Banyumas Ekspres
Dark ModeLight Mode
Warga Binaan Lapas Cilacap yang Putus Sekolah Kejar Ijazah Lewat Program Kesetaraan
8 Bandara Sempat Ditutup akibat Erupsi Anak Krakatau, Kini Kembali Beroperasi

8 Bandara Sempat Ditutup akibat Erupsi Anak Krakatau, Kini Kembali Beroperasi

Delapan Bandara Kini Kembali BeroperasiDelapan Bandara Kini Kembali Beroperasi
PELAYANAN: Penumpang pesawat melakukan check in di banadara

BANYUMASEKSPRES.ID, JAKARTA – Dampak erupsi Gunung Anak Krakatau terhadap aktivitas penerbangan sempat cukup signifikan.

Sebanyak 4.174 penerbangan terdampak dan perjalanan 455.754 penumpang mengalami gangguan selama periode 5-8 September 2026.

Gangguan tersebut terjadi setelah sebaran abu vulkanik Gunung Anak Krakatau menyebabkan sejumlah bandara harus menghentikan operasional sementara demi alasan keselamatan penerbangan.

Kini, seluruh bandara yang sempat terdampak telah kembali beroperasi.

Dari delapan bandara yang sempat mengalami penutupan sementara, empat di antaranya merupakan bandara yang dikelola InJourney Airports, yakni Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Bandara Halim Perdanakusuma, Bandara Husein Sastranegara, dan Bandara Raden Inten II.

Pemulihan dilakukan secara bertahap setelah pemeriksaan keselamatan dan pemantauan kondisi abu vulkanik di kawasan bandara.

Dari empat bandara yang dikelola InJourney Airports dan terdampak erupsi, Bandara Internasional Soekarno-Hatta tercatat mengalami dampak operasional paling signifikan.

Penutupan dan gangguan penerbangan terjadi karena sebaran abu vulkanik dapat memengaruhi keselamatan penerbangan.

Karena itu, keputusan untuk menghentikan sementara operasional bandara dilakukan dengan mempertimbangkan berbagai hasil pemantauan dan asesmen.

Direktur Utama InJourney Maya Watono mengatakan keselamatan dan keamanan penumpang menjadi dasar utama dalam setiap keputusan operasional selama penanganan dampak erupsi.

“Keselamatan dan keamanan penumpang senantiasa menjadi prioritas utama kami. Setiap keputusan operasional dilakukan berdasarkan asesmen menyeluruh dan pemantauan berkala,” tutur Maya dalam keterangan resmi.

Selain kondisi abu vulkanik, keputusan operasional juga mempertimbangkan hasil pengujian serta informasi dan rekomendasi dari sejumlah pihak terkait, seperti BMKG, AirNav Indonesia, VAAC Darwin, regulator, dan otoritas penerbangan.

Langkah tersebut dilakukan untuk memastikan penerbangan dapat kembali berjalan ketika kondisi telah memenuhi aspek keselamatan yang dipersyaratkan.

Bandara Internasional Soekarno-Hatta kembali beroperasi pada 8 September 2026 pukul 00.30 WIB setelah melalui serangkaian pemeriksaan keselamatan.

Pembukaan kembali bandara dilakukan setelah asesmen terhadap kondisi operasional dan lingkungan sekitar.

Bandara-bandara lain yang terdampak kemudian kembali dibuka secara bertahap.

Hasil pengujian BMKG menjadi salah satu dasar dalam proses tersebut. Setelah area bandara dinyatakan tidak lagi terpapar abu vulkanik berdasarkan pengujian, operasional dapat dipulihkan secara bertahap.

Meski penerbangan telah kembali berjalan, proses pemulihan tetap dilakukan untuk mengurai dampak yang muncul selama masa penutupan.

InJourney menyebut fase setelah pembukaan kembali menjadi bagian dari proses recovery dan normalisasi.

Fokusnya adalah mengembalikan mobilitas masyarakat serta menyelesaikan dampak operasional yang sebelumnya terjadi.

Selama sejumlah bandara mengalami penutupan sementara, InJourney Airports melakukan sejumlah langkah mitigasi untuk menjaga konektivitas penerbangan.

Sebagian penerbangan dialihkan menuju bandara alternatif. Beberapa bandara yang digunakan sebagai alternatif antara lain Yogyakarta International Airport, Bandara I Gusti Ngurah Rai Bali, Bandara Jenderal Ahmad Yani Semarang, Bandara Adi Soemarmo Solo, Bandara Juanda Surabaya, dan Bandara Kertajati.

Langkah pengalihan tersebut dilakukan untuk menjaga mobilitas masyarakat ketika bandara tertentu tidak dapat melayani penerbangan.

Bandara Kertajati juga mendapat dukungan konektivitas menuju Jakarta melalui layanan transportasi darat, termasuk DAMRI dan Whoosh.

“Ketika suatu bandara harus ditutup demi keselamatan, kami mengoptimalkan jaringan bandara lain beserta konektivitas transportasi darat agar mobilitas masyarakat tetap terjaga,” kata Maya.

Strategi tersebut menjadi bagian dari upaya menjaga konektivitas nasional di tengah gangguan penerbangan akibat faktor alam.

Gangguan penerbangan tidak hanya berdampak pada jadwal pesawat. Ribuan penumpang juga harus menghadapi perubahan perjalanan selama periode bandara ditutup.

Untuk membantu penumpang terdampak, InJourney Airports mengaktifkan Service Recovery Activation (SRA).

Layanan tersebut mencakup penyediaan shuttle bus gratis di Bandara Soekarno-Hatta, makanan dan minuman ringan, tambahan area istirahat, serta posko pelayanan di bandara.

Fasilitas tersebut disiapkan untuk membantu penumpang selama proses pemulihan layanan penerbangan.

Dengan jumlah penumpang terdampak mencapai 455.754 orang, penanganan tidak hanya membutuhkan pemulihan operasional penerbangan, tetapi juga dukungan pelayanan kepada masyarakat yang perjalanannya terganggu.

InJourney menyatakan upaya tersebut dilakukan untuk memastikan kebutuhan penumpang tetap diperhatikan selama masa gangguan.

Meski seluruh bandara yang sempat terdampak telah kembali beroperasi, pemantauan terhadap aktivitas Gunung Anak Krakatau dan kondisi ruang udara tetap dilakukan.

InJourney Airports berkoordinasi dengan BMKG, Kementerian Perhubungan, AirNav Indonesia, maskapai, serta pemangku kepentingan lainnya.

Pemantauan diperlukan karena kondisi gunung api dan sebaran abu vulkanik dapat berubah.

Karena itu, keputusan terkait operasional penerbangan tetap akan disesuaikan dengan hasil asesmen dan perkembangan kondisi di lapangan.

Langkah tersebut juga menjadi bagian dari prinsip keselamatan penerbangan. Pembukaan kembali bandara bukan berarti pemantauan dihentikan, melainkan operasional tetap berjalan dengan kesiapsiagaan terhadap potensi perubahan kondisi.

Maya menegaskan bahwa keselamatan dan keamanan penumpang tetap menjadi prioritas dalam proses pemulihan.

Gangguan akibat erupsi Gunung Anak Krakatau memberikan dampak besar terhadap mobilitas udara nasional.

Dalam periode 5-8 September 2026, sebanyak 4.174 penerbangan terdampak, sementara perjalanan 455.754 penumpang mengalami gangguan.

Bandara Soekarno-Hatta menjadi salah satu titik dengan dampak operasional paling signifikan.

Namun, setelah dilakukan pemeriksaan dan asesmen keselamatan, operasional bandara kembali dipulihkan secara bertahap.

Kini, seluruh bandara InJourney Airports yang sempat terdampak telah kembali beroperasi penuh.

Meski demikian, fase pemulihan masih menjadi perhatian untuk memastikan jadwal penerbangan dan mobilitas penumpang kembali berjalan normal.

Pengalaman tersebut juga menunjukkan pentingnya kesiapsiagaan jaringan transportasi ketika terjadi gangguan akibat aktivitas gunung api.

Dengan mengalihkan penerbangan ke bandara alternatif, menyediakan konektivitas transportasi darat, serta memberikan layanan pemulihan kepada penumpang, InJourney berupaya menjaga mobilitas masyarakat selama kondisi darurat.

Sementara itu, pemantauan aktivitas Gunung Anak Krakatau dan ruang udara terus dilakukan bersama otoritas terkait.

Operasional penerbangan selanjutnya tetap akan menyesuaikan kondisi keselamatan berdasarkan hasil pemantauan dan asesmen. (*/stch/dda)

Berita Sebelumnya
Warga Binaan Lapas Cilacap Sekolah Lagi

Warga Binaan Lapas Cilacap yang Putus Sekolah Kejar Ijazah Lewat Program Kesetaraan