BANYUMASEKSPRES.ID, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi musim kemarau 2026 akan menjadi salah satu periode yang perlu mendapat perhatian serius.
Prediksi terbaru menunjukkan adanya potensi kondisi lebih kering dari biasanya di banyak wilayah Indonesia, sehingga masyarakat, pelaku usaha, sektor pertanian, hingga pemerintah daerah perlu meningkatkan kewaspadaan terhadap risiko kekeringan yang mungkin terjadi.
Berdasarkan data BMKG, kondisi iklim global dan regional menjadi faktor penting yang memengaruhi karakteristik musim kemarau tahun 2026.
Salah satu indikator yang menjadi perhatian adalah perkembangan Indeks ENSO yang menunjukkan perubahan kondisi atmosfer dan laut di kawasan Pasifik.
Hingga pertengahan Mei 2026, Indeks ENSO telah melewati batasan Netral selama lima dasarian.
Kondisi tersebut menjadi salah satu dasar dalam penyusunan prediksi iklim dan musim yang dilakukan BMKG untuk periode berikutnya.
BMKG memprediksi peluang terjadinya El Niño dengan intensitas lemah mencapai 100 persen.
Sementara itu, peluang El Niño dengan intensitas moderat diperkirakan mencapai 98 persen, sedangkan peluang El Niño dengan intensitas kuat diprediksi sebesar 62 persen.
Di sisi lain, Monsun Australia diperkirakan masih akan terus aktif setidaknya hingga akhir tahun 2026.
Intensitasnya diprediksi berada pada kondisi yang sama dengan keadaan normalnya sehingga tetap memberikan pengaruh terhadap pola cuaca dan distribusi curah hujan di berbagai wilayah Indonesia.
Kombinasi antara perkembangan ENSO dan aktivitas Monsun Australia tersebut menjadi faktor yang turut memengaruhi pola musim kemarau tahun ini.
Oleh karena itu, berbagai sektor yang sangat bergantung pada ketersediaan air perlu mulai melakukan langkah antisipasi sejak dini.
BMKG memperkirakan sebanyak 198 Zona Musim atau ZOM yang mencakup sekitar 31,60 persen luas daratan Indonesia akan memasuki musim kemarau pada Juni 2026.
Selain itu, sebanyak 66 ZOM atau sekitar 7,28 persen luas daratan Indonesia diprediksi mulai mengalami musim kemarau pada Juli 2026.
Prediksi tersebut menunjukkan bahwa sebagian besar wilayah Indonesia telah memasuki fase kemarau pada pertengahan tahun.
Kondisi ini menjadi informasi penting bagi masyarakat yang tinggal di wilayah rawan kekeringan maupun daerah yang mengandalkan sektor pertanian sebagai sumber utama perekonomian.
Jika dibandingkan dengan kondisi normalnya, awal musim kemarau tahun 2026 di Indonesia secara umum diprediksi datang lebih cepat.
BMKG memperkirakan terdapat 308 ZOM yang mencakup sekitar 39,77 persen luas daratan Indonesia mengalami awal musim kemarau yang lebih maju dibandingkan biasanya.
Percepatan awal musim kemarau tersebut menunjukkan adanya perubahan pola musim yang perlu diperhatikan oleh berbagai pihak.
Penyesuaian terhadap jadwal tanam, pengelolaan sumber daya air, hingga strategi mitigasi kekeringan menjadi langkah yang semakin penting untuk dilakukan.
Selain itu, kondisi musim kemarau tahun ini juga diperkirakan cenderung lebih kering dibandingkan rata-rata klimatologisnya.
Sebanyak 482 ZOM yang mencakup sekitar 56,18 persen luas daratan Indonesia diprediksi berada dalam kategori Bawah Normal atau lebih kering dari kondisi biasanya.
Prediksi tersebut mengindikasikan bahwa lebih dari separuh wilayah daratan Indonesia berpotensi mengalami penurunan curah hujan dibandingkan kondisi normal.
Situasi ini dapat meningkatkan risiko berkurangnya ketersediaan air di sejumlah daerah apabila tidak diantisipasi dengan baik.
Sementara itu, puncak musim kemarau di Indonesia diprediksi akan terjadi pada Agustus 2026.
BMKG memperkirakan sebanyak 369 ZOM yang mencakup sekitar 48,84 persen luas daratan Indonesia akan mengalami puncak musim kemarau pada bulan tersebut.
Bulan Agustus diperkirakan menjadi periode dengan dominasi kondisi kering yang paling luas di Indonesia.
Oleh karena itu, berbagai sektor yang terdampak langsung oleh musim kemarau perlu mempersiapkan langkah-langkah adaptasi yang sesuai dengan kondisi wilayah masing-masing.
Jika dibandingkan dengan kondisi klimatologisnya, puncak musim kemarau di Indonesia secara umum diprediksi terjadi pada waktu yang sama dengan kondisi normal.
BMKG mencatat sebanyak 377 ZOM atau sekitar 38,15 persen luas daratan Indonesia diperkirakan mengalami puncak musim kemarau yang sesuai dengan pola normalnya.
Meski demikian, karakteristik musim kemarau tahun ini tidak hanya ditentukan oleh waktu terjadinya puncak musim.
Faktor lain yang juga menjadi perhatian adalah lamanya musim kemarau berlangsung di berbagai wilayah Indonesia.
BMKG memprediksi sebagian besar musim kemarau di Indonesia akan berlangsung selama 10 hingga 21 dasarian.
Kondisi tersebut diperkirakan terjadi pada 388 ZOM yang mencakup sekitar 47,45 persen luas daratan Indonesia.
Durasi tersebut menunjukkan bahwa musim kemarau tahun 2026 berpotensi berlangsung cukup lama di banyak wilayah.
Informasi ini menjadi penting untuk mendukung berbagai upaya perencanaan dan pengelolaan sumber daya yang berkaitan dengan kebutuhan air.
Jika dibandingkan dengan kondisi normalnya, durasi musim kemarau tahun 2026 secara umum diprediksi lebih panjang.
BMKG memperkirakan sebanyak 437 ZOM yang mencakup sekitar 48,77 persen luas daratan Indonesia akan mengalami musim kemarau dengan durasi lebih lama dari biasanya.
Prediksi musim kemarau yang lebih panjang, disertai kondisi yang cenderung lebih kering pada banyak wilayah, menjadi sinyal penting bagi seluruh pemangku kepentingan untuk meningkatkan kesiapsiagaan.
Dengan memahami proyeksi BMKG sejak awal, berbagai langkah antisipasi terhadap potensi kekeringan dapat dilakukan lebih terencana sehingga dampaknya terhadap masyarakat dan berbagai sektor dapat diminimalkan.
(taa)














