BANYUMASEKSPRES.ID, JAKARTA – Tarif impor mobil ke Amerika Serikat diperkirakan mulai turun pada Juli 2025. Optimisme ini disampaikan oleh Kepala Keuangan BMW, Walter Mertl, yang menyebutkan bahwa penurunan tarif menjadi faktor penting dalam menjaga stabilitas bisnis otomotif global, khususnya bagi produsen mobil Eropa seperti BMW.
“Ketidakpastian geopolitik dan ekonomi makro telah mencapai tingkat yang jarang kita lihat sebelumnya. Perusahaan akan terus memantau dampaknya terhadap minat konsumen untuk membeli mobil,” ujar Walter dalam keterangan resminya.
BMW menjadi salah satu dari sedikit produsen otomotif besar yang masih mempertahankan proyeksi keuangannya untuk tahun ini. Sementara itu, sejumlah pesaingnya seperti Mercedes-Benz, Ford, dan Stellantis telah menarik prediksi kinerja mereka karena ketidakjelasan kebijakan tarif AS.
BMW memperkirakan laba sebelum pajak di 2025 akan tetap setara dengan tahun 2024. Margin keuntungan dari penjualan mobil premium juga ditargetkan berada di kisaran 5–7 persen, dengan asumsi penurunan tarif terjadi sesuai proyeksi pada pertengahan tahun.
Laporan keuangan kuartal pertama 2025 menunjukkan kinerja positif bagi BMW. Saham perusahaan naik 2,1 persen, dengan unit otomotif mencetak keuntungan operasional sebesar 2,02 miliar euro, melampaui ekspektasi analis sebesar 1,85 miliar euro.
Meski margin operasional menurun dari 8,8 persen menjadi 6,9 persen dibanding tahun lalu, hasil ini masih lebih tinggi dari perkiraan analis yang sebesar 6,3 persen.
“Tekanan pada industri otomotif saat ini sudah diketahui dan telah meninggalkan jejaknya pada beberapa raksasa industri. Oleh karena itu, semakin luar biasa bahwa BMW mampu memenuhi targetnya untuk saat ini,” ujar Helge Rechberger dari Raiffeisen Research.
Namun demikian, BMW tetap mengingatkan bahwa kinerja keuangan mereka bisa terganggu jika tarif impor tidak turun sesuai prediksi atau jika terjadi gangguan rantai pasokan, terutama untuk suku cadang dan bahan baku utama.
Langkah BMW mempertahankan prediksi bisnis mereka di tengah ketidakpastian tarif di AS menjadi sinyal kepercayaan terhadap stabilitas pasar otomotif global dalam jangka menengah. Kebijakan tarif ini menjadi salah satu isu utama yang diawasi ketat pelaku industri menjelang semester kedua 2025. (*)
















