BANYUMASEKSPRES.ID, BANJARNEGARA – Komitmen Pemerintah Kabupaten Banjarnegara dalam mengangkat kopi arabika Kalibening sebagai komoditas unggulan semakin teguh.
Kopi khas dari dataran tinggi ini tidak hanya berpotensi meningkatkan perekonomian lokal tetapi juga memainkan peran penting dalam menjaga kelestarian lingkungan di kawasan tersebut.
Di Desa Karanganyar, terdapat lebih dari 300 petani yang mengelola sekitar 70 hektare lahan kopi.
Dengan adanya fasilitas baru dan dukungan pemerintah, para petani kini lebih optimistis dapat memproduksi kopi dengan standar ekspor.
Salah satu petani kopi Kalibening, Jito, menyampaikan harapannya agar kualitas kopi terus meningkat sehingga berdampak positif terhadap perekonomian petani.
Ia menyatakan bahwa bantuan pemerintah telah membawa perubahan signifikan bagi kehidupan para petani.
Jito menjelaskan bahwa pada musim hujan, penjemuran kopi secara manual bisa memakan waktu lama, mencapai lebih dari sebulan.
“Kalau manual, keringnya bisa sampai 40 hari. Tapi dengan rumah jemur ini, cukup 10 sampai 15 hari kopi sudah kering maksimal,” ungkapnya kepada Banyumas Ekspres.
Bupati Banjarnegara, dr Amalia Desiana, menegaskan bahwa kopi arabika Kalibening memiliki cita rasa unik dan kualitas yang mampu bersaing dengan kopi dari daerah lain di Jawa Tengah.
Melalui berbagai program termasuk UPLAND Project, pemerintah mendorong agar para petani tidak hanya berhenti pada tahap produksi mentah tetapi juga mampu mengolah hingga menghasilkan produk siap jual yang berkualitas tinggi di pasar nasional maupun internasional.
“Mudah-mudahan dengan adanya program UPLAND dan program lain di wilayah Kalibening ini bisa bermanfaat bagi warga,” ujar Amalia dalam kunjungannya pada Kamis (6/11).
Dalam kunjungan tersebut, Bupati Amalia juga menyerahkan bantuan bibit kopi kepada masyarakat Desa Bedana dan meresmikan rumah jemur kopi di Desa Karanganyar yang dibangun melalui program UPLAND.
Fasilitas ini dinilai sangat penting untuk memastikan biji kopi kering sempurna dan bebas dari serangan jamur.
“Rumah jemur ini salah satu upaya agar penjemuran lebih maksimal. Kalau dilakukan manual, potensi tumbuh jamur lebih besar. Dengan fasilitas ini, kopi bisa cepat kering dan terjaga kualitasnya,” jelasnya.
Rumah jemur yang berukuran 5×10 meter itu dilengkapi dengan blower otomatis yang memungkinkan proses pengeringan berlangsung cepat dan merata.
Menurut Amalia Desiana, sistem ini dapat memangkas waktu produksi secara signifikan sekaligus meningkatkan mutu hasil panen.
“Mudah-mudahan rumah jemur ini bisa memangkas waktu pengeringan dan memaksimalkan hasil panen kopi,” tambahnya penuh harap.
Langkah strategis yang diambil oleh Pemkab Banjarnegara ini sejalan dengan visi hilirisasi pertanian lokal yaitu memperkuat posisi petani dari hulu ke hilir agar tidak hanya menjadi produsen bahan mentah saja tetapi juga pelaku industri pertanian yang berdaya saing tinggi.
Pemerintah juga merencanakan untuk memperluas pelatihan bagi para petani menyediakan peralatan modern serta mendorong pembentukan koperasi petani kopi agar mampu menembus pasar nasional hingga internasional.
Tidak hanya berfokus pada aspek ekonomi semata pengembangan kopi arabika Kalibening juga memberikan dampak ekologis yang positif bagi lingkungan sekitar.
Penanaman pohon kopi di lereng pegunungan membantu dalam konservasi lahan sekaligus meningkatkan penyerapan air tanah menciptakan keseimbangan ekosistem yang lebih baik dan berkelanjutan. (jud/dda)
















