Banyumas Ekspres
Dark ModeLight Mode
Lisa BLACKPINK dan Blue Pongtiwat Dikabarkan Dekat, Ini Jejak Pertemanan Mereka Sejak 2016
5 Kesenian Tradisional Purbalingga Jadi Objek Riset Mahasiswa, Ada Braen hingga Dames

5 Kesenian Tradisional Purbalingga Jadi Objek Riset Mahasiswa, Ada Braen hingga Dames

Lima Kesenian Digali untuk Jadi BukuLima Kesenian Digali untuk Jadi Buku
GALI BUDAYA: Peserta mengikuti Bimtek penulisan konten budaya lokal yang digelar Dinarpus Purbalingga, Selasa (11/8/2026)

BANYUMASEKSPRES.ID, PURBALINGGA – Lima kesenian tradisional Purbalingga bakal mendapat perhatian lebih dari mahasiswa.

Kegiatan ini dilakukan untuk menggali sejarah, nilai budaya, hingga kearifan lokal yang terkandung dalam kesenian daerah agar tidak hanya bertahan melalui cerita dari generasi ke generasi, tetapi juga memiliki dokumentasi tertulis dalam bentuk buku.

Program tersebut digagas Dinas Kearsipan dan Perpustakaan (Dinarpus) Kabupaten Purbalingga melalui Bimbingan Teknis (Bimtek) penulisan konten budaya lokal bagi pelajar dan mahasiswa, Selasa (11/8/2026).

Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya memperluas pemahaman mengenai literasi.

Generasi muda tidak hanya diarahkan untuk membaca dan menulis, tetapi juga didorong aktif menggali berbagai potensi budaya yang ada di daerahnya.

Kepala Bidang Perpustakaan Dinarpus Purbalingga Ari Susanti mengatakan, literasi dapat digunakan sebagai sarana untuk memperkenalkan budaya lokal kepada masyarakat.

Menurutnya, kekayaan budaya Purbalingga perlu dikembangkan menjadi sumber informasi yang bisa diakses oleh generasi berikutnya.

“Kami ingin literasi tidak sekadar membaca atau menulis. Tetapi juga menggali budaya di Kabupaten Purbalingga untuk dikembangkan menjadi sebuah bentuk informasi kepada masyarakat,” ujar Ari Susanti.

Dalam program tersebut, mahasiswa dibagi menjadi lima kelompok. Setiap kelompok beranggotakan 10 orang dan mendapatkan tugas untuk melakukan observasi langsung terhadap kesenian tradisional yang telah ditentukan.

Lima kesenian yang menjadi objek penggalian budaya tersebut adalah Braen, Dames, Krumpyung, Manongan, dan kemahiran Ngantih.

Para mahasiswa nantinya tidak sekadar mencatat bentuk pertunjukan, tetapi juga menggali berbagai informasi yang berkaitan dengan keberadaan kesenian tersebut.

Aspek yang diteliti meliputi sejarah, perkembangan kesenian, nilai budaya, hingga kearifan lokal yang terkandung di dalamnya.

Pendekatan tersebut diharapkan membuat hasil dokumentasi tidak hanya menjadi catatan mengenai kesenian, tetapi juga mampu menjelaskan nilai penting yang ada di baliknya.

Sebelum melakukan observasi langsung ke lapangan, mahasiswa terlebih dahulu mendapatkan pembekalan mengenai budaya lokal dari Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dindikbud) Purbalingga.

Peserta juga telah dibekali alamat narasumber serta sumber data yang dapat digunakan sebagai bahan rujukan.

Setelah proses observasi selesai, mahasiswa akan mengolah informasi yang diperoleh menjadi sebuah esai.

Tulisan tersebut nantinya diserahkan kepada penerbit untuk menjalani proses penyuntingan sebelum diterbitkan dalam bentuk buku.

Kepala Bidang Kebudayaan Dindikbud Purbalingga Wasis Andri Wibowo mengatakan, kegiatan tersebut juga menjadi kesempatan untuk menemukan penulis-penulis muda yang memiliki kepedulian terhadap kebudayaan daerah.

“Saya memberikan pembekalan tentang WBTB dan bagaimana pendekatan dengan maestro kesenian masing-masing,” ungkap Wasis Andri Wibowo.

Pendokumentasian ini diharapkan dapat memperkuat upaya pelestarian Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) Purbalingga.

Selama ini, sebagian pengetahuan mengenai kesenian tradisional masih diwariskan secara lisan melalui pelaku seni dan masyarakat.

Dengan adanya dokumentasi dalam bentuk buku, informasi mengenai lima kesenian tersebut diharapkan memiliki jejak tertulis yang lebih mudah dipelajari.

Buku tersebut nantinya juga dapat menjadi referensi bagi masyarakat, pelajar, mahasiswa, maupun generasi muda yang ingin mengenal kebudayaan Purbalingga.

Program ini sekaligus menunjukkan bahwa pelestarian budaya tidak hanya menjadi tanggung jawab pelaku seni atau pemerintah daerah.

Generasi muda juga dapat mengambil peran melalui riset, penulisan, dan dokumentasi.

Lima kesenian yang menjadi objek penelitian diharapkan dapat semakin dikenal masyarakat luas.

Dokumentasi tersebut juga menjadi salah satu langkah agar kesenian tradisional Purbalingga tetap memiliki tempat di tengah perkembangan zaman dan perubahan minat generasi muda.

Melalui keterlibatan mahasiswa dalam menggali budaya lokal, pengetahuan mengenai Braen, Dames, Krumpyung, Manongan, dan kemahiran Ngantih diharapkan tidak berhenti sebagai warisan lisan.

Informasi tersebut dapat terus diwariskan melalui karya tulis dan menjadi bagian dari upaya menjaga identitas budaya Purbalingga. (alw/stch/dda)

Berita Sebelumnya
Dikabarkan Dekat dengan Model Thailand

Lisa BLACKPINK dan Blue Pongtiwat Dikabarkan Dekat, Ini Jejak Pertemanan Mereka Sejak 2016