BANYUMASEKSPRES.ID, KEBUMEN – Musim kemarau yang disertai fenomena bediding atau cuaca dingin menjadi tantangan tersendiri bagi Balai Benih Ikan (BBI) Pringtutul di Desa Pringtutul, Kecamatan Rowokele, Kabupaten Kebumen.
Penurunan debit air serta meningkatnya risiko serangan penyakit ikan membuat pengelola harus melakukan perawatan kolam secara lebih intensif agar produksi benih tetap berjalan optimal.
Meski menghadapi berbagai kendala, BBI Pringtutul memastikan kegiatan pembenihan ikan masih berlangsung normal untuk memenuhi kebutuhan masyarakat maupun mendukung program bantuan benih ikan dari pemerintah.
Kepala BBI Pringtutul, Ismanto, menjelaskan bahwa tantangan terbesar selama musim kemarau adalah berkurangnya pasokan air yang masuk ke kolam melalui saluran inlet.
Berkurangnya debit air dapat memengaruhi kualitas air kolam sehingga berdampak langsung terhadap kesehatan indukan ikan.
Oleh karena itu, pengelola terus melakukan pemantauan agar kondisi kolam tetap ideal.
“Yang paling kami perhatikan saat musim kemarau ini adalah menjaga kualitas air. Debit air berkurang sehingga pengelolaan kolam harus lebih teliti agar indukan tetap sehat dan produktif,” ujar Ismanto.
Menurutnya, kualitas air yang baik menjadi faktor utama dalam menjaga pertumbuhan ikan sekaligus memastikan proses produksi benih tidak terganggu.
Selain penurunan debit air, fenomena bediding yang menyebabkan suhu udara menjadi lebih dingin juga meningkatkan risiko munculnya berbagai penyakit ikan, terutama infeksi jamur.
Perubahan suhu air yang terjadi secara mendadak dapat membuat ikan mengalami stres.
Kondisi tersebut mengakibatkan daya tahan tubuh ikan menurun sehingga lebih rentan terserang penyakit.
Ismanto mengatakan, selama musim bediding pihaknya meningkatkan pengawasan terhadap kesehatan ikan dengan rutin memantau kondisi kolam dan kualitas air.
“Pada musim bediding seperti sekarang memang banyak ikan yang terserang jamur karena suhu udara dingin. Yang terpenting adalah menjaga suhu kolam tetap stabil agar ikan tidak mudah stres,” jelasnya.
Untuk mengurangi risiko penyakit, BBI Pringtutul menerapkan berbagai langkah perawatan kolam.
Beberapa di antaranya adalah menjaga kestabilan suhu air, mengontrol tingkat keasaman (pH), mengatur volume air kolam, serta mengurangi kadar amonia yang dapat membahayakan kesehatan ikan.
Dengan kondisi air yang stabil, indukan ikan dapat tetap sehat sehingga proses pemijahan dan produksi benih berjalan dengan baik meski musim kemarau masih berlangsung.
Pengelolaan kualitas air secara rutin juga membantu meningkatkan tingkat keberhasilan pembenihan sekaligus menekan angka kematian ikan akibat penyakit.
BBI Pringtutul juga mengimbau para pembudidaya ikan di Kabupaten Kebumen agar lebih memperhatikan kondisi kolam selama musim kemarau.
Menurut Ismanto, menjaga kualitas air merupakan langkah sederhana namun sangat efektif untuk meningkatkan daya tahan ikan terhadap serangan penyakit.
Selain itu, pembudidaya disarankan rutin memantau kondisi kolam, membersihkan sisa pakan, dan memastikan sirkulasi air tetap berjalan agar kualitas lingkungan budidaya tetap terjaga.
Meskipun menghadapi keterbatasan pasokan air dan ancaman penyakit akibat cuaca dingin, BBI Pringtutul memastikan seluruh kegiatan produksi benih ikan tetap berlangsung.
Produksi tersebut dilakukan untuk memenuhi kebutuhan pembudidaya ikan di Kabupaten Kebumen sekaligus mendukung program pemerintah apabila sewaktu-waktu diperlukan penyaluran bantuan benih ikan kepada masyarakat.
Dengan pengelolaan kolam yang lebih teliti dan pengawasan kesehatan ikan secara intensif, BBI Pringtutul optimistis produksi benih tetap dapat dipertahankan sepanjang musim kemarau.
Langkah ini diharapkan mampu menjaga ketersediaan benih ikan berkualitas sekaligus mendukung keberlanjutan sektor perikanan budidaya di Kabupaten Kebumen. (mam/stch/dda)
















