BANYUMASEKSPRES.ID, MAGELANG — Candi Borobudur kini dilengkapi fasilitas stairlift yang dipasang untuk mendukung aksesibilitas pengunjung dengan kebutuhan khusus. Langkah ini menjadi bagian dari pengembangan pariwisata inklusif di salah satu situs warisan dunia UNESCO yang paling ikonik di Indonesia.
Stairlift tersebut ditempatkan di tangga sisi selatan candi. Fungsinya adalah sebagai alat bantu naik-turun bagi pengunjung, khususnya mereka yang memiliki keterbatasan mobilitas.
Kehadirannya sekaligus menjadi bagian dari persiapan kunjungan Presiden RI Prabowo Subianto bersama Presiden Prancis Emmanuel Macron pada Kamis (29/5).
Pemasangan stairlift ini dilakukan tanpa merusak batuan candi. PT Aviasi Pariwisata Indonesia (InJourney) menegaskan, metode yang digunakan tidak melibatkan paku, bor, atau bentuk penetrasi lain yang berisiko mengganggu struktur bebatuan kuno.
Proses pemasangan dijadwalkan rampung hari ini agar pengecekan keseluruhan bisa dilakukan esok harinya. Hal ini penting untuk memastikan setiap elemen teknis berjalan sesuai standar, mengingat Candi Borobudur adalah destinasi unggulan yang memiliki nilai sejarah dan budaya tinggi.
Direktur Utama InJourney, Maya Watono, menyatakan bahwa pemasangan ini merupakan bagian dari masterplan pengembangan Borobudur yang telah dirancang sejak lama. Menurutnya, proyek tersebut juga mengacu pada prinsip Outstanding Universal Value (OUV) dari UNESCO.
“Kami tidak mungkin melanggar itu dan berani main-main dengan cagar budaya,” tegas Maya, Selasa (27/5).
Ia juga membantah rumor mengenai pemasangan eskalator. Penegasan ini dilakukan karena masih banyak anggapan keliru di masyarakat terkait jenis fasilitas yang dibangun. Maya menjelaskan, yang dipasang adalah stairlift, bukan eskalator, dan sifatnya tidak permanen.
“Pemasangan stairlift ini bersifat portable dan hanya digunakan pada momen tertentu. Letaknya di tangga sisi selatan dan tidak bersifat menyatu secara struktural dengan candi,” ungkapnya.
Menurut Maya, setiap tahap instalasi dilakukan dengan pengawasan ketat dari Kementerian Kebudayaan serta Museum dan Cagar Budaya Borobudur. Tujuannya agar aspek teknis dan estetika tetap selaras dengan kelestarian candi.
“Kami pastikan semua secara sipil maupun estetik tidak menyatu dengan candi dan tidak akan merusak candi. Tidak ada paku, bor, dan penetrasi batu candi,” jelasnya.
Maya juga menyampaikan bahwa kedatangan dua kepala negara tersebut menjadi momentum strategis untuk menunjukkan kepada dunia bahwa Candi Borobudur siap menjadi destinasi yang ramah dan inklusif bagi semua kalangan, termasuk penyandang disabilitas.
Ia berharap keberadaan stairlift ini tidak hanya berhenti pada penyambutan tamu kenegaraan, melainkan terus berlanjut seiring pengembangan fasilitas publik di kawasan Borobudur.
Implementasi teknologi ramah cagar budaya seperti ini juga berpotensi menarik wisatawan internasional yang memperhatikan faktor kenyamanan dan aksesibilitas.
Dengan begitu, pariwisata berbasis keberlanjutan dan inklusivitas dapat semakin diperkuat, tanpa mengorbankan integritas situs sejarah.
Langkah ini sekaligus memperlihatkan komitmen Indonesia dalam menjaga warisan budaya dunia, sembari tetap mengembangkan potensi ekonominya melalui sektor pariwisata berkelas dunia. (*/stch)
















