BANYUMASEKSPRES.ID, BANYUMAS – Suasana Embung Alasmalang di Desa Alasmalang, Kecamatan Kemranjen, Kabupaten Banyumas setiap Minggu pagi selalu dipenuhi masyarakat yang berolahraga, berjalan santai, bersepeda, hingga menikmati waktu bersama keluarga.
Namun, di tengah ramainya aktivitas tersebut, hadir sebuah pemandangan berbeda yang menarik perhatian para pengunjung, terutama anak-anak.
Perpustakaan Al-Mizan Desa Alasmalang membuka lapak baca gratis di kawasan embung sebagai upaya mendekatkan budaya literasi kepada masyarakat.
Program ini menjadi inovasi sederhana yang bertujuan meningkatkan minat baca sekaligus mengajak masyarakat memanfaatkan waktu luang dengan kegiatan yang bermanfaat.
Di antara deretan pedagang makanan dan minuman, berdiri sebuah stan sederhana yang dipenuhi rak-rak berisi ratusan buku berwarna-warni. Tidak ada jajanan yang ditawarkan dari tempat tersebut.
Sebaliknya, pengunjung disuguhi beragam buku cerita anak, buku pengetahuan, hingga bacaan umum yang dapat dibaca secara gratis.
Wakil Ketua Perpustakaan Al-Mizan Desa Alasmalang, Roniyah, mengatakan konsep lapak baca sengaja dibawa ke ruang publik agar masyarakat tidak harus datang ke perpustakaan untuk menikmati koleksi buku.
“Kami membawa sekitar 200 buku cerita anak dan beberapa buku bacaan umum agar masyarakat bisa membaca sambil menikmati suasana Embung Alasmalang,” ujarnya.
Dengan menggunakan pengeras suara, Roniyah bersama tim secara aktif mengajak para pengunjung, khususnya anak-anak, untuk mampir dan membaca buku. Ajakan tersebut mendapat sambutan positif.
Banyak anak yang awalnya bermain di sekitar embung kemudian menghampiri stan literasi dan memilih buku sesuai minat mereka.
Beberapa anak langsung duduk membaca di sekitar lokasi, sementara lainnya tampak saling bertukar buku dengan teman-temannya.
Suasana itu menciptakan pemandangan yang jarang ditemui di ruang terbuka, ketika aktivitas membaca mampu bersanding dengan kegiatan olahraga dan rekreasi keluarga.
Menurut Roniyah, Embung Alasmalang merupakan lokasi yang sangat strategis karena setiap akhir pekan selalu dipadati masyarakat.
Keramaian tersebut menjadi peluang untuk memperkenalkan budaya membaca kepada lebih banyak orang.
Ia menjelaskan bahwa konsep yang diusung Perpustakaan Al-Mizan adalah membalik kebiasaan lama.
Jika biasanya masyarakat harus datang ke perpustakaan, kini justru perpustakaan yang mendatangi masyarakat.
Melalui pendekatan tersebut, membaca diharapkan tidak lagi dianggap sebagai aktivitas yang hanya bisa dilakukan di ruang perpustakaan yang tenang.
Sebaliknya, literasi dapat hadir di mana saja, termasuk di ruang terbuka yang ramai dengan aktivitas masyarakat.
Roniyah menilai menjaga kesehatan bukan hanya dilakukan melalui olahraga, tetapi juga dengan memberikan asupan pengetahuan bagi otak melalui kegiatan membaca.
“Bukan hanya fisik yang perlu dijaga kebugarannya, otak juga membutuhkan makanan berupa bacaan, apalagi di era digital ketika masyarakat sangat dekat dengan gadget,” jelasnya.
Program lapak baca juga menjadi salah satu cara mengurangi ketergantungan anak terhadap penggunaan gawai.
Dengan menyediakan buku-buku menarik, anak-anak diajak menikmati pengalaman membaca secara langsung di lingkungan yang menyenangkan.
Perpustakaan Al-Mizan sendiri masih tergolong baru. Perpustakaan desa tersebut berdiri pada tahun 2025 dan saat ini memiliki sekitar 1.000 eksemplar buku fiksi yang berasal dari bantuan Perpustakaan Nasional serta berbagai donasi masyarakat.
Meski koleksi buku belum sebanyak perpustakaan besar, semangat para pengelolanya untuk menumbuhkan budaya literasi tidak pernah surut.
Bersama Siti Mutahiroh dan Istiqomah, Roniyah terus menghadirkan berbagai inovasi agar masyarakat semakin dekat dengan buku.
Selama kegiatan berlangsung mulai pukul 07.00 hingga 09.00 WIB, antusiasme anak-anak terlihat sangat tinggi.
Bahkan beberapa di antaranya kembali berkali-kali ke stan untuk menukar buku yang telah selesai dibaca dengan judul lain.
“Alhamdulillah, anak-anak sangat antusias. Ada yang sampai tiga kali mengganti buku karena ingin membaca lebih banyak cerita,” ungkap Roniyah.
Keberhasilan kegiatan tersebut mendorong Perpustakaan Al-Mizan menjadikan lapak baca di Embung Alasmalang sebagai agenda rutin.
Ke depan, pengelola juga berencana melibatkan generasi muda, khususnya kalangan Generasi Z, untuk ikut menjadi relawan sekaligus penggerak literasi di masyarakat.
Melalui program ini, Embung Alasmalang tidak hanya menjadi destinasi olahraga dan rekreasi, tetapi juga berkembang menjadi ruang belajar yang terbuka bagi semua kalangan.
Pengelola berharap semakin banyak masyarakat, terutama anak-anak, yang mencintai buku dan menjadikan membaca sebagai kebiasaan sehari-hari.
Di tengah derasnya arus informasi digital, kehadiran lapak baca sederhana ini diharapkan mampu melahirkan generasi yang gemar belajar, berpikir kritis, serta memiliki budaya literasi yang kuat demi mendukung pembangunan sumber daya manusia yang berkualitas di Kabupaten Banyumas. (fij/stch/dda)
















