BANYUMASEKSPRES.ID, Suasana mistis yang sering kali menjadi latar cerita film horor tidak hanya dapat dirasakan dalam karya-karya fiksi, tetapi juga di kehidupan nyata para pemainnya.
Hal ini terbukti dalam pengalaman yang dialami oleh Hana Saraswati, salah satu aktris utama dalam film “Lastri Arwah Kembang Desa”.
Selama proses syuting, Hana mengaku merasakan kehadiran sosok lain yang seolah merasuki dirinya, terutama saat ia mengenakan kostum dan mendalami karakter Lastri, arwah penasaran yang menjadi fokus cerita film ini.
Pengakuan mengejutkan tersebut disampaikan oleh Hana saat peluncuran poster dan trailer resmi “Lastri Arwah Kembang Desa” yang berlangsung di kawasan Kemang, Jakarta pada Rabu, 11 Juni.
Dalam trailer yang baru dirilis, Hana Saraswati terlihat bertransformasi menjadi perempuan desa era 1980-an yang hidupnya dipenuhi konflik hingga akhirnya meninggal dunia dan berubah menjadi arwah gentayangan.
Dengan balutan kebaya putih dan rambut disanggul rapi, penampilan Hana benar-benar berbeda dari kesehariannya.
Namun justru melalui penampilan itulah ia mengalami pengalaman batin yang sulit untuk dijelaskan.
“Begitu pakai kebaya putih, rambut disanggul, rasanya unreal. Rasanya kayak bukan Hana, kayak jadi Lastri benaran. Apalagi ketika sutradara bilang action, rasanya kayak enggak tersisa sama sekali akunya,” ungkapnya dengan penuh penghayatan.
Hana menjelaskan bahwa proses mendalami karakter Lastri tidak memerlukan metode yang rumit.
Menurutnya, kunci utama dalam memerankan karakter adalah memahami naskah serta kebutuhan emosional tokoh yang diperankan.
“Yang penting baca naskah dengan benar dan tepat konteksnya. Menurutku itu kunci memainkan peran enggak fals. Apa yang dibutuhkan karakter, aku bisa kasih ke dia,” jelasnya.
Meski demikian, pengalaman paling mendalam justru terjadi saat dirinya sudah sepenuhnya mengenakan kostum Lastri.
Hana merasakan suasana berbeda selama syuting, seolah ada energi lain yang perlahan-lahan mengambil alih dirinya.
“Rasanya benar-benar kayak ada orang lain yang masuk ke tubuhku dan bilang, ‘Ini loh saya Lastri.’ Kedengarannya mistis, tapi itu yang aku rasakan,” tambahnya.
Pengakuan Hana Saraswati ini semakin memperkuat aura menyeramkan dari film garapan sutradara Hendri Tivo tersebut.
Hendri menjelaskan bahwa film ini sengaja dibangun dengan pendekatan berbeda dari pola horor konvensional yang sering kali mengandalkan kemunculan tiba-tiba atau jumpscare semata.
“Ketakutannya dibuat pelan-pelan menyelinap. Jadi bukan yang langsung mengagetkan, tapi masuk sedikit demi sedikit,” ungkap Hendri menjelaskan strategi pembuatan film ini.
Konsep unik tersebut membuat karakter Lastri terasa kuat dan membekas di benak penonton.
Sosok Lastri tidak hanya menyeramkan secara visual tetapi juga sarat dengan emosi seperti kesedihan, kemarahan, dan dendam yang menjadi inti cerita film ini.
Film “Lastri Arwah Kembang Desa” sendiri memiliki dua latar waktu berbeda yaitu era 1980-an dan masa kini.
Dalam hal ini, bagi Hana Saraswati memainkan karakter perempuan desa tahun 1980-an merupakan tantangan tersendiri karena ia lahir jauh setelah era tersebut berlalu.
Hana harus melakukan banyak diskusi dengan pemain senior untuk memahami gaya hidup perempuan desa pada masa itu termasuk cara berbicara hingga penampilan mereka.
“Karena aku enggak hidup di zaman itu, jadi harus banyak tanya soal look, cara bicara, sampai gaya berpakaian perempuan tahun 1980-an,” jelasnya lebih lanjut mengenai persiapan perannya.
Di balik nuansa mistis selama syuting “Lastri Arwah Kembang Desa”, Hana juga menyimpan kenangan mendalam saat beradu akting dengan almarhum Gary Iskak.
Film ini menjadi salah satu karya terakhir Gary sebelum meninggal dunia.
Awalnya Hana merasa segan melihat sosok Gary Iskak yang tampak tegas dan berwibawa namun kesan itu berubah setelah mereka mulai berbincang di lokasi syuting.
“Awalnya aku pikir beliau galak. Auranya gahar banget. Tapi begitu ngobrol ternyata baik, hangat, dan banyak kasih masukan,” kenangnya dengan penuh rasa hormat.
Momen-momen berharga selama syuting memberi kesan mendalam pada Hana dan tim produksi lainnya.
Mereka menyadari bahwa film “Lastri Arwah Kembang Desa” bukan sekadar sebuah produk hiburan melainkan merupakan cerminan dari kisah-kisah kehidupan nyata yang mungkin pernah dialami oleh banyak orang di era tersebut.
Dengan narasi yang kuat dan pengembangan karakter yang mendalam, film ini berusaha memberikan lebih dari sekadar ketakutan; ia ingin mengajak penonton untuk merenungkan perjalanan hidup Lastri dan emosi yang menyertainya. (*/stch/dda)














