Banyumas Ekspres
Dark ModeLight Mode
Viral! Balai Desa Kemutug Kidul Banyumas Bergaya Istana Merdeka, Habiskan Anggaran 650 Juta
Panen Raya Padi Cilacap Diprediksi September 2026, Distan Optimistis Surplus Beras Tetap Tercapai

Panen Raya Padi Cilacap Diprediksi September 2026, Distan Optimistis Surplus Beras Tetap Tercapai

Panen Raya Diprediksi SeptemberPanen Raya Diprediksi September
PANEN : Petani di wilayah Kecamatan Sampang panen padi menggunakan mesin combi

BANYUMASEKSPRES.ID, CILACAP – Musim panen padi mulai berlangsung di sejumlah wilayah Kabupaten Cilacap.

Meski belum terjadi secara serentak, Dinas Pertanian (Distan) Kabupaten Cilacap memperkirakan puncak panen raya akan berlangsung pada September 2026.

Pemerintah daerah juga tetap optimistis target produksi padi dan surplus beras tahun ini dapat tercapai meskipun musim kemarau mulai melanda beberapa wilayah.

Sebagai salah satu daerah penghasil beras terbesar di Jawa Tengah, Cilacap selama ini dikenal sebagai lumbung padi nasional.

Dengan luas lahan sawah yang mencapai sekitar 67 ribu hektare, daerah ini memiliki kontribusi penting dalam menjaga ketahanan pangan, baik di tingkat provinsi maupun nasional.

Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Cilacap, Sigit Widayanto, mengatakan proses panen saat ini sudah dimulai di beberapa kecamatan, terutama di wilayah Adipala dan sejumlah daerah bagian barat Kabupaten Cilacap.

Menurutnya, kondisi tersebut merupakan hal yang wajar karena pola tanam di Kabupaten Cilacap tidak berlangsung secara bersamaan.

Luas wilayah yang besar menyebabkan jadwal tanam dan panen di setiap kecamatan berbeda-beda.

“Karena wilayah Cilacap sangat luas, proses tanam maupun panennya memang tidak serentak. Saat ini ada yang sudah panen, tetapi di daerah lain juga masih ada yang tanam,” ujar Sigit.

Meski sebagian petani telah mulai memanen hasil sawahnya, sebagian besar areal persawahan di Kabupaten Cilacap masih berada pada fase pertumbuhan tanaman.

Karena itu, Dinas Pertanian memperkirakan panen raya baru akan berlangsung pada September mendatang, ketika mayoritas tanaman padi memasuki usia panen.

“Kalau panen raya atau sebagian besar panen diperkirakan sekitar bulan September,” kata Sigit.

Puncak panen tersebut diharapkan mampu meningkatkan pasokan gabah dan beras di pasaran sehingga dapat menjaga stabilitas ketersediaan pangan sekaligus mendukung pengendalian harga beras.

Kabupaten Cilacap memiliki sekitar 67 ribu hektare lahan baku sawah, menjadikannya salah satu kabupaten dengan areal persawahan terluas di Jawa Tengah.

Luasnya wilayah pertanian menyebabkan setiap kecamatan memiliki kalender tanam yang berbeda, bergantung pada kondisi irigasi, ketersediaan air, hingga pola tanam petani.

Di beberapa wilayah, petani sudah memanen menggunakan mesin combine harvester, sementara daerah lain baru memasuki tahap pengolahan lahan atau penanaman.

Perbedaan waktu tanam tersebut justru membantu menjaga kontinuitas produksi beras sepanjang tahun sehingga pasokan tidak hanya bergantung pada satu periode panen raya.

Memasuki musim kemarau, sektor pertanian dihadapkan pada ancaman berkurangnya pasokan air untuk irigasi.

Sejumlah lahan berpotensi mengalami kekeringan apabila curah hujan terus menurun dalam beberapa bulan ke depan.

Meski demikian, Dinas Pertanian Kabupaten Cilacap tetap optimistis kondisi tersebut tidak akan mengganggu target produksi padi secara keseluruhan.

Pemerintah daerah terus melakukan pemantauan terhadap kondisi lahan pertanian, terutama di daerah yang memiliki risiko kekeringan lebih tinggi.

Langkah antisipasi juga dilakukan melalui pengelolaan irigasi dan pemanfaatan sumber air yang tersedia agar kebutuhan tanaman tetap terpenuhi.

Sigit menegaskan bahwa Kabupaten Cilacap masih memiliki potensi besar untuk mempertahankan statusnya sebagai salah satu lumbung padi nasional.

Dengan luas lahan yang besar, produktivitas petani yang terus ditingkatkan, serta dukungan berbagai program pemerintah di sektor pertanian, produksi padi diperkirakan masih mampu memenuhi kebutuhan masyarakat sekaligus menghasilkan surplus beras.

“Kalau surplus pasti, kami optimistis karena Kabupaten Cilacap masih menjadi salah satu lumbung padi nasional,” tegasnya.

Optimisme tersebut juga didukung pengalaman Kabupaten Cilacap yang selama bertahun-tahun menjadi daerah pemasok beras bagi berbagai wilayah di Indonesia.

Panen raya yang diperkirakan berlangsung pada September 2026 diharapkan tidak hanya meningkatkan pendapatan petani, tetapi juga memperkuat ketahanan pangan daerah.

Produksi beras yang melimpah akan membantu menjaga ketersediaan stok pangan, menekan potensi gejolak harga, serta memperkuat kontribusi Kabupaten Cilacap sebagai salah satu sentra produksi padi terbesar di Indonesia.

Dengan berbagai upaya yang dilakukan pemerintah daerah bersama petani, sektor pertanian Cilacap diharapkan tetap mampu berkembang meskipun menghadapi tantangan musim kemarau.

Keberhasilan menjaga produktivitas padi juga menjadi bagian penting dalam mendukung swasembada pangan dan memperkuat ketahanan pangan nasional. (jul/stch/dda)

Berita Sebelumnya
Dibangun Bertahap Selama Empat Tahun

Viral! Balai Desa Kemutug Kidul Banyumas Bergaya Istana Merdeka, Habiskan Anggaran 650 Juta