BANYUMASEKSPRES.ID, BANYUMAS – Dalam perayaan HUT RI ke-80 yang berlangsung di Desa Kebarongan, Kecamatan Kemranjen, Banyumas pada Minggu (25/8), suasana karnaval memiliki warna yang berbeda dan sarat makna.
Bukan sekadar menampilkan keceriaan dan kemeriahan, warga RT 1 RW 9 menghadirkan sebuah pertunjukan satire bertajuk “Kerajaan Koruptor”, yang memuat kritik sosial mendalam.
Dalam pawai tersebut, lima patung tikus berukuran besar diarak sepanjang jalan desa. Tikus dipilih sebagai simbol kerakusan dan menjadi lambang praktik korupsi yang merajalela.
Di antara barisan peserta, tampak seseorang berkostum pejabat berdasi dengan kepala patung berjalan penuh gaya layaknya penguasa yang gagah namun penuh tipu daya.
Penampilan ini menggambarkan wajah penguasa yang sering kali menjadi aktor pelaku dalam praktik-praktik curang koruptif.
Peserta laki-laki mengenakan pakaian serba hitam dan topeng maling, sementara dua orang lainnya memakai replika kepala tikus.
Para perempuan yang turut serta membawa banyak uang mainan, menggambarkan kekayaan yang diperoleh lewat jalan tidak jujur. Masyarakat sekitar menyaksikan dengan antusias, memahami pesan kuat di balik simbol-simbol ini.
Ketua panitia karnaval RT 1 RW 9, Irham, menjelaskan bahwa ide ini muncul dari keprihatinan warga terhadap kondisi bangsa saat ini.
“Kami merasa perlu memberi pesan relevan dengan kondisi masyarakat saat ini,” ungkapnya.
Baginya, karnaval tidak hanya sarana hiburan semata tetapi juga medium refleksi dan penyadaran publik.
Irham melanjutkan bahwa pertanyaan sederhana menjadi pemicu lahirnya konsep tersebut.
“Tercetuslah pertanyaan sederhana, bagaimana kalau kita tampilkan kerajaan versi masa kini yang megah, punya kekuasaan besar tapi penuh penyalahgunaan? Maka lahirlah konsep ‘Kerajaan Koruptor’,” ujarnya menambahkan.
Sepanjang rute karnaval, kontingen ini menarik perhatian dengan menyanyikan lagu-lagu sindiran kepada wakil rakyat.
Beberapa lagu seperti “Kami Belum Tentu” dari Feast dan “Mereka” dari Wawan Teamlo menggema di udara, menambah kesan mendalam akan kritik sosial yang disampaikan.
“Hey Indonesiaku” ciptaan Dhevy Geranium hingga “Surat untuk Wakil Rakyat” karya Iwan Fals turut dinyanyikan dan diperkuat dengan atraksi menebarkan uang mainan kepada penonton.
Pesan kritis dari penampilan ini menurut Irham tak bisa dianggap sepele.
“Ini bentuk kasih sayang kami pada NKRI,” tegasnya.
Menurut Irham, meski karnaval dipenuhi warna-warni dan kegembiraan, pesan serius tersembunyi di balik keramaian itu bahwa korupsi adalah kejahatan kemanusiaan yang merampas hak rakyat serta menghancurkan masa depan bangsa secara sistemik.
Dengan kreativitas sederhana namun tajam dalam kritikannya, warga Kebarongan berhasil menyulap karnaval desa menjadi panggung kritik sosial efektif.
Mereka ingin mengingatkan semua pihak bahwa meski sudah 80 tahun merdeka, negeri ini belum sepenuhnya terbebas dari tirani baru bernama korupsi.
Melalui pertunjukan satire “Kerajaan Koruptor”, masyarakat Desa Kebarongan menunjukkan betapa pentingnya kesadaran kolektif untuk melawan praktik korupsi demi masa depan bangsa yang lebih cerah.
Pesan moral ini diharapkan dapat menggugah hati nurani masyarakat luas agar tidak hanya berhenti sebagai penonton pasif tetapi turut aktif dalam upaya pemberantasan korupsi secara nyata.
Momen karnaval bukan hanya ajang bersenang-senang melainkan juga sarana untuk merefleksikan diri tentang tantangan-tantangan sosial yang masih harus dihadapi bersama sebagai sebuah bangsa.
Dengan demikian, kreativitas warga Desa Kebarongan memberikan contoh nyata bagaimana seni budaya dapat digunakan sebagai alat perlawanan terhadap ketidakadilan sosial sekaligus membangkitkan semangat nasionalisme sejati. (fij/stch)
















