BANYUMASEKSPRES.ID, BANJARNEGARA – Ratusan kader dakwah yang terhimpun dalam Ikatan Dai Indonesia (IKADI) Kabupaten Banjarnegara berkumpul dengan penuh perhatian pada Selasa, 3 Maret 2026.
Acara yang berlangsung di Hotel Surya Yudha ini menampilkan seorang ulama tamu dari Gaza, Palestina, Syaikh Yasir Sholah Arafat.
Dalam suasana hening dan khusyuk, Syaikh Yasir membagikan metode hafalan Al-Qur’an yang dia kembangkan berdasarkan keteguhan masyarakat Gaza dalam menghadapi berbagai keterbatasan.
Kegiatan ini bukanlah sekadar kajian biasa, melainkan sebuah pelatihan teknis yang bertujuan untuk memperkuat kualitas kader dakwah, khususnya dalam penguasaan Al-Qur’an.
Ketua IKADI Banjarnegara, Khaerul Mudakir, menjelaskan bahwa pelatihan ini diadakan agar para dai memiliki fondasi hafalan yang kuat.
“Kami ingin para dai memiliki bekal utama saat membimbing umat,” ungkapnya dengan semangat.
Khaerul menambahkan bahwa pengalaman masyarakat Gaza dalam menjaga tradisi hafalan Al-Qur’an layak dijadikan rujukan bagi para kader dakwah di Indonesia.
Meski hidup dalam kondisi konflik dan terbatasnya fasilitas pendidikan, semangat untuk menghafal Al-Qur’an tidak pernah surut.
“Kami mendengar ada lebih dari 420 anak di Gaza yang hafal Al-Qur’an meski hidup dalam pengungsian. Itu luar biasa. Semangat dan metodenya ingin kami pelajari,” ujarnya dengan penuh keyakinan.
Dalam sesi pelatihan tersebut, Syaikh Yasir Sholah Arafat menekankan pentingnya niat dan kedisiplinan dalam proses menghafal Al-Qur’an.
Dia menyebutkan tiga hal mendasar yang harus diperhatikan oleh para peserta, yaitu niat yang kuat, doa yang konsisten dan bimbingan dari guru yang kompeten.
Menurutnya, keberhasilan dalam menghafal tidak hanya ditentukan oleh teknik semata tetapi juga oleh komitmen batin.
Secara teknis, Syaikh Yasir memberikan saran agar para peserta menggunakan satu mushaf yang sama secara konsisten untuk memudahkan daya ingat visual mereka.
“Jangan sering berganti mushaf. Gunakan satu saja dan tandai dengan pensil bagian yang masih keliru,” ujarnya, menekankan pentingnya konsistensi dalam proses belajar.
Metode pengulangan menjadi inti dari cara yang diterapkan Syaikh Yasir. Setiap ayat dibaca berulang kali antara tiga hingga sepuluh kali sebelum beralih ke ayat berikutnya.
Setelah menambahkan ayat kedua, ayat pertama kembali diulang bersama ayat kedua hingga satu halaman selesai.
“Misalnya ayat pertama diulang sepuluh kali dan ayat kedua sepuluh kali. Lalu keduanya dibaca bersama sepuluh kali untuk menguatkan sambungan,” jelasnya.
Lebih lanjut, dia mengingatkan peserta tentang pentingnya menjaga kesinambungan antarhalaman saat menghafal Al-Qur’an.
Ayat terakhir di halaman sebelumnya perlu diulang dan disambungkan dengan ayat pertama di halaman berikutnya agar hafalan tidak terputus.
Dengan metode ini, Syaikh Yasir berharap para kader dakwah dapat memiliki kemampuan menghafal Al-Qur’an yang lebih baik serta dapat mengajarkannya kepada umat dengan efektif.
Kehadiran Syaikh Yasir sebagai narasumber merupakan sebuah kesempatan emas bagi para kader IKADI Banjarnegara untuk menggali lebih dalam tentang metode hafalan Al-Qur’an yang berasal dari pengalaman masyarakat Gaza.
Dalam situasi sulit seperti yang dialami oleh masyarakat Palestina, mereka tetap mampu mempertahankan tradisi menghafal Al-Qur’an sebagai bagian dari identitas budaya dan spiritual mereka.
Pelatihan ini juga menjadi momentum bagi para peserta untuk merenungkan tantangan yang mereka hadapi dalam proses belajar mengajar agama Islam di Indonesia.
Khaerul Mudakir mengatakan bahwa tantangan terbesar adalah bagaimana menjaga semangat belajar di tengah banyaknya distraksi dan kemudahan teknologi saat ini.
Namun demikian, dia yakin bahwa dengan bimbingan dan komitmen bersama, kader dakwah IKADI akan mampu menghadapi tantangan tersebut.
Semangat kebersamaan dan saling berbagi ilmu sangat terasa dalam setiap sesi pelatihan ini.
Para kader tidak hanya belajar dari Syaikh Yasir tetapi juga saling berbagi pengalaman mengenai cara-cara mereka sendiri dalam menghafal Al-Qur’an.
Diskusi interaktif berlangsung hangat ketika peserta saling bertanya tentang berbagai kendala yang mereka hadapi serta bagaimana mereka bisa saling membantu satu sama lain.
Menghadapi tantangan zaman modern adalah sebuah keharusan bagi setiap kader dakwah untuk terus memperbaharui diri dan metodenya dalam menyampaikan ajaran Islam kepada umat manusia.
Pelajaran berharga dari Gaza dapat menjadi inspirasi bagi setiap orang untuk tidak menyerah meskipun berada dalam keadaan sulit sekalipun.
Dengan pemahaman mendalam tentang pentingnya teknik hafalan serta dedikasi tinggi dari para dai muda ini, harapan akan lahirnya generasi penghafal Al-Qur’an semakin nyata. (jud/stch/dda)
















