BANYUMASEKSPRES.ID, TEMANGGUNG – Produksi kopi di Kabupaten Temanggung pada tahun ini diperkirakan akan mengalami penurunan yang signifikan, yakni berkisar antara 15 hingga 20 persen.
Penurunan ini disebabkan oleh faktor cuaca, khususnya hujan tinggi yang terjadi pada masa pembungaan tanaman kopi di tahun lalu.
Kepala Bidang Hortikultura dan Perkebunan (Hortibun) Dinas Ketahanan Pangan, Pertanian, dan Perikanan (DKPPP) Temanggung, Sumarno, menyampaikan bahwa indikasi penurunan produksi sudah terlihat jelas dari kondisi tanaman di lapangan.
“Memang terpengaruh musim tahun kemarin. Saat pembungaan terjadi kemarau basah, sehingga bunga banyak yang rontok,” ujarnya menjelaskan.
Situasi ini menunjukkan betapa besar dampak perubahan cuaca terhadap hasil pertanian, terlebih lagi bagi komoditas penting seperti kopi yang menjadi salah satu andalan perekonomian daerah.
Saat ini, persiapan untuk panen kopi arabika sudah mulai dilakukan. Di sisi lain, panen untuk varietas robusta diperkirakan akan berlangsung antara bulan Juli hingga Agustus mendatang.
Tahun sebelumnya, produksi kopi di Temanggung tercatat mencapai 9.000 ton.
Meskipun ada prediksi penurunan produksi, Sumarno tetap optimis bahwa hasil panen kali ini dapat terserap dengan baik di pasar, baik oleh pembeli lokal maupun perusahaan besar.
“Sejumlah wilayah seperti Candiroto, Ngadirejo, dan Kandangan menjadi pusat pembelian kopi lokal,” tambahnya.
Beberapa perusahaan bahkan secara rutin membeli kopi dari Temanggung dalam jumlah besar untuk kebutuhan ekspor.
“Biasanya mereka membeli dalam jumlah ratusan ton dan sebagian untuk ekspor ke luar negeri,” katanya menekankan pentingnya peran pasar luar negeri bagi petani lokal.
Dari sisi luasan perkebunan, Temanggung memiliki lahan untuk kopi robusta seluas 12.200 hektare dan 1.600 hektare untuk kopi arabika.
Pemerintah juga terus berupaya mendorong pengembangan sektor pertanian ini melalui program bantuan bibit dan peremajaan tanaman.
Tahun ini, bantuan dari pemerintah pusat mencapai 500 hektare untuk penanaman baru kopi arabika dengan total sekitar 500.000 bibit.
“Animo masyarakat untuk menanam kopi cukup tinggi. Ini kami dukung dengan bantuan bibit dan perluasan lahan tanam,” tambah Sumarno memberikan harapan bagi para petani yang ingin meningkatkan produktivitas mereka di masa depan.
Di tengah tantangan cuaca yang tidak menentu, harga kopi di tingkat petani saat ini relatif stabil.
Untuk kopi robusta basah dibanderol sekitar Rp 13 ribu per kilogram (kg), sedangkan green bean robusta berkisar antara Rp 65 ribu hingga Rp 80 ribu per kg.
Untuk kualitas terbaik dari kopi arabika, harganya dapat mencapai Rp 165 ribu per kg.
Melihat perkembangan harga yang stabil tersebut tentunya memberikan sedikit angin segar bagi para petani di Temanggung menghadapi tantangan produksi yang menurun.
Dengan adanya dukungan pemerintah serta semangat masyarakat untuk terus menanam dan mengembangkan perkebunan kopi, harapan akan masa depan industri kopi di daerah ini tetap ada meski harus melewati masa-masa sulit. (*/stch/dda)
















