BANYUMASEKSPRES.ID, BANYUMAS – Musim kemarau yang melanda Kabupaten Banyumas kembali memicu krisis air bersih di sejumlah wilayah.
Salah satu daerah yang paling terdampak adalah Grumbul Kalipancur, Desa Rancamaya, Kecamatan Cilongok, di mana ratusan kepala keluarga harus berjuang mendapatkan air untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Terbatasnya pasokan air bersih membuat sebagian warga terpaksa mencari alternatif.
Selain mengandalkan bantuan air bersih dari pemerintah melalui toren penampungan, mereka juga harus mencuci pakaian di saluran irigasi yang berada di Desa Panembangan, desa tetangga yang masih memiliki pasokan air mencukupi.
Kondisi tersebut telah menjadi rutinitas harian bagi warga selama musim kemarau berlangsung.
Salah satunya dialami Fitriyah, warga Grumbul Kalipancur, yang harus mengatur waktu agar seluruh kebutuhan rumah tangga tetap terpenuhi meski air di rumah sangat terbatas.
Setiap beberapa hari sekali, setelah mengantar anaknya ke sekolah, Fitriyah langsung menuju irigasi di Desa Panembangan dengan membawa pakaian kotor.
Setelah selesai mencuci, ia melanjutkan mengambil air bersih dari toren bantuan untuk kebutuhan memasak, mandi, dan keperluan rumah tangga lainnya.
“Kalau pagi sibuk mengantar anak sekolah, sekalian mampir cuci baju di irigasi Desa Panembangan. Habis itu baru ambil air. Capek, mbak, tapi dinikmati saja. Alhamdulillah torennya selalu diisi, jadi kebutuhan air masih aman,” ujarnya, Selasa (4/8/2026).
Menurut Fitriyah, aktivitas tersebut memang cukup melelahkan, namun menjadi satu-satunya pilihan selama sumber air di lingkungan tempat tinggalnya mengering akibat musim kemarau.
Hal serupa juga dirasakan Darto, warga lainnya di RW 4 Grumbul Kalipancur. Ia mengatakan sekitar 286 hingga 300 kepala keluarga di wilayah tersebut mengalami kesulitan memperoleh air bersih setiap kali musim kemarau datang.
Bahkan, persoalan kekeringan ini bukan hal baru. Dalam tiga tahun terakhir, warga selalu menghadapi kondisi serupa saat curah hujan menurun drastis.
“Kondisi seperti ini sudah terjadi sekitar tiga tahun terakhir kalau musim kemarau datang,” kata Darto.
Ia menjelaskan, untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, warga harus bolak-balik mengambil air dari toren bantuan hingga tiga kali dalam sehari.
Air tersebut digunakan secara hemat untuk kebutuhan memasak, mandi, mencuci peralatan rumah tangga, hingga kebutuhan lainnya.
Sementara itu, Kepala Desa Rancamaya, Amron, menjelaskan bahwa wilayah yang terdampak kekeringan saat ini terpusat di RW 4 atau Grumbul Kalipancur.
Pemerintah desa telah berkoordinasi dengan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Banyumas agar distribusi air bersih dapat dilakukan secara rutin.
“Pemerintah desa telah berkoordinasi dengan BPBD Banyumas sehingga dropping air dilakukan rutin setiap pekan sesuai kebutuhan,” ujarnya.
Saat ini terdapat empat titik toren air bersih yang disiapkan untuk melayani kebutuhan masyarakat.
Namun, satu toren dilaporkan sudah tidak dapat digunakan sehingga distribusi air difokuskan melalui titik penampungan yang masih berfungsi.
Meski demikian, pemerintah desa memastikan pasokan air bersih masih mampu memenuhi kebutuhan warga, termasuk dua pondok pesantren yang sebelumnya juga terdampak kekeringan.
Fenomena kekeringan di Desa Rancamaya menjadi bagian dari meluasnya dampak musim kemarau di Kabupaten Banyumas.
Berdasarkan data BPBD Banyumas hingga 23 Juli 2026, tercatat 18 desa dan kelurahan telah mengalami krisis air bersih.
Jumlah warga yang terdampak mencapai 4.814 kepala keluarga (KK) atau sekitar 15.575 jiwa.
Angka tersebut diperkirakan masih akan terus bertambah apabila musim kemarau berlangsung lebih lama.
Kepala Bidang Darurat dan Logistik BPBD Banyumas, Abdul Ladjis, mengatakan berbagai pihak telah berkolaborasi untuk memenuhi kebutuhan air bersih masyarakat.
Selama musim kemarau, BPBD bersama PDAM, BPJS Kesehatan, Balai Wilayah Sungai (BWS) Serayu, serta PMI telah menyalurkan 363 ribu liter air bersih ke berbagai wilayah terdampak.
“Per hari ini ada 18 desa terdampak dengan total 4.814 KK atau 15.575 jiwa. Air bersih yang sudah disalurkan mencapai 363 ribu liter,” jelasnya.
Menurut Abdul Ladjis, BPBD masih terus memantau perkembangan kondisi di lapangan karena puncak musim kemarau diperkirakan terjadi sepanjang Agustus.
Kondisi tersebut berpotensi meningkatkan jumlah desa terdampak sekaligus permintaan bantuan air bersih.
“Puncak kekeringan diperkirakan terjadi pada bulan Agustus sehingga BPBD tetap bersiaga mengantisipasi meningkatnya permintaan bantuan air bersih,” pungkasnya.
Pemerintah Kabupaten Banyumas mengimbau masyarakat menggunakan air secara bijak selama musim kemarau.
Sementara itu, BPBD memastikan distribusi bantuan air bersih akan terus dilakukan sesuai kebutuhan agar warga di daerah terdampak tetap mendapatkan akses air bersih hingga musim hujan kembali tiba. (zet/stch/dda)
















