BANYUMASEKSPRES.ID, TEMANGGUNG – Di Kabupaten Temanggung, panen raya kopi tahun ini diperkirakan akan mengalami penurunan yang cukup signifikan, mencapai angka antara 20 hingga 30 persen.
Penurunan ini berpotensi untuk lebih besar lagi, mengingat kondisi buah kopi yang masih bertahan hingga saat ini.
Kepala Bidang Hortikultura dan Perkebunan (Hortibun) Dinas Ketahanan Pangan, Pertanian, dan Perikanan (DKPPP) Temanggung, Sumarno, menjelaskan bahwa beberapa faktor menjadi penyebab utama dari penurunan produksi tersebut.
Salah satunya adalah anomali cuaca yakni kemarau basah yang terjadi pada tahun 2025 lalu.
Cuaca memainkan peran penting dalam fase krusial pertumbuhan tanaman kopi, terutama pada saat pembungaan hingga pembentukan bakal buah.
Dalam periode tersebut, bunga kopi sangat rentan terhadap kerontokan jika terkena hujan deras atau angin kencang.
Sumarno menambahkan bahwa pada periode September hingga November 2025, yang seharusnya menjadi masa ideal untuk pembungaan tanaman kopi, justru diwarnai oleh curah hujan yang tinggi disertai dengan angin kencang.
“Saat musim bunga tahun 2025 lalu, cuaca sangat ekstrem. Hujan sering turun deras disertai angin kencang,” ungkapnya.
Dampak dari kondisi cuaca ekstrem tersebut langsung terlihat pada proses pembuahan tanaman kopi.
Berdasarkan prediksi saat ini, produksi kopi di Temanggung tahun ini diperkirakan akan turun antara 20 hingga 30 persen.
Jika pada tahun 2025 produksi kopi Temanggung mencapai angka 9.000 ton, maka pada tahun 2026, angka tersebut diperkirakan hanya akan mencapai sekitar 7.200 ton.
Meski demikian, Sumarno tetap berharap agar hasil panen kali ini bisa lebih baik dari perkiraan.
Walaupun ada penurunan dalam produksi kopi, Sumarno tetap optimis bahwa hasil panen akan tetap terserap oleh pasar dengan baik.
Baik oleh pembeli lokal maupun industri yang bergerak di sektor pengolahan kopi. Optimisme ini penting bagi masyarakat petani yang bergantung pada hasil panen mereka.
Sementara itu, Juwandi, seorang petani kopi asal Kecamatan Kaloran juga merasakan dampak yang sama akibat kondisi cuaca yang tidak menentu ini.
Dari total 700 pohon kopi yang ia miliki, pada tahun lalu ia mampu memproduksi sekitar 2,8 ton kopi basah atau sekitar 700 kilogram (kg) kopi kering dengan rendemen 4:1.
Namun kini ia merasa khawatir dengan hasil panen di tahun ini karena tidak semua ranting menghasilkan buah seperti pada musim panen sebelumnya yang relatif merata.
“Saya memperkirakan hasil panen kali ini turun di angka sekitar 30 persen,” ujarnya dengan nada pesimis namun penuh harapan.
Dia menekankan pentingnya stabilitas harga meskipun produksi menurun. Tahun lalu harga kopi basah berkisar antara Rp 14 ribu hingga Rp 17 ribu per kg tergantung kualitas dan metode pemetikan buahnya.
Menurut Juwandi, jenis kopi yang dipetik dengan metode petik merah biasanya memiliki nilai jual yang lebih tinggi dibandingkan metode lain.
Dalam situasi sulit seperti ini, harapan petani adalah agar harga tidak ikut anjlok seiring dengan penurunan hasil panen mereka.
“Semoga tahun ini harganya tidak turun, kalau bisa justru naik,” harapnya bersemangat meskipun menghadapi tantangan berat.
Situasi yang dialami para petani kopi di Kabupaten Temanggung mencerminkan tantangan besar dalam sektor pertanian akibat perubahan iklim dan anomali cuaca yang semakin sering terjadi.
Dengan adanya perubahan cuaca ekstrem seperti kemarau basah dan hujan deras secara bersamaan selama periode kritis pertumbuhan tanaman kopi tersebut membuat petani harus mencari cara baru untuk beradaptasi agar tetap dapat mempertahankan produksi mereka. (*/stch/dda)
















