BANYUMASEKSPRES.ID, PURWOKERTO – Jalur Trans Banyumas Ajibarang–Pasar Pon dinilai memiliki potensi penumpang yang sangat besar.
Namun hingga saat ini, jumlah pengguna layanan transportasi umum tersebut belum mampu melampaui koridor lain karena masih menghadapi persaingan dengan angkutan konvensional yang beroperasi pada rute yang sama.
Dinas Perhubungan (Dishub) Kabupaten Banyumas menyebut trayek Terminal Ajibarang–Pasar Pon merupakan salah satu jalur dengan aktivitas masyarakat paling tinggi.
Meski demikian, keberadaan angkutan umum konvensional seperti mikrobus dan bus tiga per empat membuat Trans Banyumas harus berbagi pangsa pasar dengan moda transportasi yang sudah lebih dahulu melayani masyarakat.
Kepala Seksi Angkutan Dinas Perhubungan Banyumas, Muhammad Eka Nugraha, menjelaskan bahwa trayek tersebut termasuk kategori trayek gemuk, yakni jalur yang sudah dilayani banyak angkutan umum.
Kondisi tersebut membuat peluang peningkatan jumlah penumpang Trans Banyumas menjadi tidak semudah di koridor lain.
Menurut Eka, potensi penumpang di jalur Ajibarang–Pasar Pon sebenarnya sangat besar karena menghubungkan kawasan permukiman, pusat perdagangan, sekolah, hingga aktivitas ekonomi masyarakat.
Namun, tingginya jumlah moda transportasi yang melayani rute tersebut menyebabkan penumpang terbagi ke berbagai jenis angkutan.
Akibatnya, jumlah pengguna Trans Banyumas pada trayek Ajibarang–Pasar Pon masih berada di bawah koridor Notog–Baturraden yang justru mampu menarik lebih banyak penumpang setiap harinya.
Dishub Banyumas menilai, apabila jumlah Titik Pemberhentian Bus (TPB) di sepanjang jalur Ajibarang–Pasar Pon dapat ditambah, maka potensi peningkatan jumlah penumpang Trans Banyumas akan semakin besar.
Keberadaan TPB yang lebih banyak akan memudahkan masyarakat mengakses layanan transportasi tersebut tanpa harus berjalan terlalu jauh.
“Jika Titik Pemberhentian Bus (TPB) trayek Pasar Ajibarang–Pasar Pon bisa lebih banyak, penumpangnya bisa lebih tinggi,” ujar Muhammad Eka Nugraha.
Namun demikian, rencana penambahan TPB tidak bisa dilakukan begitu saja.
Dishub Banyumas mengungkapkan bahwa usulan tersebut mendapat penolakan dari sebagian pelaku angkutan konvensional yang khawatir kehilangan pelanggan.
Menurut Eka, baik Trans Banyumas maupun angkutan konvensional saat ini membidik kelompok penumpang yang hampir sama.
Sebagian besar pengguna berasal dari kalangan pelajar, pekerja, pedagang pasar, hingga masyarakat yang melakukan aktivitas harian di sepanjang jalur tersebut.
Karena menyasar segmen yang sama, penambahan titik pemberhentian dinilai berpotensi mengurangi pendapatan angkutan konvensional.
Hal inilah yang memunculkan resistensi terhadap rencana pengembangan layanan Trans Banyumas di koridor tersebut.
“Penambahan TPB di sebagian titik ditolak karena berpotensi mengurangi omzet angkutan konvensional,” jelas Eka.
Dishub Banyumas menegaskan bahwa pengembangan layanan transportasi publik harus tetap memperhatikan keseimbangan seluruh moda angkutan.
Pemerintah tidak ingin peningkatan layanan Trans Banyumas justru berdampak negatif terhadap pelaku angkutan konvensional yang selama ini masih menggantungkan mata pencaharian dari trayek tersebut.
Oleh sebab itu, setiap kebijakan pengembangan jaringan Trans Banyumas akan mempertimbangkan kondisi di lapangan, termasuk keberlangsungan usaha para pengemudi angkutan umum yang telah lama beroperasi.
Sebagai solusi jangka panjang, Dishub Banyumas menilai pengembangan Trans Banyumas sebaiknya difokuskan pada pembukaan trayek baru yang belum dilayani angkutan umum.
Skema tersebut dinilai lebih efektif karena dapat memperluas layanan transportasi publik tanpa memunculkan persaingan langsung dengan angkutan konvensional.
Konsep tersebut disebut mirip dengan layanan bus Damri yang membuka trayek-trayek perintis menuju wilayah yang belum memiliki layanan angkutan umum memadai.
Dengan cara itu, masyarakat tetap memperoleh akses transportasi, sementara pelaku angkutan konvensional tidak merasa dirugikan.
“Kecuali pengembangan Trans Banyumas hampir mirip dengan Damri, yaitu membuka trayek-trayek perintis. Itu tidak masalah karena tidak ada yang dirugikan,” pungkas Eka.
Ke depan, Dishub Banyumas berharap pengembangan Trans Banyumas dapat terus dilakukan secara bertahap dengan mempertimbangkan kebutuhan masyarakat sekaligus menjaga keberlangsungan angkutan konvensional.
Melalui perencanaan yang tepat, layanan transportasi publik di Kabupaten Banyumas diharapkan semakin efektif, nyaman, dan mampu menjangkau lebih banyak wilayah tanpa menimbulkan konflik antarmoda transportasi. (*/stch/dda)














