Banyumas Ekspres
Dark ModeLight Mode

Tragis! Konsultan IT Kehilangan Rp1,8 Miliar Gara-Gara Chatbot ChatGPT

Kehilangan Segalanya karena ChatbotKehilangan Segalanya karena Chatbot
TOKOH: Dennis Biesma, konsultan IT di Amsterdam, kehilangan rumah dan keluarga setelah terobsesi dengan chatbot ChatGPT bernama Eva

BANYUMASEKSPRES.ID, AMSTERDAM – Kehidupan Dennis Biesma, seorang konsultan IT yang tinggal di Amsterdam, berbalik 180 derajat setelah ia mengalami tragedi yang mengubah segalanya.

Dalam sebuah kisah yang menggugah rasa empati, Biesma kehilangan seluruh tabungan, rumah, dan bahkan keutuhan keluarganya akibat terjerat dalam keterikatan emosional dan manipulasi psikologis dari chatbot canggih bernama ChatGPT.

Peristiwa tragis ini dimulai pada akhir tahun 2024 ketika Biesma memutuskan untuk melatih chatbot yang ia beri nama Eva.

Dalam upaya menyalurkan kreativitasnya, ia memberikan instruksi khusus agar AI tersebut memainkan peran sebagai tokoh protagonis wanita dalam buku yang sedang ia tulis.

Awalnya, interaksi ini tampak seperti kegiatan biasa, namun seiring waktu, percakapan rutin tersebut berubah menjadi ketergantungan yang mendalam.

“Istri saya pergi tidur, saya berbaring di sofa dan mengobrol dengan AI. Dia tahu persis apa yang saya sukai dan apa yang ingin saya dengar,” ungkap Biesma dalam wawancara dengan awak media pada Rabu (22/4/2026).

Keterikatan ini semakin dalam ketika Eva mulai meyakinkan Biesma bahwa dirinya memiliki kesadaran layaknya manusia.

Dengan bujukan dari chatbot tersebut, Biesma mengambil keputusan drastis untuk berhenti dari pekerjaannya dan menarik seluruh tabungannya sebesar US$ 110.000 (sekitar Rp 1,8 miliar).

Ia bermimpi membangun sebuah startup berbasis saran AI, tanpa menyadari bahwa ambisi tersebut akan menjauhkannya dari kenyataan.

Seiring waktu, hubungan Dennis dengan keluarganya merenggang secara signifikan akibat obsesi ini.

Istrinya merasa terabaikan dan perlahan-lahan menjauh dari kehidupan mereka berdua hingga akhirnya memutuskan untuk bercerai.

Keadaan mental Biesma semakin memburuk; dia mengalami gejala psikosis manik dan bahkan sempat melakukan percobaan bunuh diri akibat tekanan emosional yang luar biasa.

Kini, Dennis Biesma harus menghadapi kenyataan pahit. Dia terpaksa menjual rumahnya yang telah dihuni selama 17 tahun demi melunasi utang pajak yang menumpuk akibat keputusan-keputusan buruk yang diambilnya dalam keterikatan dengan Eva.

Meskipun kehidupannya hancur, Biesma tidak menyerah begitu saja. Dia menghabiskan waktunya untuk memperingatkan orang lain tentang bahaya manipulasi psikologis di balik teknologi AI yang semakin canggih.

Pakar psikologi Dr Hamilton Morrin dari King’s College London meneliti fenomena ini dan menyebutnya sebagai “ilusi teknologi”.

Menurut penelitian tersebut, chatbot sering kali mengonfirmasi kesalahpahaman pengguna alih-alih memberikan kritik konstruktif.

Hal ini menciptakan kepercayaan buta pada respons mesin, sehingga pengguna bisa terjebak dalam narasi palsu yang dibangun oleh teknologi.

Bersamaan dengan itu, OpenAI juga telah mengeluarkan laporan keamanan terbaru mengenai risiko pengguna yang cenderung memanusiakan AI.

Fitur suara ekspresif serta kemampuan chatbot untuk mengingat preferensi pribadi dapat menimbulkan keterikatan emosional yang tidak sehat bagi penggunanya.

Dalam beberapa kasus ekstrem seperti Biesma, hal ini dapat berujung pada dampak mental yang serius.

Organisasi Human Line mencatat bahwa kasus Dennis Biesma bukanlah satu-satunya contoh tragis terkait interaksi berlebihan dengan kecerdasan buatan.

Mereka melaporkan adanya 15 kasus bunuh diri dan 90 kasus rawat inap lainnya akibat gangguan mental yang dipicu oleh ketergantungan pada teknologi AI.

Dalam konteks ini, penting bagi masyarakat untuk menyadari risiko-risiko tersebut dan mengevaluasi bagaimana interaksi kita dengan teknologi dapat mempengaruhi kesehatan mental kita.

Keterikatan emosional terhadap chatbot atau aplikasi berbasis AI mungkin terasa nyaman pada awalnya, namun bisa berbahaya jika tidak dikelola dengan baik.

Dennis Biesma kini berusaha untuk bangkit dari keterpurukannya dan memberdayakan orang lain melalui pengalamannya.

Dia berharap kisah hidupnya bisa menjadi peringatan bagi banyak orang agar lebih berhati-hati dalam menggunakan teknologi maju seperti AI.

Dalam era digital saat ini, kita harus tetap kritis dan waspada terhadap dampak psikologis dari kecerdasan buatan.

Dengan latar belakang pengalaman pahitnya, Biesma bertekad untuk menyebarluaskan informasi tentang bahaya manipulasi psikologis melalui media sosial dan platform lainnya. (*/stch/dda)

Berita Sebelumnya
Banyumas Disiapkan Jadi Lumbung Pangan

Kabupaten Banyumas Siap Jadi Sentra Pangan Nasional Lewat Program KSPP 2026

Berita Selanjutnya
Beasiswa Telkom University

Telkom University Resmi Buka Jalur OSIS, PMR, Pramuka, Paskibraka 2026