BANYUMASEKSPRES.ID, FLORES – Retakan sepanjang sekitar 100 meter ditemukan di bibir Kawah I atau Tiwu Ata Polo, Gunung Kelimutu, Nusa Tenggara Timur (NTT), setelah wilayah tersebut diguncang gempa bumi berkekuatan magnitudo 7.
Gempa tersebut sebelumnya dilaporkan berkekuatan M7,7.
Temuan retakan di Gunung Kelimutu tersebut diketahui setelah Tim Survei Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) melakukan pengamatan langsung di lapangan.
Selain survei lapangan, petugas juga menggunakan drone untuk memantau perubahan morfologi kawah.
Kepala Badan Geologi Lana Saria mengatakan, kondisi retakan di Kawah I perlu mendapat perhatian serius.
Pasalnya, retakan tersebut berpotensi berkembang dan dapat memicu longsoran ke arah kawah.
Potensi tersebut menjadi semakin perlu diwaspadai apabila terjadi gempa susulan maupun hujan dengan intensitas tinggi.
Kedua kondisi tersebut dapat memengaruhi kestabilan material di sekitar bibir kawah.
“Kondisi retakan tersebut perlu mendapat perhatian, karena terdapat potensi perkembangan retakan yang dapat memicu longsoran ke arah Kawah I, terutama apabila terjadi gempa susulan atau hujan dengan intensitas tinggi,” kata Lana.
Berdasarkan hasil survei Badan Geologi, retakan sepanjang sekitar 100 meter tersebut berada sekitar enam meter dari bibir Kawah I Tiwu Ata Polo.
Posisi retakan berada di sisi timur laut dan searah dengan kemiringan lereng.
Kondisi tersebut menjadi salah satu alasan masyarakat dan wisatawan diminta tidak mendekati area retakan.
Badan Geologi mengimbau agar aktivitas di sekitar lokasi tersebut dihentikan demi menghindari potensi bahaya longsoran.
Masyarakat maupun pengunjung Gunung Kelimutu diminta tidak melakukan aktivitas di sekitar retakan, khususnya pada radius 6 hingga 10 meter dari bibir kawah.
Pemerintah daerah dan pengelola kawasan juga diminta segera memasang pembatas di area yang berpotensi membahayakan pengunjung.
Selain garis pembatas, papan peringatan mengenai potensi longsoran juga perlu dipasang di sekitar Kawah I dan Kawah II.
Selain retakan di Kawah I, tim survei juga menemukan adanya longsoran material endapan lama ke arah bagian dalam Kawah II atau Tiwu Koofai Nuwamuri.
Longsoran tersebut sempat menimbulkan suara gemuruh yang cukup keras dari kawasan puncak Gunung Kelimutu.
Temuan ini menjadi bagian dari hasil pemantauan Badan Geologi terhadap kondisi Gunung Kelimutu setelah gempa besar yang mengguncang wilayah Flores.
Meski terdapat perubahan pada sejumlah bagian kawasan kawah, status aktivitas vulkanik Gunung Kelimutu saat ini masih berada pada Level I atau Normal.
Badan Geologi tetap meminta masyarakat dan wisatawan mengikuti arahan keselamatan yang diberikan oleh pihak berwenang.
Status Level I tidak berarti seluruh kawasan bebas dari potensi bahaya lokal, terutama pada area yang telah ditemukan retakan dan material longsoran.
Untuk mengantisipasi potensi perkembangan retakan maupun longsoran, Badan Geologi meminta pemerintah daerah dan pengelola kawasan segera memperkuat langkah mitigasi di sekitar kawah.
Pengelola juga diminta berkoordinasi dengan Pos Pengamatan Gunung Api Kelimutu di Kabupaten Ende serta Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) di Bandung, Jawa Barat.
Lana menegaskan perlunya tanda peringatan atau larangan khusus di lokasi yang memiliki potensi bahaya longsoran, terutama di sekitar Kawah I Tiwu Ata Polo dan Kawah II Tiwu Koofai Nuwamuri.
“Perlu dibuat tanda peringatan atau larangan khusus potensi bahaya longsoran di sekitar Kawah I Tiwu Ata Polo dan kawah II Tiwu Koofai Nuwamuri,” tegas Lana.
Gunung Kelimutu sendiri merupakan salah satu gunung berapi yang berada di Flores, NTT.
Gunung ini dikenal luas karena memiliki tiga danau kawah dengan warna air yang dapat berubah-ubah.
Dengan adanya temuan retakan pascagempa tersebut, kewaspadaan masyarakat dan wisatawan menjadi hal penting.
Pengunjung diharapkan mematuhi pembatas serta peringatan yang dipasang pengelola dan tidak memaksakan diri mendekati area yang dinilai berpotensi membahayakan keselamatan.
Pemantauan terhadap kondisi Gunung Kelimutu juga perlu terus dilakukan untuk mengetahui apakah retakan mengalami perkembangan atau terdapat perubahan lain pada morfologi kawah setelah rangkaian gempa yang terjadi di Flores. (*/stch/dda)














