air bendung dilaporkan masih aman semua, belum ada yang terancam layu,” tegasnya dengan penuh harapan.
Pentingnya pengelolaan sumber daya air menjadi semakin nyata dalam situasi seperti ini.
Dengan sistem pengairan bergilir yang diterapkan oleh UPTD PU Wilayah Sumpiuh dan petugas lapangan lainnya, para petani dapat terus menjaga keberlangsungan pertanian mereka meskipun dalam kondisi cuaca yang tidak mendukung. (fij/stch/dda)
















