Banyumas Ekspres
Dark ModeLight Mode

Amerika Serikat dan China Capai Kesepakatan Gencatan Senjata Perang Dagang

Amerika serikat (as) dan china akhirnya menyepakati kerangka kerja gencatan senjata terkait pembatasan ekspor mineral tanah jarang dari chinaAmerika serikat (as) dan china akhirnya menyepakati kerangka kerja gencatan senjata terkait pembatasan ekspor mineral tanah jarang dari china
Amerika Serikat (AS) dan China akhirnya menyepakati kerangka kerja gencatan senjata terkait pembatasan ekspor mineral tanah jarang dari China

BANYUMASEKSPRES.ID, Amerika Serikat (AS) dan China akhirnya menyepakati kerangka kerja gencatan senjata terkait pembatasan ekspor mineral tanah jarang dari China. Meski begitu, tanda-tanda meredanya perang dagang berkepanjangan antara kedua negara adidaya ini belum sepenuhnya terlihat jelas.

Negosiasi bilateral yang berlangsung selama dua hari di London menghasilkan kesepakatan yang lebih komprehensif dibanding pertemuan sebelumnya di Jenewa. Menteri Perdagangan AS, Howard Lutnick, menegaskan bahwa kesepakatan kali ini memiliki detail yang lebih menyeluruh.

“Kesepakatan ini jauh lebih mendalam daripada yang kami capai di Jenewa bulan lalu,” ujar Lutnick.

Dalam beberapa tahun terakhir, konflik perdagangan AS-China telah memanas, ditandai dengan saling lempar tarif impor tinggi yang nilainya bahkan mencapai tiga digit. Kebijakan ini berdampak luas, mulai dari pelemahan pasar global hingga gangguan rantai pasok internasional.

Dikutip dari Reuters pada Rabu (11/6/2026), perjanjian yang tercapai di Jenewa sebelumnya dianggap belum solid karena China tetap menerapkan pembatasan ekspor terhadap mineral penting. Langkah tersebut memicu respons keras dari Presiden AS saat itu, Donald Trump, yang kemudian membatasi ekspor sejumlah produk strategis, termasuk perangkat lunak desain semikonduktor, pesawat, dan barang-barang industri lainnya.

Dalam kesepakatan terbaru yang difasilitasi di London, Lutnick menyebutkan bahwa pembatasan ekspor mineral tanah jarang dan komponen magnetik dari China akan dicabut. Sebagai bagian dari perjanjian yang berimbang, AS juga akan mencabut pembatasan ekspor terhadap sejumlah produk tertentu, meski Lutnick tidak memerinci secara spesifik barang-barang apa saja yang akan terdampak.

“Dan jika disetujui, kami akan mengimplementasikan kerangka kerja tersebut,” tegas Lutnick, seraya menjelaskan bahwa dokumen perjanjian akan diajukan kepada masing-masing presiden negara untuk memperoleh persetujuan resmi.

Langkah ini menandai perkembangan penting di tengah ketegangan dagang yang telah berlangsung selama lebih dari satu dekade
Langkah ini menandai perkembangan penting di tengah ketegangan dagang yang telah berlangsung selama lebih dari satu dekade

Langkah ini menandai perkembangan penting di tengah ketegangan dagang yang telah berlangsung selama lebih dari satu dekade. Diketahui, perang tarif yang silih berganti telah mengakibatkan kekacauan logistik global, menyebabkan stagnasi di sejumlah pelabuhan utama dunia, serta memukul pelaku industri dengan biaya operasional yang meningkat signifikan.

Kebijakan tarif Presiden AS Donald Trump yang berubah-ubah turut memperburuk situasi. Strategi perdagangan agresif tersebut bukan hanya menciptakan kebingungan di pasar, tetapi juga menyebabkan kerugian besar bagi sejumlah perusahaan yang terdampak langsung oleh fluktuasi tarif dan hambatan ekspor-impor yang tidak stabil.

Tak hanya itu, dampak dari konflik dagang ini juga terasa di tingkat makroekonomi global. Pada hari Selasa, Bank Dunia mengumumkan pemangkasan proyeksi pertumbuhan ekonomi global tahun 2025 sebesar 0,4 poin persentase, menjadi hanya 2,3%. Menurut lembaga tersebut, tingginya tarif serta meningkatnya ketidakpastian perdagangan menjadi faktor utama yang menekan laju pemulihan ekonomi.

“Tarif yang lebih tinggi dan ketidakpastian yang meningkat menimbulkan hambatan signifikan bagi ekonomi secara keseluruhan,” ungkap pernyataan resmi Bank Dunia yang dikutip dalam laporan terbaru mereka.

Sementara itu, meski kesepakatan antara AS dan China belum sepenuhnya menyelesaikan akar persoalan, langkah menuju pembukaan kembali ekspor mineral tanah jarang memberikan harapan bagi stabilitas ekonomi dan industri global. Pasalnya, tanah jarang merupakan bahan baku vital dalam produksi teknologi tinggi, termasuk kendaraan listrik, turbin angin, serta perangkat elektronik konsumen.

China diketahui merupakan pemasok dominan mineral tanah jarang di dunia, sehingga kebijakan ekspor dari negara tersebut sangat menentukan stabilitas pasokan global. Ketika ekspor komoditas ini dibatasi, negara-negara industri maju mengalami kesulitan dalam menjaga kelangsungan produksinya.

Sebaliknya, AS sebagai negara dengan industri teknologi yang sangat bergantung pada pasokan bahan mentah dari luar negeri, juga memiliki kepentingan strategis dalam memastikan aliran impor tetap stabil dan terjangkau. Maka dari itu, perjanjian ini tak hanya bernilai ekonomi, tetapi juga strategis secara geopolitik.

Di sisi lain, dunia usaha dan pelaku industri internasional kini menanti tindak lanjut konkret dari kesepakatan tersebut. Implementasi dan kejelasan aturan main akan menjadi penentu seberapa efektif perjanjian ini dalam meredakan ketegangan dan membangkitkan kembali optimisme pasar.

Seiring dengan itu, pemulihan arus perdagangan internasional akan membutuhkan waktu dan konsistensi kebijakan dari kedua belah pihak. Namun, pencapaian kesepakatan di London menjadi sinyal awal bahwa dialog masih menjadi jalan utama untuk meredakan perselisihan ekonomi berskala global. (WAN)

Berita Sebelumnya
Investor kripto tembus 14 juta orang

Investor Kripto Tembus 14,1 Juta, Transaksi April 2025 Capai Rp35,6 Triliun: Indonesia Diprediksi Jadi Pusat Aset Digital Asia

Berita Selanjutnya
Presiden dikabarkan akan jadi saksi nikah

Pernikahan Al Ghazali dan Alyssa Daguise Digelar 3 Hari, Presiden Prabowo Disebut akan Jadi Saksi