BANYUMASEKSPRES.ID, Artis sinetron FTV, Safa Marwah, mengungkapkan pengalaman mengejutkannya saat ditawari untuk melakukan video call sex (VCS) oleh Alexander Assad, suami dari selebgram Clara Shinta.
Tawaran tersebut datang dengan harga yang cukup mencengangkan, yaitu Rp 1 juta.
Pengakuan ini disampaikan oleh Safa Marwah dalam sebuah obrolan santai bersama Dinar Candy, yang diunggah melalui akun Instagram pribadi DJ tersebut.
Dalam video berdurasi singkat itu, Dinar Candy bertanya kepada Safa Marwah mengenai kabar yang beredar bahwa Alexander Assad pernah mengajaknya untuk melakukan VCS.
“Besti, mau tanya. Katanya yang lagi ramai VCS sekarang pernah ngajak kamu VCS ya?” tanya Dinar Candy dengan nada penasaran.
Safa Marwah pun tanpa ragu membenarkan pertanyaan tersebut. Dia menjelaskan bahwa tawaran tersebut memang pernah terjadi.
Safa mengungkapkan keheranannya ketika dia ditawari Rp 1 juta untuk melakukan VCS.
“Iya pernah. Terus, kan aku kepo ya, mau ngasih berapa? Dia bilang satu juta. Satu juta mah cuma buat makan kucing aku doang,” ujar Safa Marwah dengan nada bercanda namun menyiratkan ketidakpuasan terhadap jumlah yang ditawarkan.
Reaksi Dinar Candy menunjukkan betapa terkejutnya dia mendengar pengakuan Safa.
Dia kemudian menanyakan apakah Safa dapat melakukan VCS. Dengan tegas, Safa menjawab bahwa dia tidak menerima tawaran tersebut dan hanya ingin tahu berapa angka yang ditawarkan oleh Alexander Assad.
Ini menandakan bahwa meski ada tawaran tersebut, Safa Marwah memiliki prinsip yang jelas mengenai batasan dalam dunia entertainment.
Safa Marwah juga menyatakan rasa herannya terhadap perempuan lain yang bersedia melakukan tindakan tak senonoh seperti itu dengan suami Clara Shinta.
“Kok mau ya itu cewek,” ujarnya dengan nada penasaran dan sedikit skeptis tentang keputusan perempuan lain yang terlibat dalam VCS.
Kasus tawaran VCS ini bukanlah hal baru dalam dunia hiburan Indonesia, di mana banyak artis dan tokoh publik seringkali mengalami situasi serupa.
Namun, pengakuan dari Safa Marwah memberikan sudut pandang yang berbeda mengenai bagaimana tawaran semacam ini bisa bernilai sangat rendah dibandingkan dengan integritas dan harga diri seseorang sebagai publik figur.
Tindakan Alexander Assad dalam menawarkan uang untuk tindakan semacam itu menimbulkan banyak pertanyaan tentang etika dan perilaku di kalangan para selebriti dan orang-orang di sekitar mereka.
Selama beberapa tahun terakhir, fenomena VCS telah menjadi semakin umum di media sosial dan platform digital lainnya.
Munculnya tawaran-tawaran seperti ini menunjukkan adanya tekanan yang mungkin dialami oleh banyak artis muda untuk memenuhi ekspektasi pasar atau bahkan menjaga reputasi mereka tetap relevan.
Safa Marwah pun menegaskan pentingnya untuk tetap menjaga integritas pribadi di tengah maraknya tawaran-tawaran yang bisa merugikan reputasi seseorang.
Sikap tegasnya untuk tidak terlibat dalam aktivitas yang dianggap tidak etis ini patut dicontoh oleh generasi muda lainnya agar bisa lebih bijak dalam mengambil keputusan terkait karier mereka.
Di sisi lain, situasi ini juga menggambarkan bagaimana masyarakat kita sering kali terjebak dalam nilai-nilai materialistis yang dapat merusak moralitas individu.
Tawaran Rp 1 juta untuk VCS mungkin tampak sepele bagi sebagian orang, tetapi bagi Safa Marwah itu hanyalah angka kecil dibandingkan dengan nilai dirinya sebagai seorang wanita dan artis.
Banyak orang mungkin bertanya-tanya tentang dampak dari skandal semacam ini terhadap karier seorang artis.
Dalam kasus Safa Marwah, pengakuannya justru membuat namanya semakin dikenal publik dan memicu diskusi penting mengenai moralitas dalam industri hiburan Indonesia.
Hal ini menunjukkan bahwa meskipun ada risiko reputasi yang bisa saja terganggu, kejujuran dan transparansi justru dapat meningkatkan kredibilitas seorang artis di mata publik. (*/stch/dda)
















