BANYUMASEKSPRES.ID, Hasil pengamatan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat beberapa wilayah di Indonesia mengalami suhu panas ekstrem yang berkisar antara 35–38 derajat Celsius (°C).
Kondisi cuaca panas dengan suhu tinggi perlu menjadi perhatian karena paparan panas dari lingkungan, terutama jika berlangsung dalam waktu cukup lama, dapat memengaruhi kondisi tubuh.
Selain paparan suhu tinggi, kurangnya asupan cairan juga dapat meningkatkan risiko munculnya berbagai gangguan kesehatan yang berkaitan dengan panas atau heat-related illness.
Masalah kesehatan akibat cuaca panas tersebut memiliki tingkat keparahan yang berbeda-beda.
Ada kondisi yang relatif ringan dan mengganggu aktivitas, tetapi ada pula yang dapat berkembang menjadi komplikasi serius apabila tidak segera ditangani.
Karena itu, mengenali penyakit akibat cuaca panas menjadi langkah penting agar Anda dapat lebih waspada ketika harus beraktivitas di tengah suhu yang tinggi.
1. Biang Keringat Akibat Cuaca Panas
Salah satu gangguan kesehatan yang cukup sering muncul ketika cuaca panas adalah biang keringat. Kondisi ini terjadi ketika keringat terperangkap di bawah lapisan kulit.
Karena kerap muncul ketika tubuh terpapar suhu tinggi, biang keringat juga dikenal sebagai ruam panas atau heat rash.
Gangguan pada kulit tersebut cukup umum ditemukan di negara-negara dengan iklim tropis.
Suhu yang panas ditambah tingkat kelembapan yang tinggi membuat tubuh lebih mudah berkeringat sehingga kulit menjadi lebih lembap.
Ketika pori-pori kulit tersumbat oleh sel kulit mati dan bakteri, keringat tidak dapat keluar dengan baik. Akibatnya, keringat tertahan dan memicu peradangan di bawah kulit.
Kondisi inilah yang dikenal sebagai biang keringat. Gejala biang keringat biasanya ditandai dengan munculnya benjolan-benjolan kecil pada permukaan kulit.
Selain benjolan kecil, kondisi tersebut juga dapat menyebabkan rasa gatal dan perih yang cukup intens. Keluhan biasanya muncul pada bagian leher, bahu, dada, serta area lipatan tubuh.
2. Kulit Terbakar Matahari atau Sunburn
Paparan sinar matahari dalam waktu lama juga dapat meningkatkan risiko kulit mengalami terbakar matahari atau sunburn.
Risiko tersebut semakin besar ketika seseorang berada di luar ruangan pada siang hari, terutama pada rentang waktu ketika sinar ultraviolet atau UV berada pada tingkat tertingginya.
Paparan sinar UV dapat merusak sel-sel kulit. Ketika kulit terbakar matahari, sejumlah gejala dapat muncul, seperti kulit berubah menjadi merah, terasa gatal, serta menimbulkan sensasi panas.
Kondisi ini dapat membuat kulit terasa tidak nyaman selama beberapa waktu setelah seseorang terpapar matahari.
Efek kulit terbakar akibat paparan sinar matahari juga tidak selalu langsung hilang dalam waktu singkat.
Keluhan tersebut dapat bertahan selama beberapa hari. Pada kondisi yang lebih parah, kulit terbakar matahari dapat menyebabkan terbentuknya lenting.
Selain itu, pembengkakan juga dapat terjadi pada beberapa bagian tubuh, termasuk tangan, kaki, dan wajah.
3. Sakit Kepala karena Dehidrasi
Cuaca panas juga dapat membuat sebagian orang lebih sering mengalami sakit kepala.
Keluhan tersebut dapat berkaitan dengan dehidrasi, terutama ketika tubuh kehilangan banyak cairan akibat berkeringat dan tidak mendapatkan penggantian cairan yang cukup.
Dr. Doris Kung, seorang profesor neurologi dari Baylor College of Medicine, menyatakan bahwa munculnya sakit kepala akibat panas mungkin terkait dengan dehidrasi.
Ketika tubuh kehilangan banyak cairan dan elektrolit, tubuh dapat merespons dengan mengecilkan ukuran pembuluh darah, termasuk pembuluh darah yang berada di area kepala.
Perubahan tersebut kemudian dapat menjadi salah satu pemicu munculnya sakit kepala ketika seseorang berada dalam kondisi panas dan mengalami kekurangan cairan.
Sakit kepala akibat cuaca panas dapat terasa tajam dan intens.
Tidak hanya sakit kepala, kondisi tersebut juga mungkin disertai keluhan lain, seperti pusing, mual, hingga munculnya perasaan seperti ingin pingsan.
Karena itu, keluhan sakit kepala ketika berada dalam cuaca panas sebaiknya tidak diabaikan, terutama apabila disertai tanda-tanda dehidrasi lainnya.
4. Infeksi Saluran Pernapasan Akut atau ISPA
Selain menyebabkan gangguan pada kulit dan dehidrasi, cuaca panas juga dapat berkaitan dengan meningkatnya risiko infeksi saluran pernapasan akut atau ISPA.
Suhu lingkungan yang tinggi serta tingkat kelembapan yang rendah dapat menyebabkan saluran pernapasan mengalami iritasi.
Kondisi tersebut kemudian dapat meningkatkan risiko seseorang terserang infeksi yang disebabkan oleh virus maupun bakteri.
Risiko gangguan pernapasan juga dapat semakin menjadi perhatian di wilayah perkotaan. Di kota-kota besar, gejala ISPA umumnya makin parah sebagai dampak dari polusi udara.
Sementara itu, pada wilayah lain, kondisi cuaca yang panas dan kering dapat memicu terjadinya kebakaran hutan. Asap dari kebakaran yang terhirup juga dapat meningkatkan risiko seseorang mengalami ISPA.
Oleh sebab itu, gangguan pernapasan perlu diwaspadai ketika kondisi lingkungan sedang panas dan kering.
5. Kram Otot Akibat Panas
Orang yang melakukan aktivitas fisik di luar ruangan ketika cuaca panas juga perlu memperhatikan risiko kram otot akibat panas atau heat cramp.
Pekerja yang banyak beraktivitas di luar ruangan maupun orang yang berolahraga ketika suhu lingkungan tinggi termasuk kelompok yang memiliki risiko lebih tinggi mengalami kondisi ini.
Kram otot akibat panas berkaitan dengan dehidrasi.
Saat tubuh berkeringat secara berlebihan karena terkena panas, cairan dan elektrolit dalam tubuh dapat ikut hilang dalam jumlah banyak.
Kehilangan cairan dan elektrolit tersebut kemudian dapat memicu terjadinya kram pada otot.
Ketika mengalami kondisi ini, seseorang dapat merasakan ketegangan atau kram pada berbagai bagian tubuh.
Keluhan tersebut dapat muncul pada lengan, bahu, kaki, betis, perut, hingga area tulang rusuk.
Aktivitas fisik yang dilakukan dalam kondisi panas membuat kebutuhan tubuh terhadap cairan menjadi semakin penting.
6. Heat Exhaustion atau Kelelahan Akibat Panas
Jika paparan panas dan dehidrasi semakin berat, tubuh dapat mengalami kondisi yang lebih serius berupa kelelahan akibat panas atau heat exhaustion.
Dalam kondisi yang lebih parah, dehidrasi bisa menyebabkan kelelahan ekstrem akibat panas (heat exhaustion).
Penyakit akibat cuaca panas ini terjadi sebagai respons tubuh terhadap hilangnya air dan elektrolit secara berlebihan.
Ketika cairan tubuh berkurang terlalu banyak, kemampuan tubuh untuk mengatur suhu dan mendinginkan diri dengan baik dapat terganggu.
Beberapa kelompok memiliki risiko lebih tinggi mengalami heat exhaustion.
Kondisi ini mungkin lebih banyak dialami oleh orang yang berusia lebih tua, orang yang bekerja di lingkungan panas, maupun mereka yang mengidap tekanan darah tinggi.
Gejala kelelahan akibat panas dapat muncul dalam berbagai bentuk dan perlu diperhatikan agar kondisi tidak berkembang menjadi lebih serius.
Secara umum, kelelahan akibat panas akan menimbulkan gejala, meliputi sakit kepala, pusing, perasaan linglung, kulit pucat, detak jantung cepat, dan urine berwarna keruh.
Kemunculan sejumlah gejala tersebut menunjukkan bahwa tubuh sedang mengalami tekanan akibat paparan panas dan kehilangan cairan.
7. Heat Stroke, Kondisi Darurat akibat Cuaca Panas
Salah satu kondisi paling serius yang perlu diwaspadai saat cuaca panas adalah heat stroke atau sengatan panas.
Kondisi ini dapat terjadi apabila heat exhaustion tidak segera mendapatkan penanganan yang baik sehingga berkembang menjadi keadaan yang lebih fatal.
Sengatan panas terjadi saat tubuh mengalami peningkatan suhu dalam waktu cepat, kemudian tidak mampu mendinginkan tubuh secara normal.
Kondisi tersebut berbeda dari gangguan ringan akibat panas karena dapat mengancam keselamatan seseorang.
Cuaca panas dengan suhu mencapai 35–38°C karena itu tidak sebaiknya dianggap sebagai kondisi yang hanya membuat tubuh merasa gerah atau tidak nyaman.
Paparan panas, kehilangan cairan, serta aktivitas di lingkungan bersuhu tinggi dapat memicu berbagai gangguan kesehatan, mulai dari biang keringat, kulit terbakar matahari, sakit kepala, ISPA, kram otot, heat exhaustion, hingga heat stroke.
Memahami berbagai penyakit akibat cuaca panas tersebut penting agar tanda-tanda gangguan kesehatan dapat lebih cepat dikenali.
Semakin serius kondisi yang dialami, semakin penting pula untuk tidak mengabaikan gejala yang muncul setelah tubuh terpapar panas dalam waktu lama.(taa)














