BANYUMASEKSPRES.ID, PURBALINGGA – Persoalan thalasemia di Kabupaten Purbalingga tidak hanya berkaitan dengan penanganan medis.
Stigma negatif terhadap penyandang thalasemia di tengah masyarakat masih menjadi pekerjaan rumah yang perlu mendapat perhatian.
Pemahaman yang keliru mengenai thalasemia dinilai dapat membuat penyandang penyakit tersebut mendapatkan perlakuan berbeda dalam kehidupan sehari-hari.
Karena itu, pemerintah daerah mulai memperluas edukasi dengan melibatkan sektor pendidikan.
Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk, dan Keluarga Berencana (DinkesPPKB) Purbalingga menggandeng guru untuk membantu memberikan pemahaman yang benar mengenai thalasemia kepada masyarakat.
Guru didorong menjadi agen edukasi agar informasi mengenai penyakit tersebut tidak hanya berhenti di lingkungan sekolah.
Langkah tersebut dilakukan melalui hearing Thalasemia yang digelar di Politeknik Madyatika, Selasa (11/8/2026).
Kegiatan tahun ini memiliki sasaran yang berbeda dibandingkan kegiatan sebelumnya.
Jika pada tahun sebelumnya kegiatan melibatkan penyandang thalasemia dan keluarga, hearing kali ini lebih diarahkan kepada pemangku kepentingan di bidang pendidikan.
Peserta yang diundang antara lain Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dindikbud), koordinator wilayah kecamatan, perwakilan guru SMP dari masing-masing kecamatan, serta Kementerian Agama (Kemenag) Purbalingga.
Pelibatan guru dinilai penting karena sekolah merupakan salah satu lingkungan yang memiliki peran besar dalam membentuk pemahaman siswa mengenai kondisi kesehatan tertentu, termasuk thalasemia.
Ketua Tim P2PTM dan Keswa DinkesPPKB Kabupaten Purbalingga, Bekti Aribawanti Rini, mengatakan masih adanya stigma di masyarakat menunjukkan bahwa pemahaman mengenai thalasemia perlu terus diperkuat.
“Terkait stigma di masyarakat masih menjadi PR. Untuk itu kami mengundang guru agar bisa mengedukasi masyarakat apa itu penyakit thalasemia, pencegahan, dan menghapus stigma negatif di masyarakat,” jelas Rini.
Menurutnya, salah satu pemahaman yang masih perlu diluruskan adalah anggapan bahwa thalasemia merupakan penyakit menular.
Pemahaman tersebut tidak tepat karena thalasemia bukan penyakit yang dapat menular dari satu orang kepada orang lain melalui interaksi sehari-hari.
Edukasi mengenai fakta tersebut dinilai penting agar masyarakat tidak memberikan perlakuan berbeda kepada penyandang thalasemia hanya karena kesalahpahaman mengenai penyakit tersebut.
Pada penyandang thalasemia mayor, kondisi kesehatan tertentu dapat membuat mereka mengalami perbedaan fisik. Salah satunya adalah pertumbuhan yang lebih lambat dibandingkan anak-anak seusianya.
Namun, kondisi tersebut tidak seharusnya menjadi alasan bagi lingkungan untuk memberikan stigma ataupun perlakuan diskriminatif.
Penyandang thalasemia tetap memiliki hak untuk mendapatkan pendidikan, berinteraksi dengan lingkungan, serta menjalani aktivitas sehari-hari secara layak.
Karena itu, lingkungan sekolah menjadi salah satu tempat penting untuk membangun pemahaman yang lebih baik.
Guru tidak hanya berperan dalam proses pembelajaran, tetapi juga dapat membantu menciptakan lingkungan sekolah yang aman dan suportif bagi seluruh siswa.
Melalui edukasi yang diberikan kepada guru, informasi mengenai thalasemia diharapkan dapat diteruskan kepada siswa.
Pengetahuan tersebut kemudian dapat dibawa siswa ke lingkungan keluarga dan masyarakat di sekitar tempat tinggal mereka.
Dengan cara tersebut, edukasi mengenai thalasemia diharapkan memiliki jangkauan yang lebih luas.
Informasi mengenai penyebab, kondisi penyandang, pencegahan, serta fakta bahwa thalasemia bukan penyakit menular dapat dipahami secara lebih baik oleh masyarakat.
Upaya menghapus stigma juga dinilai penting karena persoalan yang dihadapi penyandang thalasemia tidak selalu berhenti pada aspek kesehatan.
Pandangan negatif dari lingkungan dapat memengaruhi kehidupan sosial dan kesempatan penyandang untuk beraktivitas secara normal.
Terlebih bagi anak-anak dan remaja penyandang thalasemia yang masih berada di bangku sekolah.
Mereka membutuhkan lingkungan pendidikan yang dapat memberikan dukungan, bukan justru perlakuan berbeda akibat kurangnya pemahaman mengenai kondisi yang mereka alami.
Guru yang memiliki pemahaman mengenai thalasemia diharapkan mampu memberikan penjelasan yang benar apabila muncul pertanyaan atau anggapan keliru di lingkungan sekolah.
Edukasi sejak usia sekolah juga dinilai dapat membantu membentuk generasi yang lebih memahami keberagaman kondisi kesehatan.
Hearing Thalasemia yang digelar di Politeknik Madyatika menjadi bagian dari upaya memperluas pemahaman tersebut.
Dengan melibatkan berbagai unsur pendidikan, pemerintah daerah berharap informasi mengenai thalasemia dapat diteruskan secara berkelanjutan.
DinkesPPKB Purbalingga juga menilai pencegahan dan edukasi perlu berjalan beriringan dengan penanganan medis.
Masyarakat perlu mendapatkan informasi yang benar agar dapat memahami thalasemia secara menyeluruh dan tidak membangun kesimpulan berdasarkan informasi yang keliru.
Upaya tersebut pada akhirnya diharapkan dapat menciptakan lingkungan yang lebih inklusif bagi penyandang thalasemia di Kabupaten Purbalingga.
Mereka diharapkan tetap memiliki kesempatan yang sama untuk belajar, beraktivitas, mengembangkan potensi, dan menjalani kehidupan secara produktif.
Pelibatan guru menjadi salah satu strategi untuk memperluas edukasi tersebut.
Tidak hanya menyampaikan informasi kepada siswa, guru juga diharapkan dapat menjadi penghubung informasi yang benar kepada keluarga dan masyarakat.
Dengan meningkatnya pemahaman mengenai thalasemia, stigma negatif diharapkan perlahan dapat dikurangi.
Penyandang thalasemia pun dapat menjalani kehidupan di tengah masyarakat tanpa harus menghadapi perlakuan diskriminatif akibat kesalahpahaman mengenai kondisi mereka.
Pemerintah Kabupaten Purbalingga melalui DinkesPPKB kini mendorong agar edukasi thalasemia terus diperkuat.
Dunia pendidikan menjadi salah satu mitra penting dalam membangun kesadaran masyarakat sekaligus memastikan penyandang thalasemia tetap mendapatkan ruang yang setara di lingkungan sekolah maupun masyarakat. (alw/stch/dda)














