BANYUMASEKSPRES.ID, BANYUMAS – Kerusakan aspal yang terjadi di perlintasan rel kereta api JPL 501 Sumpiuh telah menimbulkan keluhan yang meluas dari berbagai pengguna jalan.
Kondisi ini dianggap sangat berbahaya, terutama bagi pengendara sepeda motor yang harus melintasi area tersebut di tengah kepadatan arus lalu lintas.
Dalam beberapa hari terakhir, banyak komentar dan pendapat yang muncul di media sosial, mulai dari berbagi tips berkendara hingga mendorong solusi infrastruktur jangka panjang.
Beberapa warganet merasa bahwa teori berkendara di atas rel tidak mudah diterapkan dalam kondisi nyata yang mereka hadapi.
Salah satu pengguna media sosial, Agus Teluk, menyoroti kesulitan yang dialami saat melintas di rel kereta yang melintang.
Ia menyatakan bahwa situasi riil saat melintasi rel jauh dari harapan, terutama ketika pintu perlintasan baru dibuka setelah kereta lewat, sehingga menyebabkan penumpukan kendaraan dan ruang gerak menjadi sangat terbatas.
“Maunya sih motong lurus jangan miring dengan rel, tapi kondisi di lapangan tidak mudah guys. Memposisikan motor lurus untuk motong lurus rel susah, apalagi bila rel dan jalan aspal basah karena hujan. Sementara motor di belakang kita antre,” ungkapnya.
Selain Agus, komentar lain juga datang dari Rooze Abu Syarif yang mengusulkan pembangunan flyover sebagai solusi permanen untuk masalah ini.
Menurutnya, langkah tersebut sangat relevan terutama di kawasan dengan tingkat kepadatan lalu lintas yang tinggi.
“Fly over kayaknya bisa jadi solusi,” ujarnya dengan optimis.
Ia juga memberikan contoh beberapa wilayah lain seperti Purwosari Solo, Alastua Semarang, dan Genefo Mranggen yang sudah menerapkan konsep serupa dan berhasil mengurangi risiko kecelakaan.
Kepala Bidang Jalan dan Drainase Dinas Pekerjaan Umum Kabupaten Banyumas Rusli Kurnia menanggapi usulan tersebut dengan menjelaskan bahwa proposal pembangunan flyover sebenarnya sudah pernah diajukan sebelumnya.
Namun, perubahan status jalan dari nasional menjadi jalan kabupaten menjadi kendala utama dalam hal pembiayaan proyek tersebut.
Menurut Rusli, kemampuan anggaran daerah saat ini tidak memungkinkan untuk membiayai pembangunan flyover secara mandiri.
Untuk itu, opsi pendanaan melalui Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) menjadi satu-satunya jalur realistis untuk merealisasikan proyek berskala besar semacam itu.
“Paling mengusulkan lewat APBN, tapi APBN sudah membuat jalan jalur lingkar utara Sumpiuh-Tambak yang salah satu fungsinya menghindari perlintasan rel kereta api,” papar Rusli dalam sebuah wawancara pada Rabu (22/4).
Hal ini menunjukkan adanya keterbatasan dalam hal pendanaan infrastruktur yang dialami oleh pemerintah daerah.
Lebih lanjut, Rusli menekankan pentingnya melakukan kajian mendalam sebelum melaksanakan pembangunan infrastruktur besar seperti flyover.
Setiap proyek perlu mempertimbangkan keseimbangan antara besaran anggaran dan manfaat yang akan diterima masyarakat luas.
Oleh karena itu, sebelum memutuskan untuk membangun flyover atau infrastruktur lainnya, diperlukan analisis yang komprehensif agar dapat memberikan dampak positif bagi masyarakat tanpa membebani anggaran daerah.
Sebagai langkah sementara untuk mengatasi masalah ini, pemerintah menyarankan pengalihan arus lalu lintas bagi pengendara roda dua yang hendak melintasi perlintasan rel Sumpiuh.
Rusli menjelaskan bahwa terdapat akses alternatif di dekat pintu perlintasan yang dilengkapi dengan rambu berhenti.
Jalur alternatif ini terhubung dengan dua titik underpass yang bisa dimanfaatkan oleh pengguna jalan untuk menghindari perlintasan rel kereta api. (fij/stch/dda)
















