Banyumas Ekspres
Dark ModeLight Mode

Pemkab Banyumas Bangun 136 Titik Irigasi Perpompaan, Tiga Kecamatan Jadi Prioritas

Irpom Belum Cukup Atasi KekeringanIrpom Belum Cukup Atasi Kekeringan
PENGAIRAN: Area persawahan di Kecamatan Kembaran, Banyumas yang tengah dialiri air menggunakan mesin pompa air, Senin (3/8)

BANYUMASEKSPRES.ID, BANYUMAS – Pemerintah Kabupaten Banyumas terus berupaya mengurangi dampak kekeringan yang setiap tahun mengancam sektor pertanian.

Melalui Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (Dinpertan), sebanyak 136 titik irigasi perpompaan (irpom) dibangun pada tahun 2026 untuk membantu memenuhi kebutuhan air bagi lahan pertanian, khususnya saat musim kemarau.

Meski jumlah tersebut tergolong besar, Dinpertan Banyumas mengakui pembangunan irigasi perpompaan masih belum mampu menjangkau seluruh lahan pertanian yang mengalami kekurangan air.

Keterbatasan kuota bantuan dari pemerintah pusat menjadi salah satu penyebab masih banyaknya sawah yang belum memperoleh fasilitas pengairan.

Kepala Bidang Sarana dan Prasarana Dinpertan Kabupaten Banyumas, Hery Jatmiko, menjelaskan bahwa kebutuhan irigasi perpompaan di wilayah Banyumas masih jauh lebih besar dibandingkan jumlah bantuan yang diterima dari Kementerian Pertanian.

Menurutnya, setiap tahun kelompok tani mengajukan pembangunan irigasi pompa di berbagai wilayah.

Namun, tidak semua usulan dapat direalisasikan karena keterbatasan alokasi dari pemerintah pusat.

“Kami menyadari masih banyak lahan pertanian yang belum memiliki pasokan air yang cukup saat musim kemarau. Namun, pembangunan irigasi pompa sangat bergantung pada kuota bantuan yang diberikan pemerintah pusat,” ujarnya.

Hery menegaskan, pembangunan 136 titik irigasi perpompaan bukan berarti seluruh persoalan kekeringan di Banyumas telah selesai.

Masih terdapat banyak wilayah yang membutuhkan tambahan sarana pengairan agar produktivitas pertanian tetap terjaga sepanjang tahun.

Dinpertan Banyumas berharap pemerintah pusat kembali membuka kesempatan pengajuan pembangunan irigasi perpompaan pada tahun mendatang.

Langkah tersebut dinilai penting karena mitigasi kekeringan seharusnya dipersiapkan sejak musim hujan, bukan ketika musim kemarau sudah berlangsung.

Dengan pembangunan yang dilakukan lebih awal, petani memiliki sumber air yang siap dimanfaatkan saat curah hujan mulai menurun.

Berdasarkan hasil pemetaan Dinpertan, terdapat tiga kecamatan yang memiliki tingkat kerawanan kekeringan paling tinggi, yaitu Kecamatan Pekuncen, Gumelar, dan Purwojati.

Ketiga wilayah tersebut memiliki karakter bentang alam yang minim sumber air permukaan sehingga lebih rentan mengalami kekeringan ketika musim kemarau tiba.

“Secara kondisi alam, Pekuncen, Gumelar, dan Purwojati memang termasuk wilayah yang cukup kering karena tidak memiliki banyak sumber air permukaan,” jelas Hery.

Karena itu, pembangunan sumur dalam diprioritaskan di tiga kecamatan tersebut agar mampu menjadi sumber air bagi lahan pertanian saat debit sungai maupun saluran irigasi menurun.

Pada tahun 2026, Dinpertan Banyumas menargetkan pembangunan 136 titik irigasi perpompaan yang tersebar di 27 kecamatan.

Program tersebut diharapkan mampu mendukung pengairan sekitar 7.000 hektare lahan pertanian tadah hujan yang selama ini sangat bergantung pada curah hujan.

Dengan adanya irigasi perpompaan, petani memiliki peluang lebih besar untuk mempertahankan produktivitas meskipun musim kemarau berlangsung lebih lama.

Hery menjelaskan, sistem irigasi perpompaan memanfaatkan sumur dalam yang dibor menggunakan pipa berdiameter enam inci.

Air tanah kemudian dipompa menggunakan tenaga listrik sebelum dialirkan melalui jaringan pipa menuju saluran irigasi maupun langsung ke area persawahan.

Teknologi ini dinilai efektif untuk menjaga ketersediaan air pada lahan pertanian yang jauh dari sumber air permukaan.

Selain membantu mengurangi risiko gagal panen akibat kekeringan, sistem tersebut juga diharapkan mampu meningkatkan produktivitas pertanian serta menjaga ketahanan pangan di Kabupaten Banyumas.

Ke depan, Dinpertan berharap pembangunan irigasi perpompaan dapat terus diperluas sehingga semakin banyak kelompok tani yang memperoleh akses air secara berkelanjutan.

Dengan dukungan infrastruktur pengairan yang memadai, sektor pertanian Banyumas diharapkan tetap produktif meski menghadapi musim kemarau yang berkepanjangan. (dms/stch/dda)

Berita Sebelumnya
Dikabarkan Bebas Agustus

Nikita Mirzani Dikabarkan Bebas Agustus, Ini Fakta Terbaru dari Rutan Pondok Bambu

Berita Selanjutnya
Beasiswa Kader Sang Surya UMS

Beasiswa Kader Sang Surya UMS 2026 Dibuka, Simak Cara Daftar dan Benefitnya