BANYUMASEKSPRES.ID, Awal mula konflik antara Ruben Onsu dan Sarwendah Tan berakar dari permintaan Ruben yang meminta mantan istrinya untuk merinci penggunaan nafkah sebesar Rp200 juta.
Permintaan ini diajukan dengan tujuan untuk mencapai transparansi dalam pengelolaan nafkah anak.
Namun, sayangnya, langkah tersebut justru memicu kemarahan Sarwendah, yang menanggapi dengan kata-kata kasar dan merendahkan Ruben.
Dari sinilah perseteruan antara kedua mantan pasangan suami istri ini semakin menghangat.
Dalam konteks ini, Minola Sebayang, kuasa hukum Ruben Onsu, sempat memaparkan rincian nafkah anak yang disepakati bersama Sarwendah.
Rincian tersebut mencakup biaya hidup, pendidikan, serta asuransi untuk ketiga anak mereka.
Meskipun demikian, beberapa komponen dalam anggaran tersebut masih menyisakan tanda tanya besar di benak masyarakat.
Misalnya saja, gaji untuk asisten rumah tangga (ART) dan sopir, serta biaya listrik hingga pengeluaran untuk plastik sampah rumah Sarwendah yang masih menjadi tanggungan Ruben.
Warganet pun tidak ketinggalan memberikan komentar terkait besarnya biaya les balet yang harus ditanggung Ruben untuk dua putrinya, yang mencapai angka fantastis yaitu Rp22 juta per bulan.
Ironisnya, walaupun biaya tersebut cukup tinggi, Sarwendah tampak enggan melibatkan Ruben dalam berbagai kompetisi yang diikuti oleh Thalia dan Thania.
Sebagai gantinya, dalam setiap ajang tersebut, Sarwendah lebih memilih menggandeng sang kekasih, Giorgio Antonio.
Dalam pandangan publik, ada dugaan bahwa beberapa biaya dalam rincian tersebut telah dimark-up oleh Sarwendah.
Seorang pengguna akun Threads dengan nama @cendhyhema mengungkapkan pendapatnya dengan nada sarkastik: “Gue bilang sih habis ini si Ci Wend kariernya bakal cemerlang karena ditawarin posisi di pemerintahan +26.
Skill mark-up budgetnya tingkat dewa!” Selain itu, akun @luckypitaloka juga ikut memberikan sindiran tajam dengan menuliskan: “Anak gue satu tempat les balet sama anak-anak Sarwendah. Les balet apaan Rp22 juta anjay.”
Sementara itu, akun lain bernama @st_nurjanahh menambahkan: “Mantan suaminya diperas habis-habisan. Mark-upnya parah banget.”
Menarik untuk dicatat bahwa meskipun Ruben telah membayar nafkah sebesar Rp200 juta per bulan, Sarwendah tetap membuatnya kesulitan untuk bertemu dengan kedua putrinya.
Alasan inilah yang akhirnya mendorong presenter televisi tersebut untuk menghentikan pembayaran nafkah bulanan selama enam bulan terakhir.
Kondisi ini menunjukkan betapa rumitnya dinamika hubungan pasca perceraian antara Ruben Onsu dan Sarwendah Tan.
Keduanya terjebak dalam konflik yang tidak hanya melibatkan isu keuangan tetapi juga hubungan emosional dengan anak-anak mereka.
Di tengah pergulatan ini, penting untuk memahami dampak psikologis yang mungkin dirasakan oleh anak-anak mereka akibat dari ketegangan antara orang tua mereka.
Sebagaimana dilaporkan sebelumnya, kasus ini menarik perhatian publik dan media sosial.
Banyak warganet berkomentar mengenai situasi tersebut dan menunjukkan berbagai reaksi terhadap tindakan masing-masing pihak.
Dapat dipahami bahwa setiap orang memiliki pandangan berbeda terkait apa yang seharusnya dilakukan dalam situasi seperti ini.
Dari perspektif hukum keluarga, situasi semacam ini sering kali menjadi rumit karena melibatkan aspek-aspek emosional dan finansial.
Baik Ruben Onsu maupun Sarwendah Tan memiliki hak dan kewajiban masing-masing sebagai orang tua dari ketiga anak mereka.
Namun ketika salah satu pihak merasa dirugikan atau tidak diperlakukan adil, konflik semacam ini cenderung muncul.
Sementara itu, banyak pihak berpendapat bahwa penyelesaian seperti mediasi bisa menjadi alternatif terbaik bagi pasangan yang telah bercerai seperti Ruben dan Sarwendah.
Mediasi dapat membantu kedua belah pihak untuk mencapai kesepakatan tanpa harus melibatkan prosedur hukum yang panjang dan melelahkan secara mental.
Penting juga untuk dicatat bahwa meskipun ada banyak komentar negatif di media sosial mengenai kasus ini, kedua belah pihak harus tetap menjaga fokus pada kepentingan terbaik bagi anak-anak mereka.
Dalam situasi kompleks seperti ini, perhatian utama seharusnya diarahkan pada bagaimana cara agar anak-anak dapat tumbuh dengan baik meskipun dalam keadaan keluarga yang tidak utuh.
Sikap saling menghormati antara mantan suami istri sangat krusial dalam proses co-parenting atau pengasuhan bersama setelah perceraian.
Keduanya perlu menyadari bahwa tindakan mereka tidak hanya berdampak pada diri mereka sendiri tetapi juga akan berpengaruh pada perkembangan psikologis anak-anak mereka. (*/stch/dda)














