BANYUMASEKSPRES.ID, BANJARNEGARA – Pelaksanaan penyembelihan dam haji oleh jemaah asal Kabupaten Banjarnegara berlangsung di beberapa lokasi hingga akhir hari tasyrik.
Kegiatan ini tidak hanya menjadi bagian penting dari rangkaian ibadah haji, tetapi daging hasil penyembelihan juga ditasyarufkan atau dibagikan kepada masyarakat yang membutuhkan di berbagai daerah.
Eti Sofiyatul Muyasaroh, Kasi Bina dan Pelayanan Haji dan Umrah Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) Kabupaten Banjarnegara, menjelaskan bahwa pelaksanaan dam di Banjarnegara difasilitasi oleh sejumlah Kelompok Bimbingan Ibadah Haji dan Umrah (KBIHU).
Beberapa jemaah memilih untuk melaksanakan dam di tanah air, sedangkan yang lainnya tetap melaksanakannya di Arab Saudi.
“Kalau yang melaksanakan dam di tanah air itu ada tiga KBIHU, yaitu KBIHU Miftahul Jannah, Muhammadiyah, dan Al Fatah,” ungkapnya.
KBIHU Miftahul Jannah mencatat bahwa sebanyak 130 jemaah melaksanakan dam di tanah air dan 55 jemaah di Arab Saudi, sehingga totalnya mencapai 185 jemaah.
Proses penyembelihan dilakukan secara bertahap pada tanggal 17, 23, dan 25 Mei 2026.
Di sisi lain, KBIHU Muhammadiyah memfasilitasi sebanyak 263 jemaah yang melakukan dam di tanah air serta 39 jemaah di Arab Saudi, menjadikan total keseluruhan jemaah dari KBIHU ini mencapai 302 orang.
Pelaksanaan penyembelihan dilakukan bertepatan dengan Hari Raya Iduladha.
Sementara itu, KBIHU Al Fatah mencatat bahwa sebanyak 294 jemaah melaksanakan penyembelihan dam di tanah air.
Proses penyembelihan dari kelompok ini berlangsung pada tanggal 28 hingga 29 Mei 2026.
Seluruh jemaah yang tergabung dalam KBIHU Tambihul Ghofilin memilih untuk melaksanakan penyembelihan dam sepenuhnya di Arab Saudi.
Eti menambahkan bahwa pelaksanaan dam di tanah air masih menjadi salah satu pilihan bagi sebagian jemaah haji Indonesia.
Walaupun terdapat perbedaan pandangan dalam masyarakat mengenai hal ini, pelaksanaannya diperbolehkan sesuai ketentuan yang berlaku.
“Secara nasional sekitar 20 persen jemaah Indonesia tahun ini melaksanakan dam di tanah air. Termasuk jemaah asal Banjarnegara, sebagian juga memilih opsi tersebut,” ujarnya.
Untuk mendukung kelancaran pelaksanaan penyembelihan dam tersebut, masing-masing KBIHU telah menjalin kerja sama dengan pemasok hewan.
Kambing yang digunakan untuk dam kemudian didistribusikan langsung ke lokasi penyembelihan sesuai kebutuhan para jemaah.
“Daging hasil penyembelihan dam selanjutnya dibagikan kepada masyarakat yang membutuhkan. Sebagian dibagikan langsung oleh keluarga jemaah kepada warga sekitar, sementara sebagian lainnya disalurkan melalui lembaga sosial yang bekerja sama dengan KBIHU,” jelas Eti.
Penting untuk dicatat bahwa dam berupa seekor kambing adalah kewajiban yang harus ditunaikan oleh jemaah yang menjalankan ibadah haji tamattu.
Penyembelihan dilakukan pada hari-hari tertentu dalam rangkaian ibadah haji sebagai bentuk pemenuhan kewajiban ibadah.
Di tengah suasana khidmat Hari Raya Iduladha, momen penyembelihan ini tidak hanya menjadi ritual keagamaan tetapi juga sarana untuk berbagi berkah kepada sesama.
Daging hasil penyembelihan sangat berarti bagi masyarakat kurang mampu yang mungkin tidak mampu membeli daging untuk merayakan Iduladha.
Melalui kegiatan ini, kita dapat melihat bagaimana nilai-nilai solidaritas dan kepedulian sosial terpancar dalam setiap tindakan para jemaah haji.
Berbagai kelompok bimbingan haji seperti KBIHU juga memainkan peran penting dalam memastikan bahwa proses pelaksanaan ibadah haji berjalan lancar dan sesuai dengan ketentuan syariat Islam.
Dalam konteks ini, kerja sama antara KBIHU dan pemasok hewan sangat penting agar setiap aspek dari ibadah dapat dilaksanakan dengan baik tanpa ada kendala.
Seiring dengan meningkatnya jumlah jemaah haji setiap tahun, tantangan dalam pelaksanaan kegiatan seperti penyembelihan dam pun semakin kompleks.
Namun demikian, komitmen para pengurus KBIHU untuk memberikan layanan terbaik bagi para jemaah menunjukkan dedikasi mereka terhadap tugas mulia ini.
Dalam beberapa tahun terakhir, minat masyarakat untuk beribadah haji semakin meningkat seiring dengan kemudahan akses informasi dan layanan terkait perjalanan ibadah haji.
Hal ini tentu saja membawa dampak positif bagi perekonomian daerah serta meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai praktik-praktik keagamaan yang benar.
Melihat fenomena ini juga mengingatkan kita akan pentingnya pendidikan agama bagi masyarakat luas agar mereka memiliki pengetahuan yang memadai mengenai ibadah haji serta kewajiban-kewajibannya termasuk dalam hal penyembelihan dam.
Dengan pengetahuan yang cukup, masyarakat bisa lebih memahami makna dari setiap ritual yang dilakukan selama menunaikan ibadah haji. (far/stch/dda)
















